Share

Chapter 03

Penulis: SereiaAlvenna_
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 09:39:08

Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi.

Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan pemerintahan satu persatu mulai pamit. Hari semakin larut membuat udara dingin dengan gampang menusuk kulit.

“Ayo cepat, Yah. Kasihan Valerie sendirian di sana,” ucap Vivian panik. Setelah sekian lama dia mengabaikan putrinya demi reputasi keluarga, sekarang rasa paniknya pecah menjadi tangisan kecil.

“Iya Ayah tahu. Ayo kita ke sana sama-sama.” Saat itu, di bridal room hanya ada mereka dan Rosélia. Gadis itu terlihat lemah dan sangat pucat.

Rosélia menumpukan badannya pada salah satu meja di sana saat dirasa tubuhnya hendak limbung. Gadis itu memegang kepalanya, memijatnya ringan berharap rasa peningnya bisa sedikit berkurang.

“Ayah.” Panggilan Rosélia tak hanya menarik atensi Evander, tapi juga Viviane. Pandangannya berubah tajam pada Rosélia. “Kepalaku sedikit pening,” ucapnya. Bersamaan dengan selesainya ucapan Rosélia, darah segar dari hidungnya kembali menetes, kali ini lebih banyak dari sebelumnya.

“Rosélia aku tahu kamu hanya ingin menarik perhatian Ayahmu. Tapi waktunya tidak tepat,” ucap Viviane. Bahkan di saat dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana darah itu menetes tak ada henti. “Valerie lebih membutuhkan Ayahnya sekarang.  Entah bagaimana keadaannya saat ini, dan kita tidak ada di sana,” lirihnya sambil memohon pada sang suami.

“Sudahlah, biarkan saja Rosélia. Dia tidak apa-apa. Lebih baik kita segera ke rumah sakit sekarang,” jawab Evander. Sepasang manik legam itu menatap tajam Rosélia. “Kamu sudah dewasa! Urus dirimu sendiri!” Setelah mengatakannya, hanya sepi yang hadir. Rosélia kembali ditinggalkan dalam sepi dengan keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja.

Saat kesadarannya terkikis, pintu bride room terbuka dengan kasar. Sosok berbadan tinggi, berahang tegas dan masih memakai setelah tuxedo itu berdiri di ambang pintu. Rosélia memaksakan dirinya untuk menengadah, melihat siapa yang datang dengan harapan bisa dia mintai pertolongan.

“Kenapa kamu lakukan ini?” Ucapannya pelan namun menusuk. Pria itu, Maverick mendekati Rosélia yang masih berpegangan pada meja. “Kenapa kamu dengan mudah menerima pernikahan ini?!” Bersamaan dengan teriakan Maverick, suara pecahan vas bunga menghantam indera pendengarannya. Pria itu pelakunya, dengan seluruh emosi, Maverick melempar sembarang vas bunga yang ada di atas meja. 

Rosélia terlonjak, bukan hanya terkejut, tapi serpihan vas itu tak sengaja sedikit menggores kaki jenjangnya. Dia meringis ngilu sambil tetap menahan keseimbangan badannya.

“Jawab aku, Rosélia!” Suara itu semakin meninggi. Telinga Rosélia berdengung dibuatnya.

“Aku sudah berusaha semampuku untuk menolak. Tapi mereka memaksaku. Ini hanya sementara,” jawab Rosélia.

“Cih, aku tahu bagaimana antusiasnya mereka menunggu pernikahan ini. Mana mungkin mereka mengambil keputusan separah menggantikan Valerie dengan dirimu,” jawab Maverick cukup menusuk.

“Valerie pingsan saat hendak masuk venue. Semua panik dan keluarga kita tidak ingin mengambil resiko membatalkan acara. Semua tamu sudah datang termasuk tamu VIP dan VVIP. Aku sudah berusaha menolak sebisaku, tapi mereka tetap memaksa,” jelasnya. 

Saking bingungnya, air mata Rosélia bahkan sudah menetes deras di pipinya. Bukan hanya bingung, tapi gadis itu juga menahan sakit di kepala dan kakinya.

“Dan kenapa Valerie bisa pingsan?” Maverick semakin marah saat mengingat jika Valerie berada di rumah sakit saat ini.

Rosélia menggeleng karena memang dia sama sekali tidak tahu. “Dia tiba-tiba tak sadarkan diri saat hendak masuk ke venue,” jawabnya.

“Aarghhh.” Maverick mengacak rambutnya. Satu vas bunga kembali menjadi korban sekaligus keributan terakhir di bride room sebelum pria itu melangkah dengan cepat keluar dari sana.

Tak ada rasa iba atau sekedar rasa kemanusiaan untuk menolong Rosélia. Padahal Maverick melihat sendiri bagaimana keadaan gadis itu.

Dengan terpaksa, Rosélia berjalan sendirian, keluar dari sana. Tujuannya juga rumah sakit. Peningnya agak lebih parah dari biasanya, dia harus menemui dokter untuk berkonsultasi atau sekedar meminta vitamin.

“Nyonya, Anda baik-baik saja?” Salah satu staf bertanya. Mungkin dia melihat keadaan Rosélia yang tidak baik-baik saja, pun gadis itu berjalan tertatih.

“Kepalaku agak pening.. Boleh tolong papah aku sampai depan,” pinta Rosélia. 

“Tentu saja, tunggu sebentar saya akan menyimpan ini terlebih dulu,” jawabnya sambil menunjukan sebuah nampan yang dia bawa. Tak lama, hanya sekitar satu menit sampai staf wanita itu kembali ke sana.

“Silahkan, Nyonya.” Semesta masih berbaik hati mengirimkan penolong untuknya.

*

Keheningan menjadi ciri khas dari tempat ini. Aroma obat-obatan dan ruangan serba putih semakin menunjukkan di mana mereka berada saat ini. Di depan brankar di mana Valerie terbaring lemah, mata terpejam dan wajah yang pucat.

Tuan dan Nyonya Deveraux, Kakek Nenek Valerie, dan Maverick kecuali orang tua Maverick yang tak bisa datang karena ada jadwal lain. Mereka harap-harap cemas menunggu kesadaran sang kesayangan.

“Tuan Evander, bisa bicara sebentar… tentang kondisi putri Anda.” Seorang dokter seumurannya memanggil di tengah keheningan mereka. 

Evander dan Viviane mengikuti langkah pria ber-snelly putih itu untuk berbicara di luar ruangan agar Valerie tidak merasa terganggu.

“Setelah pemeriksaan, saya menduga hal ini terjadi karena dia terlambat mengonsumsi obatnya. Apakah belakangan dia berhenti meminumnya?” ujar Dokter itu.

“Sore tadi saya mengingatkannya untuk minum obat. Tapi, setelah itu saya pergi keluar, jadi saya tidak melihat dia meminumnya atau tidak.” Viviane menjawab. Dia merasa menyesal tak memastikan Valerie meminum obatnya lebih dulu sebelum pergi tadi.

Dokter itu mengangguk. “Hasil sementara hanya itu. Setelah ini kami akan pantau terus kondisinya.”

“Tapi kondisinya sekarang…” Evander menggantung ucapannya menunggu Dokter yang menjawab.

“Beliau koma saat ini. Penyakit jantung yang diderita Beliau memang membutuhkan kontrol cairan dan tekanan darah yang sangat ketat melalui obat-obatan setiap harinya. Ketika ada jeda atau keterlambatan dalam konsumsi obat tersebut, beban kerja jantung meningkat secara drastis dalam waktu singkat, yang memicu kondisi darurat ini." Ada jeda sejenak dalam penjelasannya. “Kami akan memantau respons jantung dan fungsi saraf otaknya dalam 24 hingga 72 jam ke depan. Kami akan melihat apakah ada refleks mata, respons nyeri, atau tanda-tanda kesadaran yang membaik seiring dengan jantungnya yang mulai stabil. Kami meminta kerja sama dan doa dari keluarga." Dokter itu mengakhiri penjelasannya.

“Lakukan yang terbaik untuk putri saya, Dok. Saya akan berikan apapun,” ucap Evander memohon.

“Pasti, saya pasti akan melakukan yang terbaik.” 

Bersamaan dengan kepergian sang Dokter, Rosélia datang dengan tertatih. Luka di kakinya sudah dibalut kasa dan rasa peningnya sudah lebih baik saat ini.

“Tapi aku yakin tadi Valerie memegang pouch obatnya,” ucap Viviane pelan.

Tatapan mereka bersirobok dengan Rosélia yang baru tiba. “Bagaimana keadaan Valerie?” tanyanya.

“Sedang apa kamu di sini? Semua selalu kacau jika melibatkanmu, Rosélia!” Rasa panik, takut dan khawatir Viviane memicu emosinya yang kemudian dia lampiaskan pada Rosélia. 

“Apa salahku? Aku tidak melakukan apa-apa,” jawabnya. 

Maverick, Theodore dan Eleanora keluar dari ruangan Valerie. 

“Maverick, apa sebelum kamu ke sini kamu melihat pouch obat di bride room?” tanya Viviane. 

Maverick menggeleng karena dia memang tidak melihatnya. Viviane dengan cepat mengobrak-abrik isi tas Valerie. Kosong, tak ada. “Jika di sana tak ada, lalu di mana obat milik Valerie?” 

Semua mata spontan memandang Rosélia. Yang mereka tahu, hanya Rosélia satu-satunya yang memiliki motif untuk melakukannya karena mereka hanya tahu Rosélia tak menyukai Valerie.

“Apa?” cicit Roselia.

“Berikan tasmu!” Viviane merebut tas tangan Rosélia, membalik dan mengeluarkan semua isinya. Semuanya tertegun saat pouch obat itu jatuh dari tas Rosélia, begitu juga dengan sang pemilik tas.

“A-aku tidak melakukannya. A-aku t-tidak tahu,” ucap Rosélia tergagap. Perlahan kakinya berjalan mundur, tubuhnya lemas, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya dan dia duduk terjatuh bersamaan dengan air matanya yang kembali terjatuh pula.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 22

    Seluruh acara yang dihadiri oleh pemilik Ashbourne Holdings tak pernah luput dari sorotan media, tak terkecuali malam ini. Di tempat yang sama, Morgan's Eatery menjadi tempat acara mereka malam ini. Hampir seluruh meja telah terisi. Tak ada orang lain malam ini, hanya mereka dan beberapa media yang tentu saja meliput jalannya acara. Morgan's Eatery kali ini dikhususkan untuk mereka. Dengan iringan musik jazz modern, membuat suasana terasa lebih glamor.Dengan balutan dress yang disiapkan Maverick, Rosélia terlihat begitu elegan. Apalagi rambut yang disanggul dengan menyisakan sedikit rambut di bagian kiri dan kanan sebagai poni membuat gadis itu berkali lipat lebih cantik."Nyonya Ashbourne," sapa seorang wanita yang Rosélia tahu adalah istri dari guru besar di salah satu kampus ternama di pusat kota.Tangan Rosélia yang semula melingkar di lengan besar Maverick spontan terlepas perlan untuk membalas uluran tangan dari wanita itu. Fokusnya dia alihkan sepenuhnya dan membiarkan Maveri

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 21

    Seluruh penjuru kota digemparkan dengan berita baru yang baru saja beredar pagi ini. Jika hari kemarin publik menggunjingkan kekejaman seorang CEO Ashbourne Holdings, maka hari ini mereka memujanya penuh damba.Sebuah swalayan yang berisi ibu-ibu sibuk memuji sikap manis Maverick yang beredar di internet, siswa sekolah maupun mahasiswi mendamba pasangan seperti Maverick dan para petinggi juga memuji keluarga Ashbourne yang mendidik anaknya hingga seperti sekarang.Semua pujian itu tak hanya berlaku di kehidupan nyata, tapi juga media daring. Semuanya membicarakan makan malam romantis yang dilakukan Maverick dan Rosélia."Mereka dengan mudah mempercayainya,” decih Rosélia. Kegiatannya tadi terhenti saat begitu banyak notifikasi yang mengganggunya. Notifikasi itu tak berhenti barang sedetikpun sehingga Rosélia terpaksa harus melihatnya.“Inilah alasan kenapa dia mengajakku makan malam. Membersihkan namanya, huh?” sambungnya. Rosélia sebenarnya juga tak terlalu ambil pusing atau peduli

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 20

    Langkahnya begitu cepat. Amarah melingkupi seorang pria paruh baya. Pintu dibuka dengan kencang begitu dia tiba di tempat tujuannya. "Maverick!" teriaknya. Hal itu membuat Maverick yang sedang memeriksa beberapa dokumen menoleh pada sumber suara. Dia berdiri menghampiri ayahnya. Maverick membuang napas dalam. Edrick melayangkan satu tamparan di pipi Maverick. Maverict tak melawan atau sekadar bertanya. Dia tahu penyebabnya dan dia sudah memprediksi hal ini sejak awal. "Kamu tahu ini adalah masa-masa penting Ayah, tapi kamu malah membuat ulah?!" teriak Edric. "Aku tak sengaja melakukannya," jawab Maverick hanya untuk membuat ini cepat berlalu. "Berita menyebar di mana-mana tentang kamu yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tentang luka di sudut bibir Roselia. Dan kamu tahu hal ini sangat berpengaruh terhadap pencalonanku. Hasil survei hari ini menunjukkan penurunan pendukungku!" Maverick hanya diam menunggu Ayahnya menyelesaikan ucapannya dan menuntaskan amarahnya. J

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 19

    "Nyonya, bibirmu…" Mbok Rumi menggantungkan ucapannya menunggu Rosélia yang mengonfirmasi sendiri apa yang terjadi dengan bibirnya.Tangan Rosélia segera terangkat memegang luka sobek di sudut bibirnya. "Ah tak apa. Aku tak sengaja terjatuh," jawabnya diiringi dengan kekehan.Di tengah pembicaraan di pagi hari itu, Maverick datang dengan tangannya yang sibuk memasang dasi. Sementara itu pandangannya lurus pada Rosélia sebelum mereka pada akhirnya mendudukkan diri di kursi makan. Sarapan sudah tersaji seperti biasa."Sebentar," ucap Mbok Rumi yang entah apa maksudnya, kemudian wanita paruh baya itu berlalu dari sana. Tak lama sampai Mbok Rumi kembali dengan kotak P3K di tangannya. "Biar saya obati, Nyonya. Akan infeksi jika tidak diobati." Mbok Rumi mengambil tempat di samping Rosélia. Gadis itu tak menolak, dia hanya diam menahan sakit saat cotton bud dengan salep di ujungnya menyentuh lukanya. Desisan kecil terdengar membuat Mbok Rumi sesekali berhenti mengoleskan salep."Tahan, Nyo

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 18

    Tidak bisa dipungkiri, Maverick sebagai pria tentu saja membutuhkan kepuasan batin. Selama bertahun-tahun menjalin kasih dengan Valerie, dia sama sekali tak bisa merasakannya. Paling jauh hanya sebuah ciuman yang akan langsung dihentikan gadis itu jika sudah terlalu panas.Maverick sama sekali tak pernah membayangkan jika untuk pertama kalinya dia justru melakukannya dengan Rosélia , kakak dari sang kekasih yang saat ini berstatus sebagai istri pengganti. Namun, Maverick juga tak munafik. Kenikmatan, kenyamanan dan kepuasan dia dapatkan tadi malam.Kepingan kejadian malam tadi terus saja mengganggu pikirannya. Fokusnya ketika bekerja teralihkan, bahkan dia sama sekali tak mendengar panggilan Ken yang sudah berseru beberapa kali sejak tadi."Mave!" sentak Ken pada akhirnya.Mendengar suara dengan keras dan nada tinggi milik Ken, akhirnya Maverick kembali pada kesadarannya. Dia berdehem, tangannya terangkat mengusap tengkuknya kemudian menjawab Ken. "Apa?" Singkat, padat dan cukup membu

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 17

    Masalah perusahaan, Valerie yang tak kunjung memberikan tanda-tanda akan sadar, ditambah agenda kampanye yang kadang datang mendadak membuat Maverick kewalahan.Sebagai pelampiasan dari tekanan itu, hampir setiap malam Maverick pulang larut dalam keadaan mabuk.Jika biasanya dia masih memegang beberapa persen kesadaran, maka malam ini berbeda. Lelah fisik dan pikirannya membuat pria itu tanpa sadar meneguk banyak sekali alkohol hingga mengikis habis kesadarannya.Pintu terbuka setelah Ken menggedornya beberapa kali. Pria berkulit putih itu bahkan melupakan bell dan fungsinya. Namun, dia masih menggenggam sedikit kesadaran dibandingkan Maverick. Rosélia segera menghampiri pintu masuk saat orang di luar sana tak kunjung berhenti. Beruntung dia belum sempat terlelap. Dia sedang menikmati beberapa teguk alkohol untuk menenangkan pikirannya.“Astaga!” ucap Rosélia terkejut saat tubuh besar Maverick terhuyung ke arahnya karena Ken tak sengaja melepaskannya.“Ah dia mabuk, aku hanya mengant

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status