Share

Chapter 05

Penulis: SereiaAlvenna_
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 13:11:59

Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah.

Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjalan dengan cepat menghampiri Rosélia yang masih bersimpuh di lantai.

Suara tamparan menggema di lorong rumah sakit. Bukan sekali, tapi dua kali. Kedua pipi Rosélia memerah. Dan, di antara banyaknya orang di sana, tak ada satupun yang membelanya atau hanya mencegah Viviane.

Dunia seakan berhenti sesaat bagi Rosélia. Isak tangisnya terhenti namun air mata masih mengalir dengan deras. Wajahnya memerah sempurna.

“Dasar pembunuh! Belum puas kamu bunuh Ibumu sendiri, sekarang anakku yang ingin kau jadikan korban, hah?!” Emosi sudah sangat memuncak membuat Viviane tak bisa mengendalikannya.

Ucapan Viviane begitu menusuk hati Rosélia. Cap seorang pembunuh membuatnya sakit karena dia sama sekali tak melakukan apa yang mereka tuduhkan.

Calestine, Ibu Rosélia memang meninggal saat melahirkannya. Tapi bukan berarti semua orang seenaknya men-cap dirinya sebagai seorang pembunuh. Takdir yang memiliki kuasa, lantas Rosélia bisa apa?

“Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak tahu apa-apa…” lirihnya. 

“Jangan mengelak, Rosélia. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa itu kamu dan kamu punya motif yang sangat jelas untuk melakukannya!” Dada Viviane naik turun dengan ritme yany cukup cepat buah dari amarahnya. “Aku tahu kamu iri pada Valerie sejak kecil karena dia mendapatkan lebih banyak kasih sayang dari kita, kan?”

Rosélia menengadah, menatap manik sang ibu sambung. Tatapan lelah, kecewa dan tak habis pikir dengan ucapan Viviane.

“Aku memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kalian, tapi aku tidak serendah itu untuk melakukan hal ini pada adikku sendiri.” Rosélia masih bertahan dengan bantahannya karena dia memang tidak merasa melakukannya. Kedua tangannya terkepal erat, semakin erat saat dia mendengar cacian dari Evander.

“Aku tidak habis pikir kamu bisa melakukan hal rendah seperti ini pada Adikmu sendiri, Roselia. Selama ini Valerie selalu menyayangimu dan selalu membelamu di depan kami. Tapi, ini balasanmu?” ucap Evander pelan tapi menusuk.

“Ayah… aku mohon kali ini percaya padaku. Bukan aku yang melakukannya.” Entah sudah keberapa kali kalimat itu keluar dari mulutnya.

“Lalu kenapa obat milik Valerie ada dalam tasmu!” Suara Evander menggelegar membuat Rosélia terlonjak.

Ada saat hening sebelum Rosélia kembali berkata, “aku juga tidak tahu kenapa itu ada di sana,” cicitnya. 

Seberapa keras pun dia menyangkal, nyatanya sudah tak ada yang mempercayainya. Semua bungkam dan menganggap Rosélia lah pelaku dan penyebab Valerie berada dalam kondisi koma.

Bahkan, Maverick sama sekali tak membuka mulutnya. Diamnya menjadi hal yang lebih menakutkan bagi Rosélia. 

Tatapannya seolah merasa jijik dan kecewa pada Roselia. “Ternyata kamu memang tidak punya hati,” ucap Maverick pada akhirnya.

“Sudah-sudah, nasi sudah menjadi bubur. Biarkan sekarang berjalan seperti ini. Rosélia tetap menjadi istri Maverick untuk sementara. Sekarang, kesehatan Valerie yang utama.” Theodore akhirnya membuka suara. 

Bahkan di saat seperti ini Rosélia masih tetap dianggap barang yang bisa seenaknya mereka gunakan dan buang saat sudah tidak terpakai lagi. Selain hati, harga dirinya juga terluka.

“Selain itu, media masih mengawasi kita. Jangan sampai ada isu tidak mengenakan di hari pernikahan ini,” sambung Theodore.

Tetap nama baik keluarga yang menjadi akhir dari pembicaraan mereka. Satu persatu dari mereka pergi, menunggu Valerie sadar di ruangan VVIP itu. Tak ada satu pun yang peduli dengan keadaan Rosélia. 

Sementara Rosélia, gadis itu masih di tempat yang sama. Wajahnya memerah karena terlalu lama menangis. Kain kasa di kakinya berubah menjadi warna merah, kemungkinan lukanya kembali terbuka. Dia melihat semua orang sangat menantikan kesembuhan Valerie sementara dirinya sendirian.

Dia berusaha bangkit, namun kakinya belum cukup menopang tubuhnya. Bersyukur, seorang perawat datang dan membantu Rosélia untuk duduk di salah satu kursi tunggu di sana.

“Terima kasih,” ucap Rosélia. 

“Nona, biar saya lihat lukanya. Sepertinya jahitannya sedikit terbuka,” ucap Perawat itu.

Rosélia mengangguk. Perawat itu pergi sebentar untuk mengambil kursi roda. Dipapahnya Rosélia untuk duduk di sana, kemudian membawa gadis itu ke sebuah ruangan di mana dia membantu dokter menangani pasien.

“Sudah selesai, jangan banyak bergerak dulu ya.” Dokter memperingatkan. 

“Terima kasih, Dok.” Dokter mengangguk sambil tersenyum sebelum kemudian berlalu dari sana. Sementara perawat tadi kembali membantu Rosélia duduk di kursi roda.

“Aku bisa sendiri,” ucap Rosélia saat perawat itu hendak mendorong kursinya. 

“Ah, baiklah. Hati-hati, Nona.” 

Rosélia mengangguk dan berlalu dari sana. 

Begitu keluar, dia melihat pantulan dirinya di pintu kaca. Gaun pengantin yang masih melekat di badannya seolah menertawakannya. Di mana seharusnya hanya ada kebahagiaan ketika dia mengenakan pakaian ini, namun justru malah duka dan luka yang dia dapatkan. 

*

Malam itu, mau tidak mau Rosélia dibawa ke penthouse milik Maverick. Tempatnya bernaung selama menjadi istri Maverick. Masih dengan kondisi yang mengenaskan, masih menggunakan kursi roda.

Gaun mahal yang dia kenakan terasa seperti hinaan dan riasan wajah yang sudah sangat betantakan.

Saat masuk, hanya ada perasaan dingin dan asing. Rosélia sangat tidak terbiasa dengan semua ini.

Di depannya, Maverick berjalan terus menuju sebuah ruangan yang Rosélia tebak sebagai kamar pria itu, tak mempedulikan kondisi Rosélia yang berusaha masuk dengan kursi roda. 

Tepat di ambang pintu, Maverick menghentikan langkahnya, dia menoleh.

“Jangan berharap apapun dari pernikahan ini. Begitu Valerie sadar, semua selesai.” Satu kalimat singkat namun menusuk. Setelah itu Maverick menghilang di balik pintu yang mulai tertutup rapat.

Tidak ada malam pertama yang romantis dan tidak ada sambutan hangat. Ternyata ini benar-benar menjadi awal kehancuran hidup Roselia.

Rosélia terkekeh pelan. “Berharap apa kamu, Roselia.” Dia berhenti tertawa, mendudukan dirinya di sofa. Pandangannya kosong dengan penampilan kacaunya.

Malam itu, Rosélia sadar bahwa dia telah menjadi orang yang tidak diinginkan dalam hidup orang lain.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 116

    Sebelumnya Maverick tak pernah tahu dan tak pernah sadar jika diabaikan rasanya akan semenyakitkan ini. Meski di hari kemarin yang Maverick dapatkan hanya tamparan dan penolakan, tapi pria itu keras kepala. Dia kembali lagi, berharap hari ini Rosélia meberinya kesempatan meski hanya sedikit.Apakah diabaikan rasanya semenyesakkan ini? Lalu bagaimana dengan Rosélia yang selama hidupnya selalu diabaikan? Terlebih, tepat sebelum kepergiannya enam tahun lalu, Maverick menjadi salah satu orang yang mengabaikan gadis itu.Menyesal? Jangan ditanya. Sejak Maverick mulai menyadari kesalahannya, mulau mengakui perasaan yang dia miliki untuk Rosélia, dia sudah menyesal.Tapi penyesalan itu tak ada gunanya jika wanita yang telah dia sakiti sudah pergi jauh berbeda alam dengannya.Sekarang, begitu Maverick tahu jika wanita itu ternyata masih bernafas, memandang langit yang sama dengannya, Maverick merasa sedikit lega.Namun kembali lagi, pengabaian yang dilakukan Rosélia membuatnya begitu ingin me

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 115

    Setelah mendapatkan penolakan di hari kemarin, Maverick tidak kalah. Hari ini dia tetap kembali ke rumah Rosélia seperti apa yang dia katakan kemarin.Cuaca hari ini seolah membayar hujan deras kemarin. Kicauan burung membersamai langkah pelan Maverick menuju rumah Roséli dengan harapan Bastian tidak ada di sana.Setelah mengetahui keberadaan pria itu di rumah Rosélia, Maverick sedikit merasa tak tenang karena tahu jika pria itu akan menjadi penghambat pertemuannya dengan Rosélia.Dari jauh, senyum Maverick mengembang saat melihat Rosélia sedang duduk di atas tikar tepat di bawah pohon rindang di halaman rumahnya. Beberapa makanan juga berada di sana menemani wanita yang sedang tersenyum memperhatikan Elodie yang bermain di halaman.Langkahnya menjadi lebih cepat, seolah ingin segera tiba dan menyapa Rosélia beserta Elodie.Tepat saat Maverick tiba di pagar depan, netranya bersirobok dengan iris hazel Elodie yang kemudian berbinar sempurna begitu melihat kehadiran Maverick."Uncle!" s

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 114

    Maverick tidak tidur semalaman. Semilir angin dini hari menemani pria yang masih setia terjaga. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya, Rosélia masih hidup? Dan bagaimana bisa?Enam tahun lalu, gadis itu sudah dinyatakan meninggal karena mendonorkan organ tubuhnya pada Valerie. Selama enam tahun pula Maverick melihat dengan mata kepalanya jika makam Rosélia benar-benar ada.Maverick terlalu cepat percaya tanpa mencari tahu lebih lanjut dengan kejadian itu.Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Maverick bangkit, meninggalkan ranjang yang sama sekali tak menawarkan rasa kantuk padanya sepanjang malam.Diraihnya ponsel sebelum dia berlalu mendekati perapian. Setelah yakin dengan nomor yang hendak dia hubungi, Maverick mendekatkan benda pipih itu ke telinga dan mulai duduk di depan perapian.Udara yang cukup dingin membuat nyaman ketika perapian itu seolah menyambut kedatangannya.“James,” panggil Maverick begitu telepon tersambung.“Iya, Tuan,” jawab pria itu seperti tergesa. Sepertiny

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 113

    Di luar sana, dua pria masih saling berusaha memenangkan ego masing-masing. Pukulan tak kunjung berhenti sehingga menyebabkan wajah tampan itu terlihat hancur. Lebam di kulit putih mereka terlihat begitu kontras dan mungkin akan terasa begitu ngilu."Jangan ikut campur urusanku dengan Rosélia!" teriak Maverick tak terima saat Bastian menghalangi jalannya untuk bertemu dengan Rosélia."Aku memiliki hak! Rosélia tanggung jawabku sekarang!"Tubuh Maverick sempat kaku untuk sesaat ketika mendengar ucapan Bastian. Namun dia berusaha kembali mengendalikan tubuhnya."Cih. Kamu pikir aku akan percaya?" Maverick meremehkan hal ini. Yang Maverick tahu jika Bastian hanya sekadar dokter yang menangani Rosélia enam tahun lalu.Pukulan kembali melayang, namun kali ini Maverik berhasil menangkis dan membalasnya dengan tak kalah keras.Hingga akhirnya satu suara wanita yang berhasil menghentikan kegiatan mereka."Jangan saling bunuh di rumahku!" teriak Rosélia putus asa. Dia tak meminta berhenti, dia

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 112

    Kakinya terus melangkah namun tak kunjung sampai di tempat tujuan. Bukan karena pelan, tapi karena sejak tadi gadis itu hanya melangkah di dalam rumah, bolak-balik tanpa arah. Pandangannya sama sekali tak fokus, kadang dia menggigit kuku jarinya berharap bisa mengurangi rasa gelisahnya.Bukan satu atau dua menit, tapi hal tersebut telah berlangsung selama satu jam lamanya.Tangannya masih menggenggam ponsel yang setengah jam lalu dia gunakan untuk menghubungi orang. Bukan tanpa sebab, tapi karena Elodie, putri kecilnya.Rosélia begitu sibuk dengan pekerjaannya, dia salah mengingat dan mengira telah meminta Anne menjemput Elodie. Namun setelah menelepon wanita paruh baya itu, jawabannya membuat Rosélia begitu panik bukan main."Kamu tidak memintaku menjemput Elodie, Rosélia. Makanya sejak tadi aku hanya berbaring santai di atas ranjangku," jawabnya."A-apa?" tanya Rosélia nanar."Aku kira kamu hari ini senggang makanya kamu tidak memintaku yang menjemputnya." Lagi-lagi suara dari seber

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 111

    Seorang gadis kecil berdiri memeluk dirinya sendiri saat angin yang cukup kencang datang begitu tiba-tiba. Sudah sejak tiga puluh menit lalu dia berdiri di depan sekolah menunggu Ibunya menjemput. Kakinya mulai pegal, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang."Elodie, tunggu sebentar ya. Aku ke dalam dulu mengambil jaket dan payung," ucap gurunya.Elodie mengangguk. Entah sadar atau tidak, gadis kecil itu melangkahkan kakinya pelan. Semakin jauh-semakin jauh hingga tak terasa dia sudah tak ada di lingkungan sekolah lagi."Mommy lama, Elodie bisa pulang sendiri," desisnya.Entah karena bosan atau memang dia merasa bisa pulang meski tidak dijemput, dengan tekadnya, Elodie berjalan cepat. Beruntung jalur sekolah ke rumahnya tidak melewati jalan utama yang ramai.Kaki kecil itu terus melangkah. Udara yang semakin dingin mulai menusuk tulangnya."Kenapa dingin sekali," ucapnya. Gadis itu berhenti sejenak, kemudian menengadah dan membuka tangannya menghadap langit."Mendung dan hujan su

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status