مشاركة

Piutang Kesayangan
Piutang Kesayangan
مؤلف: sherina vellyn

Ahli Waris

مؤلف: sherina vellyn
last update تاريخ النشر: 2026-06-28 16:33:17

“...hanya putrinya yang tersisa?” Alexis mengulang pernyataan asistennya dengan alis mengerut.

“Benar.” Asistennya mengangguk. “Ilyena Borneo Sanchez, dia baru lulus kuliah, sedang menikmati waktu senggang sebelum wisuda. Dia tidak ikut di dalam penerbangan yang sama karena sedang berlibur bersama teman-temannya di luar kota. Sehingga dia terselamatkan dari kecelakaan penerbangan tersebut.”

“Sudah lulus kuliah, ya?” Alexis mengangkat alisnya tertarik.

“Benar, sekitar 22 tahun. Ilyena—“

“Cukup umur untuk menikah. Siapkan mobilnya. Kita akan menagih hutang ke kediaman Sanchez sekarang.”

***

Pria tua berjas abu-abu itu membenarkan kacamatanya sekali lagi. Di balik kacamatanya, dia melirik wajah-wajah lapar yang penuh ketertarikan akan daging segar di depannya.

“Mengingat kecelakaan itu merenggut kedua orang tua, bersama dengan kedua kakak laki-lakimu... maka kau adalah satu-satunya ahli waris yang sah berdasarkan hukum yang berlaku saat ini. Kau berhak atas semua aset bergerak dan aset tidak bergerak atas nama keluarga Sanchez.” Pengacara itu bicara dengan tegas seraya menatap meja di depannya.

Ilyena menarik nafasnya dengan sedikit gemetar. Dia tahu, dirinya sudah mengulur waktu seminggu penuh dan menenggelamkan dirinya dalam duka setelah kecelakaan yang merenggut orang tua dan kedua kakak laki-lakinya.

“Pak pengacara, jika boleh aku tahu, memangnya apa saja yang akan menjadi hak Ilyena?” tanya seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan, seolah tertarik dengan apa yang disisakan untuk keponakannya tersebut.

“Memangnya asetnya masih bersih setelah kekacauan yang terjadi di perusahaan selama seminggu ini?” Seorang pria paruh baya lainnya dengan santai menyilangkan kaki. “Aku tidak yakin. Para petinggi jelas sangat panik sejak kabar kecelakaan itu diberitakan.”

Ilyena melirik paman dan bibinya yang menunjukkan mata-mata lapar. Ilyena menatap meja di depannya dengan kosong, dia masih larut dalam kesedihan, tetapi ada perusahaan yang harus dipertahankan. Banyak kehidupan lain yang harus dipertahankan.

“Itulah yang menjadi masalahnya. Ahli waris tidak hanya mewarisi aset yang ada. Tetapi juga mewarisi semua kewajiban yang berlaku, utang-utang korporasi yang masih berjalan juga perlu dilunasi.”

Pamannya langsung melepaskan silangan kakinya dan duduk condong, menunjukkan keseriusannya. “Utang? Seberapa besar?”

“Sayangnya cukup besar untuk membuat bank menyita seluruh aset keluarga ini dan menyatakan pailit dalam waktu beberapa hari ke depan.”

Belum sempat si pengacara menjawab, suara berat dari arah pintu berhasil menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu.

Alexis Genovese, berdiri di pintu ruangan tersebut dengan tenang. Matanya menyapu seluruh ruangan seolah menilai apakah tempat itu cocok untuk menjadi miliknya atau tidak. Matanya kemudian melahap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan tersebut.

Matanya terfokus pada Ilyena, gadis yang tampak murung dengan mata sembab. Dia bisa mengenalinya dengan cepat. Gadis yang dibicarakan asistennya—Asher beberapa saat yang lalu di kantornya. Alasannya ke sini.

Kemudian matanya melirik pria berjas abu-abu itu. “Ah, seorang pengacara. Beruntungnya aku datang di waktu yang tepat.”

Alexis berjalan mendekati meja yang sekarang diselimuti keheningan. Diikuti dengan semua orang yang turut bangkit dari duduk-duduk santai mereka.

“Maaf, siapa kau?” Pengacara itu mengerutkan dahinya.

“Oh, maafkan aku, betapa lancangnya aku tidak memperkenalkan diriku sendiri. Aku Alexis Genovese. Aku di sini untuk menagih sejumlah hutang yang jatuh temponya sudah lewat beberapa hari.”

Frederick menyusul di belakangnya, dia langsung menyerahkan dokumen yang dimaksud kepada pengacara keluarga Sanchez tersebut. Untuk menunjukkan bukti kepemilikan hutang keluarga Sanchez pada dirinya.

Pengacara itu menerimanya dengan raut bingung. Jelas dia tidak tahu tentang ini meski kemungkinan besar dia yang mengurus segala urusan hukum keluarga Sanchez. Pengacara tersebut membaca dokumennya dengan teliti, berusaha mencari celah hukum. Namun, ekspresi wajahnya yang justru semakin cemas menunjukkan sesuatu yang tidak beres.

“Ada apa, Pak William?” tanya Ilyena, dia jelas tak pernah menemukan pengacara keluarganya tampak begitu kebingungan.

“Ini... Aku tidak tahu jika ayahmu meminjam uang sebanyak ini kepadanya tanpa sepengatahuanku.” Pak William menatap Ilyena dengan cemas dan ragu bisa menangani ini.

Ilyena meneguk ludahnya. Dia tampak semakin kebingungan. Dia tak siap untuk ini semua. Keluarganya yang meninggalkannya seorang diri, bersama dengan aset dan hutang yang tak pernah dia pikirkan dia akan berurusan dengan hal ini sebelumnya.

Tatapannya menatap paman dan bibinya dengan pasrah dan diam, secara tak langsung meminta pertolongan pada mereka. Namun yang dia dapatkan adalah wajah yang berpaling. Beberapa saat yang lalu mereka menunjukkan rasa iba dan duka, sekarang mereka berpura-pura tak mengenalnya.

“Bagaimana, Pak Pengacara? Aku menunggumu,” ucap Alexis seraya melirik Ilyena sekali lagi, melihat bagaimana tak berdayanya gadis itu saat ini.

“Untuk saat ini aset masih dibekukan bank sehingga tak ada yang bisa kita lakukan sebelum mengurus surat keterangan ahli waris. Karena tanpa hal ini, Ilyena tidak mempunyai hak dan kehendak apa pun untuk mengurus semua aset atau hutang,” jelas Pengacara.

“Paman, bisakah bantu aku untuk ini?” tanya Ilyena, suaranya pelan, antara tidak enak dan sudah tahu jawaban apa yang akan dilontarkan pamannya selanjutnya.

“Eh, kenapa mendadak jadi meminta batuanku? Aku... Aku tidak tahu apa-apa soal ini.” Pamannya menggaruk kepalanya dengan ragu, merasa tidak enak tapi tak ingin dilibatkan untuk sesuatu yang mungkin di luar kendalinya.

Ilyena melirik bibinya, yang langsung menunduk dan memfokuskan perhatiannya pada ponsel yang ada di depannya. Membuat Ilyena merasakan kekecewaan berat pada keduanya.

Padahal selama ini, mereka sering datang pada ayahnya Ilyena untuk meminta bantuan, dan ayahnya selalu membantu mereka. Namun begitu ayahnya tidak ada, dia tetap tak menerima bantuan dari keluarganya sendiri.

Alexis memperhatikan dinamika keluarga tersebut. Bibirnya melengkung sebelah, dia rasanya pernah melihat situasi yang sama dan memahami apa yang sedang dirasakan Ilyena pada saat ini.

“Aku turut prihatin atas kecelakaan pesawat tersebut. Aku memberimu waktu beberapa hari ini untuk tidak menagih hutang saat keadaan pasti menjadi tidak stabil untukmu. Tetapi jika aku tidak bisa mendapatkan uangku sekarang, kurasa aku bisa menawarkan sebuah bantuan untukmu.” Alexis menatap Ilyena intens, ingin melihat bagaimana reaksinya.

Ilyena menatapnya balik, dia tentu akan melakukan apa saja yang disarankan. Toh, di sana masih ada pengacaranya, yang setidaknya masih akan mengurus urusan hukum keluarganya.

“Karena pertama yang harus dilakukan adalah seperti kata Pak Pengacara, harus mengurus dulu surat keterangan ahli waris... maka selanjutnya adalah pernikahan. Kau akan menikahiku,” lanjut Alexis.

Ilyena langsung mengerutkan alisnya. Jelas dia tersinggung dengan lamaran yang tiba-tiba, ajakan menikah yang seolah itu adalah hal kecil dan main-main bagi Alexis.

“Apakah kau gila?!” Ilyena membentak kaget.

Namun yang dia dapatkan selanjutnya adalah tertawa mengecek Alexis.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Piutang Kesayangan    Gadis Tak Dikenal

    Sebelum gadis tidak dikenal itu meraih rambut Ilyena yang sudah ditata sangat rapi untuk acara hari itu, tangan Alexis meraihnya lebih dulu. Bahkan melangkah maju di depan Ilyena seolah hendak melindungi gadis yang kondisinya tidak tahu apa-apa itu. Gadis tidak dikenal itu mendengus kasar sambil menatap Alexis dengan tangan sebelum berusaha menarik lengannya dar genggaman tangan Alexis. “Apa-apaan ini?” Ilyena memekik, dia mulai mencemaskan reputasinya sendiri. Ilyena melirik ke arah para tamu undangan yang sekarang menatap ke arah mereka juga. Dia mulai merasa kehilangan wajah di depan teman-temannya, dan keluarganya tentunya. Dia tidak peduli dengan orang-orang dari pihak Alexis. Tetapi ini jelas sesuatu yang memalukan. “Kenapa kau datang ke sini? Bukankah sudah kubilang jika kau tidak boleh mencampuri segala jenis urusan bisnisku?” Alexis menatap tajam balik gadis yang lengannya dia cengkeram cukup erat, menunjukkan jika ini bukan masalah yang sepele. “Ini urusan bisnis k

  • Piutang Kesayangan    Pernikahan Kilat

    “Tentu saja kita akan tidur di kamar yang sama.” Alexis menjawab dengan tenang. “Aku bisa menemanimu tidur malam ini juga jika itu yang kau inginkan.” “Aku tidak menginginkan itu,” balas Ilyena cepat, menyangkalnya segera. “Aku bertanya karena aku penasaran. Siapa tahu kau seperti orang-orang di dalam novel. Kita akan tidur di kamar terpisah setelah menikah.” Alexis mencatatnya dalam pikirannya. Jika Ilyena ternyata suka membaca genre tersebut. “Aku memikirkannya juga sebelumnya. Tidur di kamar yang sama berarti saling mempercayai. Dan itu caraku menghormati pernikahan. Menjaga kepercayaan.” Ilyena terdiam sejenak. Pria di depannya ini terdengar bijak. Tetapi dia tak ingin kagum terlalu cepat. Toh, dia masih tak tahu banyak tentangnya. Dan dalam beberapa hari ke depan, tersisa lima hari lagi untuknya mengenal pria ini sebelum benar-benar membiarkannya masuk ke kehidupannya. Tidak, sebenarnya pria ini sudah masuk dan menginvasi kehidupannya. “Kau tidak keberatan dengan oran

  • Piutang Kesayangan    Invasi

    Keheningan tercipta cukup lama setelah Ilyena menyebutkan nama itu. Ilyena mengetuk kukunya ke meja dengan tidak sabar. Bibir bawahnya tergigit dengan gelisah. “Kau tahu aku akan menghubungimu lagi—” “Jangan kabur sekarang.” Ilyena lirih, nyaris putus asa. “Aku tak tahu lagi siapa yang harus aku tanya tentang ini.” Keheningan terjadi lagi beberapa saat sebelum gadis di ujung sana menghela nafasnya. “Dari mana kau tahu nama itu?” tanyanya dengan serius. “Pria itu datang ke rumah hari ini. Ayahku meminjam uang darinya, dia menagihnya padaku. Dan aku—” Ilyena menghentikan dirinya bicara lebih banyak lanjut. “Ada apa dengannya? Kenapa namanya sangat bersih di pencarian?” Ilyena harus fokus menggali informasi. Bukan saatnya untuk curhat. “Itulah kenapa. Dia orang yang sangat berbahaya jika harus menghapus semua tentang dirinya di media. Ayahku pernah mengancam adiknya untuk tidak bermain-main dengan orang itu. Dia seorang yang berbahaya, aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang

  • Piutang Kesayangan    The Fallen Princess

    Alexis menertawakan reaksinya. Suara tawanya yang berat, terkesan agak dipaksakan membuat beberapa orang di sana terperanjat kaget. Mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapinya. Nama Alexis terdengar asing. Meski nama Genovese sendiri terdengar tidak begitu asing. Nama keluarga mafia Italia itu seperti sudah lama tidak terdengar oleh mereka. “Kenapa juga aku harus menikah denganmu? Aku tidak mengenalmu. Jangan berpikir untuk mengambil kesempatan dariku di saat seperti ini,” ancam Ilyena, dia jelas tersinggung. Alexis menghentikan tawanya, meski dia masih terlihat geli dengan reaksinya Ilyena. Dia jelas bukannya tidak mengharapkan reaksi itu. Bahkan sudah memprediksikannya. “Kau pasti mengerti apa alasanku untuk menikahinya, kan?* Alexis melirik William, memintanya menjelaskan dengan bahasanya agar bisa dimengerti Ilyena. William mengangguk singkat, dia tampaknya mulai membaca dan memahami apa yang sebenarnya diinginkan Alexis saat ini. “Jika maksudmu membantu adalah denga

  • Piutang Kesayangan    Ahli Waris

    “...hanya putrinya yang tersisa?” Alexis mengulang pernyataan asistennya dengan alis mengerut.“Benar.” Asistennya mengangguk. “Ilyena Borneo Sanchez, dia baru lulus kuliah, sedang menikmati waktu senggang sebelum wisuda. Dia tidak ikut di dalam penerbangan yang sama karena sedang berlibur bersama teman-temannya di luar kota. Sehingga dia terselamatkan dari kecelakaan penerbangan tersebut.”“Sudah lulus kuliah, ya?” Alexis mengangkat alisnya tertarik. “Benar, sekitar 22 tahun. Ilyena—““Cukup umur untuk menikah. Siapkan mobilnya. Kita akan menagih hutang ke kediaman Sanchez sekarang.”*** Pria tua berjas abu-abu itu membenarkan kacamatanya sekali lagi. Di balik kacamatanya, dia melirik wajah-wajah lapar yang penuh ketertarikan akan daging segar di depannya. “Mengingat kecelakaan itu merenggut kedua orang tua, bersama dengan kedua kakak laki-lakimu... maka kau adalah satu-satunya ahli waris yang sah berdasarkan hukum yang berlaku saat ini. Kau berhak atas semua aset bergerak

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status