Share

Chapter 17

last update publish date: 2026-06-13 11:23:14

Masalah perusahaan, Valerie yang tak kunjung memberikan tanda-tanda akan sadar, ditambah agenda kampanye yang kadang datang mendadak membuat Maverick kewalahan.

Sebagai pelampiasan dari tekanan itu, hampir setiap malam Maverick pulang larut dalam keadaan mabuk.

Jika biasanya dia masih memegang beberapa persen kesadaran, maka malam ini berbeda. Lelah fisik dan pikirannya membuat pria itu tanpa sadar meneguk banyak sekali alkohol hingga mengikis habis kesadarannya.

Pintu terbuka setelah Ken mengg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 115

    Setelah mendapatkan penolakan di hari kemarin, Maverick tidak kalah. Hari ini dia tetap kembali ke rumah Rosélia seperti apa yang dia katakan kemarin.Cuaca hari ini seolah membayar hujan deras kemarin. Kicauan burung membersamai langkah pelan Maverick menuju rumah Roséli dengan harapan Bastian tidak ada di sana.Setelah mengetahui keberadaan pria itu di rumah Rosélia, Maverick sedikit merasa tak tenang karena tahu jika pria itu akan menjadi penghambat pertemuannya dengan Rosélia.Dari jauh, senyum Maverick mengembang saat melihat Rosélia sedang duduk di atas tikar tepat di bawah pohon rindang di halaman rumahnya. Beberapa makanan juga berada di sana menemani wanita yang sedang tersenyum memperhatikan Elodie yang bermain di halaman.Langkahnya menjadi lebih cepat, seolah ingin segera tiba dan menyapa Rosélia beserta Elodie.Tepat saat Maverick tiba di pagar depan, netranya bersirobok dengan iris hazel Elodie yang kemudian berbinar sempurna begitu melihat kehadiran Maverick."Uncle!" s

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 114

    Maverick tidak tidur semalaman. Semilir angin dini hari menemani pria yang masih setia terjaga. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya, Rosélia masih hidup? Dan bagaimana bisa?Enam tahun lalu, gadis itu sudah dinyatakan meninggal karena mendonorkan organ tubuhnya pada Valerie. Selama enam tahun pula Maverick melihat dengan mata kepalanya jika makam Rosélia benar-benar ada.Maverick terlalu cepat percaya tanpa mencari tahu lebih lanjut dengan kejadian itu.Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Maverick bangkit, meninggalkan ranjang yang sama sekali tak menawarkan rasa kantuk padanya sepanjang malam.Diraihnya ponsel sebelum dia berlalu mendekati perapian. Setelah yakin dengan nomor yang hendak dia hubungi, Maverick mendekatkan benda pipih itu ke telinga dan mulai duduk di depan perapian.Udara yang cukup dingin membuat nyaman ketika perapian itu seolah menyambut kedatangannya.“James,” panggil Maverick begitu telepon tersambung.“Iya, Tuan,” jawab pria itu seperti tergesa. Sepertiny

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 113

    Di luar sana, dua pria masih saling berusaha memenangkan ego masing-masing. Pukulan tak kunjung berhenti sehingga menyebabkan wajah tampan itu terlihat hancur. Lebam di kulit putih mereka terlihat begitu kontras dan mungkin akan terasa begitu ngilu."Jangan ikut campur urusanku dengan Rosélia!" teriak Maverick tak terima saat Bastian menghalangi jalannya untuk bertemu dengan Rosélia."Aku memiliki hak! Rosélia tanggung jawabku sekarang!"Tubuh Maverick sempat kaku untuk sesaat ketika mendengar ucapan Bastian. Namun dia berusaha kembali mengendalikan tubuhnya."Cih. Kamu pikir aku akan percaya?" Maverick meremehkan hal ini. Yang Maverick tahu jika Bastian hanya sekadar dokter yang menangani Rosélia enam tahun lalu.Pukulan kembali melayang, namun kali ini Maverik berhasil menangkis dan membalasnya dengan tak kalah keras.Hingga akhirnya satu suara wanita yang berhasil menghentikan kegiatan mereka."Jangan saling bunuh di rumahku!" teriak Rosélia putus asa. Dia tak meminta berhenti, dia

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 112

    Kakinya terus melangkah namun tak kunjung sampai di tempat tujuan. Bukan karena pelan, tapi karena sejak tadi gadis itu hanya melangkah di dalam rumah, bolak-balik tanpa arah. Pandangannya sama sekali tak fokus, kadang dia menggigit kuku jarinya berharap bisa mengurangi rasa gelisahnya.Bukan satu atau dua menit, tapi hal tersebut telah berlangsung selama satu jam lamanya.Tangannya masih menggenggam ponsel yang setengah jam lalu dia gunakan untuk menghubungi orang. Bukan tanpa sebab, tapi karena Elodie, putri kecilnya.Rosélia begitu sibuk dengan pekerjaannya, dia salah mengingat dan mengira telah meminta Anne menjemput Elodie. Namun setelah menelepon wanita paruh baya itu, jawabannya membuat Rosélia begitu panik bukan main."Kamu tidak memintaku menjemput Elodie, Rosélia. Makanya sejak tadi aku hanya berbaring santai di atas ranjangku," jawabnya."A-apa?" tanya Rosélia nanar."Aku kira kamu hari ini senggang makanya kamu tidak memintaku yang menjemputnya." Lagi-lagi suara dari seber

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 111

    Seorang gadis kecil berdiri memeluk dirinya sendiri saat angin yang cukup kencang datang begitu tiba-tiba. Sudah sejak tiga puluh menit lalu dia berdiri di depan sekolah menunggu Ibunya menjemput. Kakinya mulai pegal, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang."Elodie, tunggu sebentar ya. Aku ke dalam dulu mengambil jaket dan payung," ucap gurunya.Elodie mengangguk. Entah sadar atau tidak, gadis kecil itu melangkahkan kakinya pelan. Semakin jauh-semakin jauh hingga tak terasa dia sudah tak ada di lingkungan sekolah lagi."Mommy lama, Elodie bisa pulang sendiri," desisnya.Entah karena bosan atau memang dia merasa bisa pulang meski tidak dijemput, dengan tekadnya, Elodie berjalan cepat. Beruntung jalur sekolah ke rumahnya tidak melewati jalan utama yang ramai.Kaki kecil itu terus melangkah. Udara yang semakin dingin mulai menusuk tulangnya."Kenapa dingin sekali," ucapnya. Gadis itu berhenti sejenak, kemudian menengadah dan membuka tangannya menghadap langit."Mendung dan hujan su

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 110

    Interlaken benar-benar menyihir Maverick agar pria itu tak segera pulang. Tiga hari berlalu, dia kembali mengundur kepulangannya. Alasannya, dia merasa nyaman di sana karena hanya ada ketenangan yang melingkupinya."Kamu bisa pulang duluan, James. Dan jangan lupa cari tahu tentang lukisan itu," ucap Maverick setelah meneguk teh hangatnya."Baik, Tuan," jawab James.Ada rasa khawatir meninggalkan tuannya sendiri di negeri orang, tapi James lagi-lagi tak memiliki kekuatan untuk menolak. Mungkin saja Tuannya itu memang sedang ingin menyendiri di kawasan sejuk seperti Interlaken."Tapi mungkin saya di sini sekitar dua hari lagi, Tuan. Seperti yang Tuan katakan, saya harus mencaritahu tentang lukisan itu, dan saya akan mulai dari sini," izin James yang kemudian diangguki oleh Maverick.Mereka baru saja kembali setelah perjalanan mereka. Sengaja kegiatan hanya dibuat setengah hari agar setengah hari sisanya mereka bisa bersantai.Maverick duduk di kursi kayu di halaman penginapannya. Secan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 02

    Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status