MasukMbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana.
Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja hendak memejamkan mata, pintu kamarnya dibuka tanpa permisi. Seorang pria berbadan proporsional, wajah lelah yang masih mengenakan pakaian kerjanya berdiri di ambang pintu. Rosélia dibuat terlonjak karenanya. “Ada apa?” tanyanya. “Lusa ikut denganku makan malam dengan investor asing,” ucap Maverick. Rosélia berpikir sejenak. “Lusa aku tidak bisa. Aku harus mengurus pameran,” jawabnya jujur. “Aku datang bukan untuk memohon ataupun meminta padamu. Aku datang memberitahu, yang artinya kamu harus ikut dan aku tidak menerima penolakan.” Setelah berkata demikian, Maverick berlalu dari sana setelah sebelumnya dia menutup pintu kamar Rosélia cukup kencang. Helaan nafas terdengar sangat berat. Jadwalnya bentrok dengan pameran. Bagaimana dia akan membagi waktu? * Pagi-pagi sekali, tepat sebelum pameran dilaksanakan, Rosélia datang menemui Irene di ruangan yang memang dikhususkan untuk staf. “Mbak, maaf. Boleh bicara sebentar?” Saat itu Irene sepertinya tengah mengarahkan staf lain. “Kita lanjut nanti, ya.” Irene menepuk bahu staf yang semula sedang berbicara dengannya sebelum kemudian atensinya beralih sepenuhnya pada Rosélia. “Kenapa, Rosé?” tanya Irene, menarik Rosélia duduk agar pembicaraan mereka lebih nyaman. “Mbak, aku mau minta izin. Sepertinya hari ini aku tidak bisa di lokasi sampai selesai. Ada keperluan lain yang tidak bisa aku tinggalkan,” ucapnya. Tatapan Irene berubah dalam menelisik khawatir ada yang salah. “Ah, suamiku… dia ada pertemuan dengan calon investor dan aku harus ada di sana, Mbak,” jelas Rosélia pada akhirnya. Irene tersenyum. “Oke gak apa-apa. Tapi, pastikan tim-mu mengerti dan melakukan tugasnya dengan baik hari ini,” jawab Irene yang langsung diangguki Rosélia. Setelahnya, pameran berjalan dengan lancar. Hari pertama, pengunjung cukup ramai, semuanya tertata, live report dilaksanakan sebagaimana rencana awal hingga tiba waktunya Rosélia pergi dari sana. Dia lewat pintu belakang, buru-buru tapi tetap hati-hati sampai Rosélia tiba di penthouse. Maverick tak ada, tapi Rosélia mendengar suara gemericik dari kamar Maverick. Dia berlalu untuk membersihkan dirinya. Rosélia hanya memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap. Sementara itu Maverick sudah siap dengan setelah formal berwarna navy. Pria itu duduk santai di ruang tamu menunggu Rosélia. Tidak terlalu maksimal mengingat dia dikejar waktu. Setelan semi formal, rok span berwarna denim setengah betis, dipadukan dengan inner putih dibalut blazer crop berwarna denim pula. Sentuhan terakhir, heels dengan warna senada dan tas bahu kecil yang membuat penampilannya lengkap. Rosélia keluar setelah merasa semuanya siap. “Ayo,” ucapnya. Maverick menoleh ke arah Rosélia. Bukan kali pertama bagi Maverick melihat penampilan Rosélia yang seperti ini dan Maverick mengakui jika Rosélia cantik, dewasa dan elegan tanpa dibuat-buat. Maverick berdehem, mengedarkan pandangannya dan mengangguk. Dia berjalan mendahului Rosélia seperti biasanya. Tempat yang mereka tuju tak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Sama sekali tak ada yang berniat mengawali pembicaraan. Mereka tiba di depan sebuah restoran mewah yang sudah sering Maverick kunjungi. Begitu turun dari mobil, Maverick berdiri diam. Tangan sebelah kirinya dia tekuk. Matanya menatap Rosélia memberikan kode gadis itu untuk menggandengnya. Sandiwara dimulai dengan senyum di wajah kedua pengantin baru itu. Jalannya tak terlalu cepat, mengimbangi Rosélia yang memakai heels. Mereka menuju ke sebuah ruangan VIP. Hanya ada mereka, investor yang hendak mereka temui belum tiba. “Diam saja, jangan mempermalukanku,” ucap Maverick memperingati Rosélia. Gadis itu memilih diam tak menjawab. Tak lama, orang-orang yang ditunggu datang, ada sekitar empat orang lengkap dengan pasangannya masing-masing. Mereka saling sapa memperkenalkan diri dan juga pasangan mereka. Makan malam berlalu dengan tenang dan nyaman. Hingga saatnya masuk ke pembicaraan inti. Berbagai hal Maverick bahas terkait rencana pembangunan resort di pinggir pantai itu. Semuanya memahami, namun raut wajah mereka tidak bisa berbohong, mereka sudah sering mendengar konsep seperti ini dan merasa terlalu template. “Anda yakin dengan konsep luxury seperti ini wisatawan akan tertarik? Sekarang banyak sekali resort dengan konsep yang sama, lalu apa uniknya resort yang akan kita bangun ini jika fasilitas, desain dan juga suasananya sama saja dengan resort lain?” Tuan Benedict, salah satu calon investor bertanya. Maverick terdiam kaku, mencoba mencari jawaban. “Kita bisa tambahkan beberapa elemen alam di desain interiornya,” jawabnya mencoba memasukan ide Rosélia beberapa saat lalu. Semuanya memperhatikan, namun sanggahan lain dilontarkan pula oleh pria berbadan besar, Tuan Christ. “Saya kurang yakin wisatawan akan tertarik hanya dengan menambahkan beberapa elemen alam saja.” Ada keheningan beberapa saat sebelum Rosélia mengeluarkan suaranya. “Maaf, Tuan. Izinkan saya berbicara,” ucap Rosélia. Maverick panik, dia sama sekali tak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rosélia. Terlebih dia sebelumnya juga sudah memperingatkan Rosélia agar tidak ikut campur. “Sebelumnya perkenalkan, saya Rosélia istri Maverick. Kita berencana untuk membangun resort di sekitar pantai. Tema luxury yang kita ambil memang sudah umum digunakan. Dengan beberapa desain interior yang menggambarkan alam akan membantu konsep sedikit berbeda dari yang lain.” Penyampaiannya tenang, tidak terlalu cepat, cukup untuk mendapatkan atensi dari semua orang yang ada di sana termasuk Maverick. “Jika itu saja tidak cukup, kita bisa tambahkan hal lain sebagai penarik wisatawan. Saya yakin kebanyakan wisatawan menyewa penginapan bukan hanya untuk istirahat dan tidur, tapi mereka juga mencari pengalaman. Kita bisa adakan beberapa pertunjukan setiap satu atau dua kali dalam satu minggu. Bukan pertunjukan modern yang kita serap dari negara lain, tapi pertunjukan budaya lokal yang mengandung cerita, makna dan juga dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi wisatawan,” sambung Rosélia. “Pertunjukan apa yang akan mereka harapkan?” Nyonya Diana, istri Tuan Benedict bertanya. “Kita ambil contoh, Edinburgh Festival Fringe di Skotlandia. Mereka mengadakan pertunjukan setiap tahun, itu untuk skala nasional. Karena kita hanya sebuah resort, kita bisa adakan sekitar satu sampai dua kali dalam satu pekan. Kita adakan pertunjukan seperti teater yang temanya masih berkaitan dengan asal-usul atau seni dan budaya sekitar,” jelasnya. Semuanya mengangguk mulai tertarik dengan pembicaraan ini. “Masuk akal, dengan begitu wisatawan tidak hanya mengincar resort kita untuk tidur, tapi juga ingin tahu teater yang akan kita tampilkan,” Tuan Harist membantu menambahkan. Mereka mengangguk serentak. Roselia tersenyum simpul, puas dengan usahanya. “Oke, kalau begitu kita akan coba. Jadi, Tuan Maverick boleh kirim salinan proposalnya dengan konsep yang Nyonya Rosé katakan barusan?” ucap Tuan Christ. “Baik, Tuan. Saya akan kirim proposal secepatnya.” Senyum sumringah tampak begitu nyata di wajah Maverick, Rosélia menangkapnya dengan jelas. Pertemuan itu berakhir setelah mereka berbincang santai beberapa menit. Semuanya kembali lebih dulu hingga menyisakan Maverick dan Rosélia saja. “Bisa berguna juga kamu,” ucapnya. Bukan nada memuji apalagi kagum, tapi lebih meremehkan. Maverick bangkit, badannya memunggungi Rosélia, kemudian dia berkata, “pulang sendiri. Aku akan ke rumah sakit dulu.” Setelahnya Maverick berlalu meninggalkan Rosélia. “Huh, berapa kali lagi orang-orang akan meninggalkanku.” Sambil berkata demikian, Rosélia keluar dari sana, memesan taksi dan pulang sendiri.Seluruh acara yang dihadiri oleh pemilik Ashbourne Holdings tak pernah luput dari sorotan media, tak terkecuali malam ini. Di tempat yang sama, Morgan's Eatery menjadi tempat acara mereka malam ini. Hampir seluruh meja telah terisi. Tak ada orang lain malam ini, hanya mereka dan beberapa media yang tentu saja meliput jalannya acara. Morgan's Eatery kali ini dikhususkan untuk mereka. Dengan iringan musik jazz modern, membuat suasana terasa lebih glamor.Dengan balutan dress yang disiapkan Maverick, Rosélia terlihat begitu elegan. Apalagi rambut yang disanggul dengan menyisakan sedikit rambut di bagian kiri dan kanan sebagai poni membuat gadis itu berkali lipat lebih cantik."Nyonya Ashbourne," sapa seorang wanita yang Rosélia tahu adalah istri dari guru besar di salah satu kampus ternama di pusat kota.Tangan Rosélia yang semula melingkar di lengan besar Maverick spontan terlepas perlan untuk membalas uluran tangan dari wanita itu. Fokusnya dia alihkan sepenuhnya dan membiarkan Maveri
Seluruh penjuru kota digemparkan dengan berita baru yang baru saja beredar pagi ini. Jika hari kemarin publik menggunjingkan kekejaman seorang CEO Ashbourne Holdings, maka hari ini mereka memujanya penuh damba.Sebuah swalayan yang berisi ibu-ibu sibuk memuji sikap manis Maverick yang beredar di internet, siswa sekolah maupun mahasiswi mendamba pasangan seperti Maverick dan para petinggi juga memuji keluarga Ashbourne yang mendidik anaknya hingga seperti sekarang.Semua pujian itu tak hanya berlaku di kehidupan nyata, tapi juga media daring. Semuanya membicarakan makan malam romantis yang dilakukan Maverick dan Rosélia."Mereka dengan mudah mempercayainya,” decih Rosélia. Kegiatannya tadi terhenti saat begitu banyak notifikasi yang mengganggunya. Notifikasi itu tak berhenti barang sedetikpun sehingga Rosélia terpaksa harus melihatnya.“Inilah alasan kenapa dia mengajakku makan malam. Membersihkan namanya, huh?” sambungnya. Rosélia sebenarnya juga tak terlalu ambil pusing atau peduli
Langkahnya begitu cepat. Amarah melingkupi seorang pria paruh baya. Pintu dibuka dengan kencang begitu dia tiba di tempat tujuannya. "Maverick!" teriaknya. Hal itu membuat Maverick yang sedang memeriksa beberapa dokumen menoleh pada sumber suara. Dia berdiri menghampiri ayahnya. Maverick membuang napas dalam. Edrick melayangkan satu tamparan di pipi Maverick. Maverict tak melawan atau sekadar bertanya. Dia tahu penyebabnya dan dia sudah memprediksi hal ini sejak awal. "Kamu tahu ini adalah masa-masa penting Ayah, tapi kamu malah membuat ulah?!" teriak Edric. "Aku tak sengaja melakukannya," jawab Maverick hanya untuk membuat ini cepat berlalu. "Berita menyebar di mana-mana tentang kamu yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tentang luka di sudut bibir Roselia. Dan kamu tahu hal ini sangat berpengaruh terhadap pencalonanku. Hasil survei hari ini menunjukkan penurunan pendukungku!" Maverick hanya diam menunggu Ayahnya menyelesaikan ucapannya dan menuntaskan amarahnya. J
"Nyonya, bibirmu…" Mbok Rumi menggantungkan ucapannya menunggu Rosélia yang mengonfirmasi sendiri apa yang terjadi dengan bibirnya.Tangan Rosélia segera terangkat memegang luka sobek di sudut bibirnya. "Ah tak apa. Aku tak sengaja terjatuh," jawabnya diiringi dengan kekehan.Di tengah pembicaraan di pagi hari itu, Maverick datang dengan tangannya yang sibuk memasang dasi. Sementara itu pandangannya lurus pada Rosélia sebelum mereka pada akhirnya mendudukkan diri di kursi makan. Sarapan sudah tersaji seperti biasa."Sebentar," ucap Mbok Rumi yang entah apa maksudnya, kemudian wanita paruh baya itu berlalu dari sana. Tak lama sampai Mbok Rumi kembali dengan kotak P3K di tangannya. "Biar saya obati, Nyonya. Akan infeksi jika tidak diobati." Mbok Rumi mengambil tempat di samping Rosélia. Gadis itu tak menolak, dia hanya diam menahan sakit saat cotton bud dengan salep di ujungnya menyentuh lukanya. Desisan kecil terdengar membuat Mbok Rumi sesekali berhenti mengoleskan salep."Tahan, Nyo
Tidak bisa dipungkiri, Maverick sebagai pria tentu saja membutuhkan kepuasan batin. Selama bertahun-tahun menjalin kasih dengan Valerie, dia sama sekali tak bisa merasakannya. Paling jauh hanya sebuah ciuman yang akan langsung dihentikan gadis itu jika sudah terlalu panas.Maverick sama sekali tak pernah membayangkan jika untuk pertama kalinya dia justru melakukannya dengan Rosélia , kakak dari sang kekasih yang saat ini berstatus sebagai istri pengganti. Namun, Maverick juga tak munafik. Kenikmatan, kenyamanan dan kepuasan dia dapatkan tadi malam.Kepingan kejadian malam tadi terus saja mengganggu pikirannya. Fokusnya ketika bekerja teralihkan, bahkan dia sama sekali tak mendengar panggilan Ken yang sudah berseru beberapa kali sejak tadi."Mave!" sentak Ken pada akhirnya.Mendengar suara dengan keras dan nada tinggi milik Ken, akhirnya Maverick kembali pada kesadarannya. Dia berdehem, tangannya terangkat mengusap tengkuknya kemudian menjawab Ken. "Apa?" Singkat, padat dan cukup membu
Masalah perusahaan, Valerie yang tak kunjung memberikan tanda-tanda akan sadar, ditambah agenda kampanye yang kadang datang mendadak membuat Maverick kewalahan.Sebagai pelampiasan dari tekanan itu, hampir setiap malam Maverick pulang larut dalam keadaan mabuk.Jika biasanya dia masih memegang beberapa persen kesadaran, maka malam ini berbeda. Lelah fisik dan pikirannya membuat pria itu tanpa sadar meneguk banyak sekali alkohol hingga mengikis habis kesadarannya.Pintu terbuka setelah Ken menggedornya beberapa kali. Pria berkulit putih itu bahkan melupakan bell dan fungsinya. Namun, dia masih menggenggam sedikit kesadaran dibandingkan Maverick. Rosélia segera menghampiri pintu masuk saat orang di luar sana tak kunjung berhenti. Beruntung dia belum sempat terlelap. Dia sedang menikmati beberapa teguk alkohol untuk menenangkan pikirannya.“Astaga!” ucap Rosélia terkejut saat tubuh besar Maverick terhuyung ke arahnya karena Ken tak sengaja melepaskannya.“Ah dia mabuk, aku hanya mengant







