Share

Pesona Pelayan Tuan Muda
Pesona Pelayan Tuan Muda
Author: M I S S R A H M A

Bab 1

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-08 12:46:00

"Udahlah, Johan. Kalau lagi capek nggak usah minta-mintas jatah ke aku. Langsung keluar padahal baru dua menit main!"

Nadya tersentak kaget dan refleks merapatkan punggungnya ke dinding saat melihat majikannya ternyata sedang bercinta! 

Dan sialnya, aktivitas intim itu baru saja selesai dengan akhir yang tidak mengenakkan. Wajah Lyra yang memerah karena marah dan kesal terpampang jelas di mata wanita cantik berusia 23 tahun itu. 

"Kamu pikir aku robot? Kamu sendiri yang dari tadi minta buru-buru karena mau pergi!" ucap Johan kesal.

"Ya tapi nggak dua menit juga, Jo! Egois banget sih jadi suami," balas Lyra tak mau disalahkan begitu saja oleh sang suami.

"Aku kerja seharian, Lyra. Fisikku capek. Kalau kamu bisa lebih kooperatif dan nggak cuma diam kayak patung, mungkin hasilnya nggak akan begini."

"Oh, jadi sekarang kamu nyalahin aku?" ucap Lyra makin kesal karena Johan menyalahkannya.

Mendengarkan Lyra yang sedang marah-marah membuat Nadya menelan ludah dengan susah payah. Ini bukan pertama kalinya dia menyadari keretakan rumah tangga majikannya.

Meski Nadya baru tiga bulan bekerja di sini, namun dia tahu tentang kebiasaan Lyra yang tidak pernah benar-benar menjadi istri yang baik untuk Johan.

Wanita itu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, berbelanja, dan berkumpul dengan teman-teman sosialitanya daripada mengurus sang suami.

Rasa penasaran yang bodoh membuat Nadya sedikit mengintip dari celah sekat. Detik itu juga, napasnya seolah berhenti.

Johan sedang duduk di tepi sofa panjang tanpa mengenakan celananya sama sekali.

Bentuk tubuh pria itu begitu proporsional, pundak yang lebar, dada bidang yang naik turun karena emosi, serta perut berotot yang tercetak jelas.

Namun, pandangan Nadya tak sengaja turun lebih jauh. Bagian privasi Johan yang berukuran besar dan masih setengah tegang terpampang begitu nyata di matanya.

Nadya buru-buru memejamkan mata erat-erat, wajahnya seketika memanas hingga ke telinga.

‘Bodoh, bodoh! Kenapa malah dilihat?’ rutuk Nadya dalam hati.

Kemudian meremas ujung daster kerjanya yang longgar. Perasaan bersalah dan malu bercampur aduk, membuatnya merasa menjadi pelayan yang paling tidak tahu diri di dunia.

Di ruang tengah, perdebatan itu tampaknya telah mencapai titik buntu. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah.

"Terserahlah. Mood-ku sudah hancur," kata Lyra ketus.

Terdengar suara kain yang bergesek, menandakan wanita itu sedang merapikan pakaiannya dengan kasar.

"Lagian aku harus siap-siap sekarang. Aku mau pergi ke luar kota, ikut teman-teman arisan ke Lombok selama seminggu."

"Ke Lombok lagi? Kamu baru pulang dari Bali tiga hari yang lalu, Lyra." Johan mengembuskan napas panjang, terdengar sangat lelah menghadapi tabiat istrinya.

"Uang kamu nggak akan habis cuma buat aku ke Lombok, Johan. Sudahlah, jangan mengaturku."

Langkah kaki Lyra terdengar menjauh, menaiki anak tangga menuju lantai dua tanpa memedulikan suaminya yang masih terduduk di sofa.

Nadya menarik napas lega. Dia berpikir situasi sudah aman dan dia bisa melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil air minum.

Tenggorokannya benar-benar kering setelah menyaksikan drama barusan. Dengan langkah super pelan dan kepala tertunduk, Nadya melangkah keluar dari koridor penyekat.

Namun, dugaannya keliru.

Johan lantas beranjak dari duduknya. Pria itu berjalan menuju dapur, sama sekali tidak berniat memakai celana panjangnya terlebih dahulu.

Dia berjalan dengan angkuh dan santai, hanya mengenakan celana dalam hitam yang ketat, menonjolkan segala bentuk maskulinitasnya yang intimidatif. T

ubuhnya yang tinggi besar tegap seolah mendominasi seluruh ruangan.

Deg!

Nadya sontak hampir berteriak. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu dapur, berhadapan langsung dengan dada bidang Johan yang hanya berjarak dua jengkal dari wajahnya.

Nadya memundurkan langkahnya dengan gemetar. Kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai marmer di bawah mereka karena tidak berani menatap tubuh bagian bawah pria itu yang begitu mencolok di depan matanya.

Postur tubuh Nadya yang mungil dan agak membungkuk membuatnya terlihat sangat ringkih di hadapan Johan yang bertubuh raksasa.

Dia tampak seperti kelinci kecil yang terpojok di depan seekor predator.

Johan menghentikan langkahnya. Pria itu tidak terkejut, melainkan menatap pelayannya dengan pandangan menilai yang tajam.

Dominasi dan aura kekuasaan mutlak terpancar dari cara Johan berdiri tegak tanpa rasa malu sedikit pun meski hanya berpakaian dalam.

Johan menaikkan sebelah alisnya lalu menunduk menatap puncak kepala Nadya yang bergetar halus.

"Lagi ngapain kamu di sini? Ngintip?" tanya Johan dengan nada datarnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 66

    Pertanyaan retoris namun menohok yang dilontarkan oleh Juan menguap di udara kabin sedan mewah yang dingin.Johan terdiam sejenak.Pria itu mengalihkan pandangan matanya keluar jendela, menatap deretan pepohonan kota yang berkelebat cepat.Keheningan menyergap selama beberapa saat, membuat ketegangan tak kasat mata merayap di antara bos dan asisten pribadi tersebut.Johan menghela napasnya dengan panjang, sebuah helaan napas berat yang sarat akan pergulatan batin yang rumit."Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri, Juan," aku Johan akhirnya dengan nada suara bariton yang teramat rendah."Entah apa yang sebenarnya sedang kurasakan saat ini. Apakah ini rasa bersalah... rasa sayang... atau sekadar bentuk tanggung jawab moral karena aku telah merenggut kesucian Nadya?"Sreek!Juan yang sedang memegang kendali setir seketika menatap kaca spion tengah dengan mata yang makin menganga lebar.Kalimat terakhir dari mulut sang atasan sukses memberikan hantaman kejutan baru yang tak kalah te

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 65

    Suasana di dalam kabin mobil sedan mewah bermerek Jerman yang melaju sedang menuju restoran bintang lima itu mendadak hening mencengkeram.Johan duduk di kursi penumpang belakang dengan setelan jas yang sudah kembali rapi, sementara Juan fokus mengemudikan setir di depan."A-Apa? Jadi, Anda dengan Nadya... berselingkuh?!"Juan menganga lebar, sepasang matanya membola menatap bayangan wajah bosnya melalui kaca spion tengah.Kalimat jujur yang baru saja dilontarkan oleh Johan mengenai hubungan intim terselubungnya dengan sang pelayan rumah tangga sukses membuat asisten tepercaya itu tersentak hebat hingga hampir melupakan kendali kemudinya.Johan menghela napas kasar, mengalihkan pandangannya menatap deretan gedung pencakar langit di luar jendela mobil. "Biasa saja, Juan. Tidak perlu kaget berlebihan seperti itu."Juan langsung mengatupkan bibirnya yang sempat menganga, lalu menelan ludah pelan untuk menetralkan rasa terkejutnya. Namun, rasa penasaran yang teramat besar tak bisa ditahan

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 64

    Johan bangkit berdiri sebentar, melucuti celana bahannya hingga tubuh kekar raksasanya yang berotot penuh terekspos sempurna di balik temaram cahaya ruangan.Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu meraih kedua paha mulus Nadya, menghentakkan tubuh mungil pelayannya agar bergeser tepat ke tepian sofa kulit hitam yang dingin."Pak Johan... ahh!"Belum sempat Nadya menyelesaikan seruan kagetnya, Johan memosisikan tubuh tegapnya di antara kedua kaki Nadya, lalu dengan satu dorongan pinggul yang teramat kuat, dalam, dan presisi, dia menyatukan keintiman mereka secara utuh tanpa celah.Pakkk!Penyatuan yang mendadak dan tak berampun itu seketika membuat mata Nadya membola lebar.Suara jeritan nikmat bercampur kepuasan yang melengking tinggi lolos begitu saja dari tenggorokannya, memecah keheningan ruangan kedap suara berlantai atas tersebut.Dinding keintiman Nadya yang membasah hangat menyambut penetrasi keras milik Johan dengan remasan refleks yang sangat jepitan."Nghhh! Nadya... shi

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 63

    Kancing demi kancing daster batik yang dikenakan Nadya terlepas satu per satu di bawah kelihaian jemari Johan.Pakaian tipis itu tersingkap perlahan, meluruh jatuh menyingkapkan kehalusan bahu mulus serta dada bagian atas Nadya yang seputih porselen.Berbeda dengan perlakuan liar penuh kepanikan tadi malam di rumah, kali ini setiap inci pergerakan Johan terasa teramat syahdu, penuh perhitungan, namun menyusupkan getaran dahsyat yang membuat sekujur tubuh Nadya berdesir hebat.Johan melepaskan lumatannya di bibir Nadya secara perlahan, meninggalkan jejak saliva yang berkilauan di bawah temaramnya pencahayaan ruang kerja eksekutif itu.Pria bertubuh raksasa itu menatap lekat pada gumpalan keindahan di bawahnya.Sorot mata elangnya tidak lagi memancarkan kebuasan yang terburu-buru, melainkan sebuah pemujaan jantan yang dalam dan begitu mengintimidasi."Pak... mhh..." cicit Nadya dengan suara yang hampir tenggelam, sepasang mata bulatnya sayu menatap Johan, jemari tangannya meremas pelan

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 62

    "Jangan pernah mengatakan hal itu di depanku, Nadya!"Suara bariton Johan menggelegar rendah namun penuh penegasan mutlak.Pria itu kemudian menatap lekat-lekat wajah Nadya yang kini duduk di hadapannya di sofa kulit hitam.Sorot mata elangnya berkilat berbahaya, menolak keras bayangan bahwa pelayan mungil yang sudah menguasai seluruh pikiran dan hasratnya itu akan pergi melangkah keluar dari kehidupannya.Nadya menundukkan kepalanya sedikit, jemari halusnya saling meremas dan memainkan ujung kain jas Johan yang tergeletak di dekatnya.Rasa takut akan ancamannya sendiri beradu dengan keberanian untuk membela harga diri sang majikan."Saya bersungguh-sungguh, Pak Johan," cicit Nadya dengan suara bergetar namun sarat akan keseriusan."Tolong jangan gegabah. Saya... saya akan membantu Pak Johan mencari tahu semuanya sampai tuntas. Kita buktikan dulu semua kebusukan Ibu Lyra dan Kevin sampai kita pegang bukti yang tak terbantahkan.“Dan... andai memang ternyata semua ini hanya salah paham

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 61

    Johan melangkah makin dekat, melepaskan cengkeraman ketegangan di bahunya, lalu melemparkan jas hitam mewahnya dengan asal ke atas sofa kulit di sebelah meja kerja.Pria itu kemudian menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat yang menyiratkan puncak keletihan dari akumulasi drama busuk yang menggerogoti kehidupannya selama berbulan-bulan.Dia pun memutar tubuhnya, membelakangi jendela kaca raksasa, lalu menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Nadya."Aku ingin menyelesaikan semua sandiwara memuakkan ini secepatnya, Nadya," ucap Johan dingin."Aku sudah membuat keputusan. Dalam waktu dekat, aku akan melayangkan gugatan cerai pada Lyra. Dan aku akan mengabulkan tuntutan gono-gininya, aku akan memberikan sebagian besar uang yang dia minta agar dia angkat kaki dari hidupku."Sreeek!Sontak, sepasang mata bulat Nadya membola sempurna karena terkejut setengah mati.Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.Tanpa sadar, sifatnya yang vokal saat membela keadilan langsung meng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status