Share

Bab 298

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-07-18 15:36:03

“Kalau aku milih lari sama Mas Prana... gimana?” tanya Shanum. Matanya beralih menatap Tiara, mencari secercah pembenaran atas pikiran nekat yang mendadak melintas di kepalanya.

Tiara tertegun sejenak, menatap kakaknya dengan pandangan meneliti. Bukannya terkejut, anak perempuan itu justru mengangguk cepat. “Lebih baik gitu, Mbak. Cari kehidupan kalian sendiri, jangan lihat ke belakang lagi.”

Shanum mengerutkan kening, agak terkejut dengan jawaban lugas adiknya. “Tapi... Ayah sama Ibu gimana, R
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kris yoyo
kok masih curiga ya klo shanum ini bukan anak si ani tapi anak bawaan suami nya yg pertama...karena si ani kok benci bgt sama shanum, asli jadi ibu gak ada bagus2 nya...lqnjut thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 301

    “Jangan bicara macam-macam pada Ayahmu,” bisik Ani tajam, menyambar pergelangan tangan Shanum tepat sebelum langkah kaki putrinya melewati batas pintu.Shanum menatap jari-jari ibunya yang mencengkeram lengannya. Tanpa suara, ia menarik paksa tangannya hingga terlepas dari kekangan Ani. Tak ada niat di hatinya untuk membalas ancaman itu. Tatapannya lurus mengarah pada pintu kaca ruang ICU yang bergeser setengah terbuka.Perawat di ambang pintu memberikan isyarat dengan lambaian tangan pendek. “Silakan, Mbak. Jangan terlalu lama. Kondisi pasien masih sangat lemah dan butuh ketenangan.”Shanum mengangguk cepat. Langkah kakinya terasa begitu berat menapak lantai steril, melewati sensor pintu yang menutup otomatis di belakangnya.Di atas brankar besi, Bobby terbaring, jauh lebih pucat dan ringkih. Jarum infus tertancap di punggung tangannya, sementara mesin monitor jantung di samping tempat tidur terus mengeluarkan bunyi.“Ayah…” panggil Shanum lirih, mengikis jarak hingga berdiri di sisi

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 300

    “Mbak, kenapa sih harus berantem lagi sama Ibu disini?” tegur Tiara memecah kesunyian. Matanya menatap wajah Shanum yang sembab.“Aku cuma nanya soal ayah kandung aku, Ra,” jawab Shanum pendek, pandangannya beralih menatap ubin lantai.Tiara langsung terdiam. Mulutnya yang tadi terbuka hendak melayangkan protes seketika terkatup rapat. Sorot matanya berubah canggung dan serba salah.“Tapi kan bisa nanya nanti pas udah di rumah, Mbak,” ucap Tiara kemudian. Suaranya melunak, tak ada lagi nada ketus seperti saat menghadapi ibunya tadi.“Aku udah gak bisa pulang kesana, Ra,” sahut Shanum datar.“Mbak...”Tiara menatap kakaknya dengan pandangan sedih, tahu betul kalau rumah mereka tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk Shanum. Keduanya terdiam dengan perbincangan yang menggantung, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai derap langkah kaki yang tergesa memecah kecanggangan itu.Ani kembali dengan wajah gusar, mendatangi tempat mereka berdiri dengan napas memburu. Tampaknya ada

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 299

    “Siapa yang kasih tahu kamu?” tanya Ani sinis, meski Shanum bisa menangkap ada getaran dalam suara ibunya.“Gak penting siapa yang kasih tahu aku, Bu,” kata Shanum, berdiri dari kursinya agar posisinya sejajar dengan Ani. “Yang jelas, sekarang aku udah tahu. Aku sama Mas Prana gak sedarah. Jadi kita berdua gak masalah kalau bersama.”“Kamu ini... benar-benar anak kurang ajar!” desis Ani, giginya terkatup rapat menahan amarah yang siap meledak lagi. “Kamu sengaja mau sama Prana, biar bisa mempermalukan Ibu di depan Ralin?”Shanum menyipitkan matanya tak mengerti dengan pola pikir ibunya.“Siapa yang mau mempermalukan Ibu? Aku cuma mau hidup tenang bersama orang yang aku cintai,” ucap Shanum, sorot matanya tak lagi menunjukkan ketakutan seperti tadi siang.“Aku sudah menuruti kemauan Ibu untuk menikah dengan Fadil dulu, dan hidupku hancur. Sekarang, tolong biarkan aku menentukan jalanku sendiri,” tambah Shanum.Ani terkekeh sinis, menyembunyikan kepanikannya di balik topeng kemarahan.“

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 298

    “Kalau aku milih lari sama Mas Prana... gimana?” tanya Shanum. Matanya beralih menatap Tiara, mencari secercah pembenaran atas pikiran nekat yang mendadak melintas di kepalanya.Tiara tertegun sejenak, menatap kakaknya dengan pandangan meneliti. Bukannya terkejut, anak perempuan itu justru mengangguk cepat. “Lebih baik gitu, Mbak. Cari kehidupan kalian sendiri, jangan lihat ke belakang lagi.”Shanum mengerutkan kening, agak terkejut dengan jawaban lugas adiknya. “Tapi... Ayah sama Ibu gimana, Ra? Ibu pasti bakal ngamuk, dan kondisi Ayah sekarang lagi gini. Apa aku gak egois?”“Gak usah mikirin mereka, Mbak,” tukas Tiara ketus. Ada nada kekecewaan yang mendalam saat membahas orang tua mereka.“Kalau Mbak tetap mikirin mereka, selamanya Mbak gak bakalan bahagia. Mbak udah ngalah menuruti kemauan Ayah dan Ibu dengan menikah. Sekarang lihat hasilnya?”Shanum menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Tiara menghantam logikanya.“Mereka yang menanam benih masalah ini di masa lalu, Mbak. Mereka be

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 297

    “Fadil? Buat apa dia bahas Mama?” Mendengar nama Fadil, Prana melepaskan pelukannya. Kedua matanya berubah lebih tajam. “Apa yang dia bicarakan?”Shanum menyeka pipinya dengan punggung tangan. “Sebenarnya dulu ceweknya Fadil pernah datang ke rumah, ngasih flashdisk. Di sana ada bukti Fadil selingkuh, terus ada rekaman obrolan dia sama teman dia bahas soal Ayah.”Prana mendengarkan dengan seksama, alisnya bertaut rapat.“Di rekaman itu,” Shanum menelan ludah, dadanya naik turun mengumpulkan keberanian. “Fadil bilang kalau Ayah selama ini sebenarnya miskin sama mendompleng hidup.”“Terus?”“Ayah katanya merebut warisan wanita lain. Makanya Ayah bisa jadi seperti sekarang. Ini juga yang jadi alasan kenapa Ayah gak bisa lepas dari keluarga mereka, soalnya yang membantu Ayah dan Ibu mengambil harta warisan itu ayah Fadil.”Shanum menatap Prana dengan pandangan memohon, menuntut kebenaran yang selama ini tertimbun rapi. “Apa benar, Mas? Warisan wanita lain yang dimaksud itu... milik Tante R

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 296

    “Maksud Mas gimana?” tanya Shanum mencari kepastian, begitu makanan yang mereka pesan sudah habis dilahap.Tadi sebelum menjelaskan, Prana memang bersikeras ingin Shanum menghabiskan makanannya dulu. Kalau tak, ia mengancam tak akan membuka suara. Terpaksa Shanum menuruti perintah itu meski setiap suapan terasa mengganjal di tenggorokannya.“Kalau Mas anak Ayah, berarti kita adik kakak, Mas,” cecar Shanum lagi, menuntut jawaban yang sejak tadi menggantung di udara.“Sayangnya… aku memang anak Pak Tua.” Prana menyandarkan punggungnya di kursi besi kantin rumah sakit. “Tapi kamu bukan.”“Maksudnya?” Wajah Shanum seketika pucat. Tangannya yang dingin terasa semakin dingin. Ia tahu penjelasan Prana selanjutnya pasti akan jauh lebih mencengangkan dan menjungkirbalikkan sisa kewarasannya.“Kita bukan saudara kandung, Sayang. Kamu bukan adik aku,” ucap Prana, sepasang matanya menatap Shanum lurus.“Jadi maksud Mas... Ayah bukan ayah kandung aku?”Prana melihat perubahan wajah Shanum yang san

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 4

    Fadil melangkah lebar memasuki klinik baru milik Prana, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Shanum, seperti menggiring tawanan menuju ruang interogasi. Shanum hanya bisa menunduk mengikuti langkah Fadil. Jantungnya bertalu hebat saat langkah mereka berhenti di depan pintu kamar yang kini tel

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 3

    “Makan yang banyak, Pran. Anggap saja rumah sendiri,” ujar Fadil akrab, sembari menyuap nasi dengan lahap. “Gimana? Sudah nyaman di atas?” Meja makan malam itu terasa seperti panggung sandiwara yang menyesakkan bagi Shanum. Aroma harum nasi hangat kalah oleh aura dominasi Fadil dan intensitas tata

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 2

    Shanum sudah berganti pakaian dengan daster katun sederhana yang tertutup hingga ke lutut, rambutnya sudah diikat rapi. Ia duduk di sisi sofa, berseberangan dengan Prana yang duduk tenang sambil sesekali melirik padanya. Fadil duduk disebelah Shanum, tampak sangat bersemangat. Kontras dengan dua

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 1

    “Aah… aku udah gak tahan… Aahh Shanum…” Tidak sampai tiga menit, erangan itu adalah tanda berakhirnya segalanya. Tanpa pemanasan, tanpa kecupan, apalagi usaha untuk memuaskan istrinya. “Sudah, Mas?” tanya Shanum getir. Fadil mencapai pelepasannya yang ia butuhkan, menyisakan kekosongan bagi S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status