Share

Chapter 02

Penulis: SereiaAlvenna_
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 20:19:34

Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. 

Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jika hari ini adalah hari yang akan membuat seluruh kehidupannya berubah.

Pintu di ujung sana perlahan terbuka. Cahaya mulai masuk dan para tamu undangan sibuk mencari tahu sosok cantik yang akan menjadi pengantin hari ini. 

Pintu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan sosok gadis yang berbalut gaun indah dengan tangan menggandeng sang Ayah, Evander. Untuk pertama kali, Rosélia menyaksikan senyum di wajah Ayahnya untuknya, anggap saja begitu.

Keduanya berjalan ke arah altar, pelan namun pasti. Maverick di ujung sana menyipitkan matanya saat melihat ada yang salah di balik wedding veil. Bukan kekasihnya, bukan Valerie yang Evander antarkan.

Tiba-tiba ada seorang pria mendekat pada Maverick. Dia membisikkan sesuatu yang berhasil membuat kedua bola mata Maverick membulat. Tubuhnya bergetar kecil dan kedua tangannya mengepal kuat. Namun, dia paksakan senyum itu tetap mengembang untuk hindari kecurigaan tamu undangan.

Mulai ada suara bisik-bisik ringan yan tersamarkan oleh suara musik. 

“Cantik sekali…” Beberapa orang di antara tamu undangan terkagum-kagum dengan kecantikan Rosélia.

“Loh, bukannya itu seniman yang punya banyak pencapaian itu? Rosélia, kan?” Mereka sebagaian familiar dengan pengantin wanita. Tidak heran, karyanya dimana-mana. Selain itu, Rosélia kerap mengisi seminar, mungkin beberapa dari mereka pernah jadi pesertanya.

“Tunggu dulu, bukan Valerie? Aku pikir Valerie yang selama ini sudah menjalin hubungan dengan Maverick. Kenapa jadi Rosélia?” Begitulah kurang lebih bisik-bisik yang terdengar ditengah musik sakral yang menggema.

Begitu tiba di depan altar, Evander menyerahkan Rosélia pada Maverick kemudian Maverick terima dengan baik.

Berbagai rangkaian acara dilakukan. Hingga tiba saatnya pada momen janji pernikahan. Baik Rosélia maupun Maverick sama-sama mengikuti ucapan pendeta dimana mereka berjanji di hadapan Tuhan bahwa keduanya menerima masing-masing sebagai pasangan, berjanji untuk mengasihi, menyayangi dalam suka maupun duka serta tetap menjadi satu-satunya. 

Tak lupa, mereka saling bertukar cincin, hingga pemberkatan pernikahan disampaikan oleh sang pendeta.

"Apa yang telah disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Mulai detik ini saya meneguhkan bahwa kalian berdua adalah sepasang suami istri yang sah. Tuhan memberkati dan melindungimu dari sekarang sampai selama-lamanya. Amin." 

Tatapan tajam Maverick hampir menghunus jantung Rosélia. Manik itu menyimpan rasa kesal dan benci yang begitu mendalam. Rosélia juga menatap Maverick, namun lebih tenang daripada pria itu. 

Pemberkatan selesai, pendeta kembali bersuara. "Mempelai pria diperbolehkan mencium mempelai wanita," ucapnya.

Saat itulah Maverick harus siap dengan kenyataan jika dia akan melihat wajah Rosélia lebih jelas. Tangan pria itu terangkat untuk menyibak wedding veil. Sementara pandangan Rosélia teramat sendu menunduk tajam tak berani mendongak.

"Angkat wajahmu," bisik Maverick cukup untuk didengar Rosélia. 

Gadis itu menunduk bukan hanya karena malu, tapi juga berusaha menyembunyikan genangan air di matanya. Namun, akhirnya Roselia mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Maverick.

Maverick perlahan mengikis jarak di antara mereka. Tangan kirinya melingkar sempurna di pinggang Roselia sementara tangan kanannya menelusup di antara leher dan pipinya. Tubuh Roselia meremang dan agak terlonjak dengan sentuhan itu. Namun, dia berusaha untuk menormalkan ekspresinya.

Bilah ranum itu perlahan saling mendekat. Riuh tamu undangan menjadi pertanda jika keduanya sudah bersentuhan. Sedikit lama, mata mereka saling memandang dan jauh dari dugaan Rosélia, Maverick menggigit bibirnya cukup keras hingga membuat gadis itu mengaduh.

Rosélia spontan mendorong dada Maverick meminta penyatuan itu dilepaskan. Setelahnya Roselia tersenyum pada tamu undangan seolah menandakan jika dirinya bahagia.

*

Pesta pernikahan dilakukan dengan meriah setelahnya seperti berdansa, menikmati jamuan dan sebagainya. Roselia tak menyangka, ternyata venue pernikahan yang dia dekor sedemikian rupa adalah untuknya. Ditatapnya hamparan manusia yang ada di sekitarnya. Dia tak sepenuhnya kenal, tapi dia yakin semua adalah orang penting.

"Selamat ya, atas pernikahan kalian," salah satu kolega bisnis Evander dan beberapa pimpinan perusahaan kenalan Maverick datang memberikan ucapan selamat. Roselia tetap berusaha tenang, elegan dan berbicara sesopan mungkin.

"Terima kasih atas kedatangan Anda, Nyonya. Selamat menikmati jamuan dan juga dekorasi yang memanjakan Anda, Nyonya." Setelahnya, Roselia melepaskan jabatan tangan mereka. Seperti itu seterusnya. Di sampingnya Maverick juga melakukan hal yang sama. Tersenyum, seolah ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.

Mereka juga beberapa kali melakukan sesi foto dengan tamu yang menginginkannya. Dan khusus tamu VIP dan VVIP mereka melakukan fotor resmi.

Seorang pria seusia Evander datang juga untuk memberikan ucapan selamat.  Kali ini, Roselia mengenalinya. Damien Rothwel, seorang Ketua Dewan datang langsung menghadiri pernikahan mereka sudah menggambarkan seberapa berpengaruhnya kedua keluarga yang hari ini telah dipersatukan itu.

"Selamat atas pernikahan kalian, Tuan dan Nyonya Ashbourne," ucapnya dengan ramah.

"Terima kasih banyak, Tuan Damien. Suatu kehormatan dihadiri Anda secara langsung di pernikahan kami," jawab Roselia mengambil alih.

"Bukan hal yang istimewa," kekehnya.

Pembicaraan mereka lebih lama dari yang dibayangkan. Bahkan Maverick mulai membicarakan rencananya untuk membuat sebuah resort di sekitar pantai.

"Oh itu sangat menarik. Jangan lupakan sempadan pantainya, Tuan Ashbourne," kekehnya.

"Ah tentu saja saya sudah berkonsultasi dan sudah mendapatkan jarak aman untuk membangun resort di sana. Lokasinya sudah strategis untuk menarik wisatawan internasional," jawabnya.

"Betul, lokasi sudah sangat mendukung karena orang tidak datang hanya untuk tidur di kamar mahal, tapi mereka juga membeli pengalaman," timpal Roselia.

Ketua Dewan mengalihkan atensinya, dia tertarik dengan pembicaraan Roselia. "Seperti?" tanya Damien.

"Untuk pembangunan, kita juga harus memperhatikan pencahayaan terutama cahaya matahari, aroma sampai karya seni di lobby yang tentu saja akan mempengaruhi perasaan tamu." Roselia menjelaskan dengan detail.

"Tim desain menginginkan nuansa luxury seperti resort-resort di luar negeri," timpal Maverick.

"Kalau begitu, apa yang membuat resortmu berbeda dengan yang lain? Menurutku memanfaatkan seni dan budaya lokal akan sangat menarik. Para wisatawan akan penasaran dan mereka datang. Setelah datang, mereka merasa nyaman dan mereka akan datang untuk yang kedua kali dan seterusnya. Lokasi di tepi pantai juga bisa menjadi ide desain memadukan seni budaya lokal dengan elemen alam yang ada di pantai."

Damien tersenyum terlihat sangat tertarik dengan apa yang diucapkan Roselia. "Nyonya Ashbourne ternyata sangat memahami seni modern," ucapnya.

"Hanya kebetulan saya bekerja di bidang itu," jawab Roselia.

"Dan juga rendah hati." Damien kembali menjawab. Pembicaraan mereka diakhiri dengan tawa mereka yang seakan puas dengan pembahasannya.

“Tuan Damien, terima kasih atas kehadirannya.” Edric datang dari arah belakang mereka, menjabat tangan Damien.

“Edric, kamu beruntung sekali mendapatkan menantu sepertinya. Selain cantik, dia juga kompeten dan cakap,” pujinya. 

Edrick tersenyum berterima kasih kembali atas pujiannya. 

“Oke, Edric, Tuan dan Nyonya Ashbourne maaf aku tidak akan lama. Lain waktu kita berbincang lagi, ya,” pamitnya.

Dalam hatinya, Edrick merasa puas. Dia memiliki jalan untuk mewujudkan keinginannya.

“Rosélia, lain kali kamu ikut denganku ke pertemuan-pertemuan,” ucap Edric.

Rosélia bingung. “Untuk apa?”

“Ingat, kamu di sini menggantikan posisi Valerie. Jika Valerie yang ada di sini sekarang, dia akan langsung mengiyakan tanpa menolak. Jadi, jika kamu tak ingin aku mengadu pada Evander, patuhi saja keinginanku,” ucap Edric.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 22

    Seluruh acara yang dihadiri oleh pemilik Ashbourne Holdings tak pernah luput dari sorotan media, tak terkecuali malam ini. Di tempat yang sama, Morgan's Eatery menjadi tempat acara mereka malam ini. Hampir seluruh meja telah terisi. Tak ada orang lain malam ini, hanya mereka dan beberapa media yang tentu saja meliput jalannya acara. Morgan's Eatery kali ini dikhususkan untuk mereka. Dengan iringan musik jazz modern, membuat suasana terasa lebih glamor.Dengan balutan dress yang disiapkan Maverick, Rosélia terlihat begitu elegan. Apalagi rambut yang disanggul dengan menyisakan sedikit rambut di bagian kiri dan kanan sebagai poni membuat gadis itu berkali lipat lebih cantik."Nyonya Ashbourne," sapa seorang wanita yang Rosélia tahu adalah istri dari guru besar di salah satu kampus ternama di pusat kota.Tangan Rosélia yang semula melingkar di lengan besar Maverick spontan terlepas perlan untuk membalas uluran tangan dari wanita itu. Fokusnya dia alihkan sepenuhnya dan membiarkan Maveri

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 21

    Seluruh penjuru kota digemparkan dengan berita baru yang baru saja beredar pagi ini. Jika hari kemarin publik menggunjingkan kekejaman seorang CEO Ashbourne Holdings, maka hari ini mereka memujanya penuh damba.Sebuah swalayan yang berisi ibu-ibu sibuk memuji sikap manis Maverick yang beredar di internet, siswa sekolah maupun mahasiswi mendamba pasangan seperti Maverick dan para petinggi juga memuji keluarga Ashbourne yang mendidik anaknya hingga seperti sekarang.Semua pujian itu tak hanya berlaku di kehidupan nyata, tapi juga media daring. Semuanya membicarakan makan malam romantis yang dilakukan Maverick dan Rosélia."Mereka dengan mudah mempercayainya,” decih Rosélia. Kegiatannya tadi terhenti saat begitu banyak notifikasi yang mengganggunya. Notifikasi itu tak berhenti barang sedetikpun sehingga Rosélia terpaksa harus melihatnya.“Inilah alasan kenapa dia mengajakku makan malam. Membersihkan namanya, huh?” sambungnya. Rosélia sebenarnya juga tak terlalu ambil pusing atau peduli

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 20

    Langkahnya begitu cepat. Amarah melingkupi seorang pria paruh baya. Pintu dibuka dengan kencang begitu dia tiba di tempat tujuannya. "Maverick!" teriaknya. Hal itu membuat Maverick yang sedang memeriksa beberapa dokumen menoleh pada sumber suara. Dia berdiri menghampiri ayahnya. Maverick membuang napas dalam. Edrick melayangkan satu tamparan di pipi Maverick. Maverict tak melawan atau sekadar bertanya. Dia tahu penyebabnya dan dia sudah memprediksi hal ini sejak awal. "Kamu tahu ini adalah masa-masa penting Ayah, tapi kamu malah membuat ulah?!" teriak Edric. "Aku tak sengaja melakukannya," jawab Maverick hanya untuk membuat ini cepat berlalu. "Berita menyebar di mana-mana tentang kamu yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tentang luka di sudut bibir Roselia. Dan kamu tahu hal ini sangat berpengaruh terhadap pencalonanku. Hasil survei hari ini menunjukkan penurunan pendukungku!" Maverick hanya diam menunggu Ayahnya menyelesaikan ucapannya dan menuntaskan amarahnya. J

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 19

    "Nyonya, bibirmu…" Mbok Rumi menggantungkan ucapannya menunggu Rosélia yang mengonfirmasi sendiri apa yang terjadi dengan bibirnya.Tangan Rosélia segera terangkat memegang luka sobek di sudut bibirnya. "Ah tak apa. Aku tak sengaja terjatuh," jawabnya diiringi dengan kekehan.Di tengah pembicaraan di pagi hari itu, Maverick datang dengan tangannya yang sibuk memasang dasi. Sementara itu pandangannya lurus pada Rosélia sebelum mereka pada akhirnya mendudukkan diri di kursi makan. Sarapan sudah tersaji seperti biasa."Sebentar," ucap Mbok Rumi yang entah apa maksudnya, kemudian wanita paruh baya itu berlalu dari sana. Tak lama sampai Mbok Rumi kembali dengan kotak P3K di tangannya. "Biar saya obati, Nyonya. Akan infeksi jika tidak diobati." Mbok Rumi mengambil tempat di samping Rosélia. Gadis itu tak menolak, dia hanya diam menahan sakit saat cotton bud dengan salep di ujungnya menyentuh lukanya. Desisan kecil terdengar membuat Mbok Rumi sesekali berhenti mengoleskan salep."Tahan, Nyo

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 18

    Tidak bisa dipungkiri, Maverick sebagai pria tentu saja membutuhkan kepuasan batin. Selama bertahun-tahun menjalin kasih dengan Valerie, dia sama sekali tak bisa merasakannya. Paling jauh hanya sebuah ciuman yang akan langsung dihentikan gadis itu jika sudah terlalu panas.Maverick sama sekali tak pernah membayangkan jika untuk pertama kalinya dia justru melakukannya dengan Rosélia , kakak dari sang kekasih yang saat ini berstatus sebagai istri pengganti. Namun, Maverick juga tak munafik. Kenikmatan, kenyamanan dan kepuasan dia dapatkan tadi malam.Kepingan kejadian malam tadi terus saja mengganggu pikirannya. Fokusnya ketika bekerja teralihkan, bahkan dia sama sekali tak mendengar panggilan Ken yang sudah berseru beberapa kali sejak tadi."Mave!" sentak Ken pada akhirnya.Mendengar suara dengan keras dan nada tinggi milik Ken, akhirnya Maverick kembali pada kesadarannya. Dia berdehem, tangannya terangkat mengusap tengkuknya kemudian menjawab Ken. "Apa?" Singkat, padat dan cukup membu

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 17

    Masalah perusahaan, Valerie yang tak kunjung memberikan tanda-tanda akan sadar, ditambah agenda kampanye yang kadang datang mendadak membuat Maverick kewalahan.Sebagai pelampiasan dari tekanan itu, hampir setiap malam Maverick pulang larut dalam keadaan mabuk.Jika biasanya dia masih memegang beberapa persen kesadaran, maka malam ini berbeda. Lelah fisik dan pikirannya membuat pria itu tanpa sadar meneguk banyak sekali alkohol hingga mengikis habis kesadarannya.Pintu terbuka setelah Ken menggedornya beberapa kali. Pria berkulit putih itu bahkan melupakan bell dan fungsinya. Namun, dia masih menggenggam sedikit kesadaran dibandingkan Maverick. Rosélia segera menghampiri pintu masuk saat orang di luar sana tak kunjung berhenti. Beruntung dia belum sempat terlelap. Dia sedang menikmati beberapa teguk alkohol untuk menenangkan pikirannya.“Astaga!” ucap Rosélia terkejut saat tubuh besar Maverick terhuyung ke arahnya karena Ken tak sengaja melepaskannya.“Ah dia mabuk, aku hanya mengant

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status