共有

BAB 5

last update 公開日: 2026-02-06 23:45:36

"Empat puluh, lima puluh, enam puluh," Kiki menghitung dalam hati.

Napas Kiki ikut tertahan melihat pemandangan itu. Wajahnya memerah dan tubuhnya terasa panas melihat pemandangan maskulin itu. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan desahan kagum.

Satria berhenti sejenak di posisi atas untuk variasi gerakan. Dia menahan berat badannya dengan satu tangan saja sambil menyeka keringat di dahi. Otot lengan tricep-nya menegang keras menahan beban tubuhnya yang berat.

"Astaga itu manusia apa robot sih?" batin Kiki kagum. "Kak Vera buta banget bilang dia kurus kering tadi. Itu body goal banget buat dipeluk. Ahhh, jadi pengen pegang ototnya yang basah itu, mmphh!"

Tangan Kiki tanpa sadar meraba kaca jendela yang dingin. Dia membayangkan sedang menyentuh punggung Satria yang keras dan basah oleh keringat.

Namun, kekagumannya buyar seketika karena gangguan dari luar. Sorot lampu mobil yang menyilaukan tiba-tiba menembus gerbang depan. Sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di depan gerbang dengan suara ban berdecit keras.

"KYAAAAA!"

Jeritan histeris Kiki memecah keheningan malam itu. Suaranya menembus dinding-dinding tebal rumah mewah itu hingga ke lantai atas.

Satria yang sedang push-up langsung melompat berdiri dalam posisi siaga tempur. Urat-urat di leher dan tangannya menegang siap menghadapi bahaya.

Vera yang tertidur di sofa langsung terbangun dengan jantung berdegup kencang karena kaget.

Laras di kamarnya nyaris jatuh dari tempat tidur saking kagetnya mendengar teriakan adiknya.

"Ada apa, Kiki?" tanya Vera dengan suara tertahan.

Kiki tidak sanggup menjawab karena mulutnya terkunci rapat oleh rasa takut. Dia hanya menunjuk ke arah jendela depan dengan jari gemetar.

DUG!

Suara hantaman benda keras pada pagar besi terdengar nyaring dan memekakkan telinga.

"Keluar kau sekarang, Laras!"

Itu suara Kevin. Berat, parau, dan jelas dalam pengaruh alkohol.

"Buka pintunya atau kami bakar rumah ini! Cepat!"

Vera langsung mengintip dari balik tirai. Matanya membelalak ngeri. Dugaan Laras benar, Kevin datang menepati janji busuknya.

Kevin tidak sendiri. Di bawah sorot lampu taman, berdiri lima pria berbadan besar. Penampilan mereka mengintimidasi dengan tato di lengan dan leher, menggenggam balok kayu serta pipa besi.

Di dalam rumah, topeng ketenangan Vera runtuh. Kakinya lemas hingga harus berpegangan pada pinggiran jendela.

"Itu preman beneran. Kevin gila," desis Vera dengan napas memburu. Keringat dingin mulai membasahi lehernya. "Telepon polisi, Laras! Cepat!"

"HP aku mati, Kak! Charger di atas, aku nggak bisa naik tangga," jawab Laras panik sambil mencengkeram kursi rodanya.

Kiki menangis di pojokan sofa sambil memeluk bantal erat-erat. "Kak Vera, aku takut. Kalau mereka masuk gimana?"

TRANG!

Pagar kembali dipukul, kali ini dengan pipa besi.

"Woi, jangan ngumpet! Aku tahu kalian di dalam!" teriak Kevin lagi. "Satu menit nggak keluar, kami dobrak pagar ini!"

Kepanikan melanda ruangan itu. Namun tiba-tiba, pintu kaca menuju teras depan terbuka. Angin malam berhembus masuk. Satria melangkah masuk sebentar, menatap ketiga wanita itu dengan tenang.

Dia hanya mengenakan kaos singlet putih yang mencetak otot tubuhnya.

"Tetap di dalam. Jangan ada yang keluar," perintah Satria datar.

Lalu dia berjalan santai menuju pintu gerbang kecil di samping pagar utama.

"Satria, jangan keluar! Mereka banyak!" seru Laras.

"Masuk, Bodoh! Mau mati konyol?!" bentak Vera histeris.

Satria hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis. "Tugas saya jaga rumah ini. Kalau saya di dalam, siapa yang jaga di luar?"

Tanpa peduli larangan Vera, Satria melangkah keluar. Dia menutup pintu gerbang kecil itu dari luar dan mengunci dirinya bersama keenam pria berbahaya itu di jalanan depan rumah.

Kevin yang bersiap memukul gembok pagar langsung berhenti. Dia menyeringai licik.

"Wah, lihat siapa yang keluar," ejek Kevin. "Pahlawan kesiangan. Babu kafe yang sok jagoan."

Lima preman di belakangnya tertawa meremehkan. Mereka menatap tubuh Satria yang terlihat kecil dibanding otot-otot mereka yang beringas.

"Siapa bocah ini, Bos? Kecil amat," tanya preman bertato naga sambil menepuk-nepuk balok kayu. "Sekali pukul juga patah tulang."

"Minggir, Cungkring! Mau mati?" bentak preman lain yang giginya ompong.

Kevin maju selangkah, menunjuk wajah Satria dengan telunjuk gemetar.

"Nah, ini dia. Baguslah kau nyerahin nyawa," kata Kevin penuh dendam. "Habisi dia dulu! Siapa yang bisa bikin dia cacat, aku kasih bonus lima puluh juta malam ini!"

Mendengar bonus itu, mata para preman langsung berbinar buas. Tanpa aba-aba, preman bertato naga menerjang sambil mengayunkan balok kayu.

"Mati kau!"

Di balik jendela, Vera menutup mata. Laras menahan napas. Kiki mengintip dari sela jari kakaknya.

Namun, Satria tidak mundur.

Dia justru maju setengah langkah menyambut serangan. Gerakannya cepat dan efisien. Satria menunduk sedikit menghindari ayunan balok, lalu melesatkan tinju kanan lurus ke depan.

Bugh!

KRAK!

Pukulan itu menghantam tepat di tengah hidung si preman.

"Aaargh!"

Darah segar muncrat. Preman itu terhuyung, menjatuhkan baloknya, lalu jatuh berlutut memegangi wajah yang berlumuran darah.

Suasana hening seketika. Kevin melongo tak percaya. Empat preman lainnya terdiam kaget melihat teman mereka tumbang satu pukulan.

Satria berdiri tegak, mengibas tangannya santai. Tatapannya dingin.

"Siapa lagi?" tanyanya datar.

"Sialan! Keroyok!" teriak preman ompong panik.

Dua orang sekaligus maju menyerang dari kiri dan kanan. Satu memukul, satu menendang.

Satria berputar seperti gasing. Kaki kanannya melayang melakukan tendangan memutar yang akurat. Ujung sepatunya menghantam telak selangkangan preman ompong.

DUG!

"Aduh, bijiku!"

Preman itu membelalak, wajahnya biru menahan sakit, lalu ambruk mencium aspal.

Preman satunya lagi mencoba memukul. Satria menangkap lengan itu, memelintirnya ke belakang punggung sampai berbunyi krak, lalu mendorongnya keras hingga menabrak temannya yang bertubuh paling besar.

Gedebuk!

"Bangsat! Minggir!" bentak preman berbadan raksasa itu sambil mendorong temannya jatuh.

Si raksasa maju dengan geraman marah. Dia merentangkan tangan lebar-lebar, berniat memeluk dan meremukkan tubuh Satria.

"Mati kau, Tikus!"

Satria tenang menunggu. Saat tangan raksasa itu hampir menangkapnya, dia merendahkan tubuh secepat kilat, menyusup ke bawah ketiak, lalu menyapu kedua kaki raksasa itu dengan tendangan bawah yang keras.

BRAK!

Tubuh besar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang menghantam aspal dengan suara dentuman keras. Tanah terasa bergetar.

"Ugh..." Si raksasa mengerang sesak.

Dalam waktu kurang dari lima menit, empat preman tumbang. Satu preman tersisa gemetar ketakutan, menjatuhkan rantai besinya, lalu mundur perlahan.

Kini tinggal Kevin yang berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, mabuknya hilang seketika digantikan teror murni.

Satria melangkah mendekati Kevin.

"Mas Kevin, mau ngomong apa lagi?" panggil Satria pelan.

"J-jangan... jangan mendekat! Gue laporin polisi lo!" cicit Kevin, kakinya gemetar hebat sampai beradu.

Satria mengangkat tangan hanya untuk merapikan rambut. Tapi bagi Kevin, itu terlihat seperti ancaman maut.

"Ampun! Jangan bunuh aku!"

Kevin menjerit histeris. Dia berbalik ingin lari ke mobilnya, tapi kakinya lemas hingga tersandung dan jatuh tersungkur. Dia merangkak bangun dengan panik, lalu lari terbirit-birit meninggalkan mobil mewahnya dan teman-temannya yang masih teler.

"Tolong! Ada setan! Tolong!" teriaknya menjauh, hilang di kegelapan malam.

Satria hanya menggelengkan kepala melihatnya. "Baru segitu doang mentalnya."

Di dalam rumah, tiga wanita cantik itu masih berdiri mematung di balik jendela. Vera melongo tak percaya. Otak logisnya macet melihat sopir kurusnya meratakan lima preman sendirian.

Vera menatap punggung Satria yang basah keringat dengan tatapan berbeda. Ada rasa kagum yang menyelinap. Dada bidang Satria yang naik turun mengatur napas terlihat sangat seksi di matanya.

Kiki berhenti menangis, matanya berbinar. "Gila, keren banget Mas Rafli..."

Laras tersenyum bangga sambil menangis haru, menempelkan tangan ke kaca seolah ingin menyentuh sosok pelindungnya.

"Itu Satria, Kak. Itu Satria penolong kita."

Satria berbalik, menatap ke arah jendela, lalu tersenyum tipis sambil mengacungkan jempol. Senyum itu membuat jantung ketiga wanita di dalam rumah berdegup kencang bersamaan.

Satria merapikan kaos singletnya. Otot bisepnya menegang keras saat dia menyeka keringat di dahi. Gerakan sederhana itu terlihat sangat maskulin dan menggoda di mata para wanita yang menontonnya dengan tatapan lapar.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Satria Idaman Wanita   BAB 305

    "Ampun! Iya, iya, aku ngaku salah! Nyerah!"Satria mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menyandarkan punggungnya ke ujung sofa. Napasnya terengah-engah. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini sudah berantakan mirip sarang burung akibat serangan bantal bertubi-tubi dari Vera dan Kiki.Melihat pengawal tangguh itu akhirnya mengibarkan bendera putih, Vera menghentikan pukulannya. Bos cantik itu ikut terengah-engah. Wajahnya memerah, bukan cuma karena marah, tapi juga karena kelelahan menahan tawa.Kiki yang berdiri di sebelah kakaknya tampak sangat puas. Dia berkacak pinggang sambil menatap Satria dengan dagu terangkat."Makanya, Kak Satria jangan berani-berani meremehkan pesona Kiki dan Kak Vera. Sekali lagi berani lirik cewek lain di depan kita, bukan bantal lagi yang melayang, tapi panci dari dapur!" ancam Kiki dengan gaya sok galak yang malah terlihat lucu.Satria mengusap wajahnya lalu merapikan rambutnya asal-asalan. "Iya, Ki. Ampun deh. Tenaga kalian berdua kalau di

  • Satria Idaman Wanita   BAB 304

    Pagi itu cuaca Jakarta cukup cerah. Setelah malam yang panjang dan menegangkan di acara lelang, Vera memutuskan untuk bersantai di rumah mewahnya. Hari ini adalah hari libur, jadi tidak ada jadwal ke kantor.Di ruang keluarga yang luas, Satria sedang duduk santai di sofa sambil menonton acara televisi. Di meja ruang tamu, tampak Laras, sekretaris pribadi Vera yang rajin dan polos. Laras datang pagi-pagi sekali untuk merapikan berkas-berkas dokumen tanah yang baru dimenangkan semalam. Laras tampak sangat serius dengan kacamata bacanya, sesekali merapikan rambutnya yang diikat rapi.Tidak lama kemudian, Vera turun dari lantai dua. Bos cantik itu tampak sangat segar dengan pakaian kasual. Dia memakai kaus lengan pendek berwarna putih dan celana pendek selutut yang mengekspos kulit putih mulusnya."Pagi Satria. Pagi Laras," sapa Vera sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil minum."Pagi Non," balas Satria dan Laras hampir bersamaan.Suasana tenang itu tiba-tiba pecah saat pintu depan

  • Satria Idaman Wanita   BAB 303

    Mobil SUV mewah yang dikendarai Satria menepi perlahan di pinggir jalan kawasan Sabang. Sebuah tenda terpal berwarna biru dengan spanduk bertuliskan 'Nasi Goreng Gila Mas Bro' terlihat ramai pengunjung. Asap harum dari bumbu yang ditumis mengepul tebal, langsung menggugah selera siapa saja yang lewat.Satria mematikan mesin mobil dan turun lebih dulu. Seperti biasa, dia berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang untuk Vera.Begitu Vera melangkah keluar, hampir semua mata pengunjung warung tenda itu langsung tertuju pada mereka berdua. Bagaimana tidak heran, ada pria tampan dengan balutan tuksedo hitam rapi dan seorang wanita cantik bergaun malam merah marun yang sangat elegan, mendadak mampir ke warung nasi goreng kaki lima. Penampilan mereka berdua benar-benar kontras dengan suasana jalanan."Nona yakin mau makan di sini?" tanya Satria setengah berbisik sambil menatap sekeliling. "Orang-orang pada ngeliatin kita terus dari tadi."Vera malah tertawa pelan dan sama sekali tidak te

  • Satria Idaman Wanita   BAB 302

    Panitia acara butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menenangkan suasana. Setelah polisi datang dan mengamankan si pelayan palsu, acara lelang akhirnya kembali dilanjutkan. Para tamu undangan mulai duduk di tempat masing-masing meski sesekali masih terdengar bisik-bisik tegang di antara mereka.Di atas panggung, pembawa acara berdeham pelan di depan mikrofon untuk memusatkan perhatian."Baiklah hadirin sekalian, mari kita lanjutkan acara malam ini. Barang terakhir yang akan dilelang adalah aset properti yang sangat bernilai tinggi," ucap pembawa acara dengan nada kembali semangat. "Sertifikat hak milik lahan komersial seluas dua hektar di kawasan berkembang Jakarta Timur. Lahan ini sangat strategis untuk proyek pembangunan megaproyek."Vera langsung membenarkan posisi duduknya. Mata indahnya berbinar menatap layar proyektor yang menampilkan foto lahan dari udara."Ini dia yang aku tunggu," bisik Vera pelan kepada Satria.Satria menaikkan sebelah alisnya. "Cuma lahan kosong Non?"V

  • Satria Idaman Wanita   BAB 301

    Mata Satria terus mengunci pergerakan pelayan pria itu tanpa berkedip. Jarak antara pelayan tersebut dengan kursi Natasha kini hanya tinggal tiga langkah. Tangan kanan pelayan itu perlahan mulai terlepas dari bawah nampan perak yang dia bawa. Ada kilatan logam tajam yang memantulkan cahaya lampu ballroom.Itu pisau lipat taktis.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Satria melompat dari kursinya. Gerakannya sangat cepat, membuat Vera yang duduk di sebelahnya sampai terkesiap kaget.Di depan sana, pelayan itu menjatuhkan nampan minumannya ke lantai dan langsung mengayunkan pisau tajamnya tepat ke arah leher belakang Natasha. Natasha yang sedang asyik menertawakan kemenangannya sama sekali tidak menyadari ancaman mematikan yang sudah berjarak hitungan sentimeter dari kulitnya.Prang!Suara pecahan gelas dari nampan yang jatuh berpadu dengan suara benturan keras.Tepat sebelum ujung pisau itu menyentuh leher Natasha, tangan kokoh Satria sudah mencengkeram erat pergelangan tangan si pelayan.

  • Satria Idaman Wanita   BAB 300

    Lampu utama ballroom mulai diredupkan. Sorot lampu kini terpusat pada sebuah panggung megah di depan. Seorang pembawa acara berpakaian rapi naik ke atas panggung dan membuka malam dana tersebut dengan pidato singkat.Vera duduk dengan anggun di kursinya. Satria duduk di sebelahnya dengan postur santai tapi matanya terus menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Meja mereka berada di deretan tengah, posisi yang sangat strategis untuk mengamati meja VIP di depan sana. Di salah satu kursi VIP itu, Natasha duduk dengan dagu terangkat bangga."Nona sepertinya santai banget," bisik Satria pelan sambil mencondongkan badannya sedikit ke arah Vera. "Sudah ada incaran barang yang mau dibeli malam ini?"Vera menutupi bibirnya dengan ujung gelas sampanye lalu tersenyum tipis. "Ada satu barang yang memang aku butuhkan. Tapi sebelum barang itu keluar, kita harus main-main sedikit dengan Nona Sombong di depan sana."Satria tertawa pelan. Dia langsung paham maksud bos cantiknya ini.Lelang pun dimulai. Beb

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status