Mag-log inTubuh Thalia terasa lemas, ia nyaris terjatuh, namun dengan cepat tangan Zacky melingkar sangat erat di pinggulnya.
‘Kenapa.. Kenapa Papa gak mau dengar penjelasan ku?! Apa sekarang aku membagi serendah itu?!’ air matanya membasahi pipi, merenungi setiap kata-kata Papanya yang menyayat hati.Zacky menarik tubuh Thalia secara paksa hingga punggung gadis itu menempel sempurna di dada bidangnya yang keras.Cengkeraman tangan Zacky di pinggul Thalia begitu posesif,"A-aku baik-baik saja, Zacky... Eh, Pak Zacky..." Thalia terperanjat mendengar suara Zacky di belakangnya.Jari tangannya baru saja menekan tombol hapus di layar ponsel lalu menyimpannya kembali ke dalam saku rok kerjanya.Ia berbalik perlahan, memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat gugup saat melihat Zacky sudah berdiri dekat di belakangnya. Tatapan mata pria itu tajam dan menuntut, seolah bisa membaca tiap kepanikan yang tampak jelas di wajah Thalia."Jangan bohong, Thalia," bisik Zacky rendah, suaranya nyaris tak terdengar namun penuh penekanan yang mengintimidasi. "Wajahmu tidak bisa menutupi apa pun."Thalia menghembuskan napas pelan, maju setengah langkah mendekati Zacky lalu berbisik sangat pelan dengan mata yang bergerak cemas melirik ke arah sofa, tempat Pak Joshua berada."Sumpah Pak Zacky, aku hanya gugup banget karena ada Pak Joshua di sini... Aura Pak Joshua menakutkan sekali," cicit Thalia memohon.
'Duh, kenapa orang-orang kaya ini omongannya pedas banget sih...' batin Thalia meratapi nasibnya yang seperti terjepit dari segala arah. Kata 'gangguan emosional' dan 'rumor' yang diucapkan Joshua membuat Thalia teringat kembali pada ucapan Papanya di telepon beberapa saat lalu. Pipinya terasa panas dan dadanya makin sesak. Ia meremas kuat ujung rok kerjanya di balik punggung. ‘Apa aku seburuk itu..’ cicitnya dalam hati. "Saya tahu batasannya, Pa. Papa tidak perlu khawatir hal itu," tegas Zacky dengan nada suara yang sedikit menggelap, menunjukkan pertahanan atas posisinya. "Jadi, ada tujuan apa Papa datang ke sini hari ini?" Joshua memalingkan pandangannya dari Thalia dan berjalan menuju sofa eksekutif di sudut ruangan. Pria tua itu duduk seraya menyilangkan kakinya. "Papa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan direksi utama di lantai bawah," ujar Joshua memulai topik
"E-enggak, gak ada siapa-siapa kok, Pak... Cuma... Cuma pesan promosi dari operator!" alibi Thalia cepat, suaranya melengking tinggi karena sangat gugup."Jangan berbohong, Thalia," desis Zacky rendah. Kakinya maju satu langkah mengikis jarak, tangannya terulur hendak meraih ponsel di tangan Thalia. "Tunjukkan pesannya pada saya.""J-jangan, Pak! Ini beneran cuma promosi—"Belum sempat Thalia menyembunyikan ponselnya, suara langkah kaki yang tegap dan berwibawa terdengar dari balik koridor di luar ruangan, disusul suara ketukan pintu yang cukup keras dan tegas.Tok! Tok! Tok!Suara selot pintu otomatis terbuka dari luar menandakan seseorang di luar sama mempunyai akses eksekutif untuk masuk, setelah menekan PIN akses ruangan itu terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas mahal berwarna abu-abu gelap melangkah masuk. Tahlia memperhatikan penampilannya, rambut pria itu yang sediki
"Emmph... Nnggh..." Thalia mendesah pelan, menikmati kehangatan ciuman Zacky yang begitu lembut di bibirnya.Namun, tepat saat lumatan bibir Zacky kian memagut lebih dalam, suara dering nyaring dari sebuah ponsel tiba-tiba memecah keheningan ruangan.Jantung Thalia terasa melompat karena terlalu terbuai ciuman Zacky. Dengan refleks dan panik yang luar biasa, Thalia buru-buru menarik bibirnya dari ciuman Zacky dan mendorong dada bidang pria itu.”Pak Zacky, telepon! Ponsel... Ponsel saya berdering lagi?!" cicit Thalia, matanya membelalak lebar seraya dengan tergesa-gesa mengambil ponselnya di atas meja.Namun, layar ponsel Thalia tampak gelap gulita, tidak ada panggilan masuk sama sekali.Thalia mengedipkan matanya bingung. "Eh? Bukan punya saya?"Zacky menghela napas pendek, mengurai dekapan tangannya di bahu Thalia dengan raut wajah sedikit bertekuk karena interupsi yang tak diinginkan itu. Pria itu merogoh saku
Tubuh Thalia terasa lemas, ia nyaris terjatuh, namun dengan cepat tangan Zacky melingkar sangat erat di pinggulnya. ‘Kenapa.. Kenapa Papa gak mau dengar penjelasan ku?! Apa sekarang aku membagi serendah itu?!’ air matanya membasahi pipi, merenungi setiap kata-kata Papanya yang menyayat hati. Zacky menarik tubuh Thalia secara paksa hingga punggung gadis itu menempel sempurna di dada bidangnya yang keras. Cengkeraman tangan Zacky di pinggul Thalia begitu posesif, mengunci gadis itu tanpa celah.Pria itu memutar perlahan tubuh Thalia hingga wajah gadis itu berdiri tertunduk di hadapannya. Manik mata Zacky menatap tajam ke layar ponsel dalam dekapan Thalia, sementara rahangnya mengeras mendengar hinaan tentang status sosial yang tertuju pada gadis ituTangan Zacky terulur, mencakup pipi Thalia, menghapus air mata di pipi gadis itu. Perlahan mengangkat kepala Thalia yang tertunduk hingga Zacky bisa melihat mata sembab gadis itu.
Mendengar nama Arjuna disebut dari speaker ponsel, Thalia bisa merasakan aura di sampingnya berubah menjadi sangat mencekam. Rahang Zacky yang berdiri di sampingnya seketika mengeras kaku, manik matanya menggelap tajam memancarkan kilat amarah yang sangat jelas.Thalia menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab.[Pa... Thalia dan Arjuna memang sudah putus. Kami sudah mengakhiri hubungan itu sejak beberapa bulan yang lalu.][Putus?! Tanpa alasan yang jelas?!] suara nada bicara sang Papa mendadak meninggi, menunjukkan rasa terkejut sekaligus kekecewaan yang besar dari seberang sana.[Arjuna tadi menelepon Papa! Dia bicara panjang lebar sama Papa!]Thalia tersentak. Matanya membelalak tak percaya. [Arjuna... menelepon Papa? Untuk apa?!][Iya! Dia cerita semuanya!] tegas Papanya.[Arjuna bilang kalian putus cuma karena salah paham kecil. Dia cerita kalau kamu marah besar gara-gar







