Share

Bab 76

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-05-05 18:36:25

“Aneh. Ini terlalu mencurigakan,” gumam Shanum.

Ia tengah duduk bersandar di kepala ranjang, jemarinya lincah memeriksa riwayat panggilan dan pesan di ponselnya. Tak ada satu pun notifikasi dari Fadil.

Fadil bukan tipe pria yang menelan harga diri. Dia akan menyerang balik dengan rentetan cacian atau panggilan yang menuntut kepatuhan.

“Dia nggak mungkin diam,” bisiknya pelan. “Kalau bukan menyerang, berarti dia lagi menyiapkan sesuatu.”

Rasa penasaran itu mulai mengusik logikanya. Naluri kewasp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 251

    Shanum tersentak bangun. Napasnya memburu, dada naik turun cepat seperti baru saja berlari sangat jauh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Refleks, kedua tangannya meraba wajah, leher, lalu turun ke perutnya sendiri—memastikan semua bagian tubuhnya masih utuh.Beberapa detik ia hanya terpaku, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Di pinggangnya melingkar lengan Prana yang tertidur di belakangnya, memeluknya dari samping dengan napas pelan dan teratur.Ia memejamkan mata sebentar, mengingat rentetan kejadian kemarin—kedatangan Kartika, video yang diambil Mega, hingga pesan Tiara yang mengabarkan semuanya sudah tersebar luas.“Astaga...” gumamnya lirih dengan tubuh menegang, sadar apa yang terjadi sebelumnya bukan mimpi.Shanum memegang punggung tangan Prana yang menempel di perutnya, mengangkat lengan itu perlahan agar tak mengejutkan sang dokter. Kakinya bergeser menuju tepi ranjang. Namun begitu telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, dekapan di pin

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 250

    Prana tak bergerak sedikit pun. Dibiarkannya Shanum menangis dalam pelukannya selama yang wanita itu butuhkan. Tangis yang semula pecah keras perlahan berubah menjadi isakan kecil.“Maaf... maafkan aku,” bisik Prana.Napas Shanum yang tadi memburu mulai tenang, meski sesekali masih tersendat. Jari-jarinya tetap mencengkeram erat kemeja Prana. Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi itu, hingga akhirnya tubuh Shanum perlahan melemas.Kepalanya bersandar di dada Prana, kedua matanya terpejam kelelahan. Bahkan setelah tertidur, alisnya masih berkerut. Sesekali bibir pucat itu bergerak pelan.“Jangan...”Prana langsung menunduk, mendekatkan telinganya ke mulut Shanum.“...jangan pukul aku...”Kalimat lirih itu nyaris tak terdengar. Tapi cukup membuat dada Prana seperti diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tangannya yang semula mengusap punggung Shanum berhenti sesaat.“Ada aku, sayang... gak ada yang bisa mukul kamu lagi,” bisik Prana.Pelan-pelan diangkatnya tubuh Shanum, dibar

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 249

    Ponsel di atas pangkuan Shanum terus berkedip. Nama Prana muncul di layar tanpa jeda, bergantian dengan rentetan notifikasi media sosial yang menyembul dari bagian atas bar gawai tersebut.Mas Prana Calling...Shanum melewatkan panggilan itu. Pikirannya tersedot pada notif media sosialnya yang terus bertambah setiap detik. Jempolnya bergerak pelan, membuka unggahan video yang kini memenuhi beranda.Sesaat ia hanya menatap gambar diam di layar. Jemarinya ragu menyentuh kolom komentar. Tapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya. Begitu kolom itu terbuka, ribuan komentar langsung memenuhi layar.Komentar teratas berbunyi, “Gini nih kalau rumah tangga pakai duit haram.”Shanum menelan ludah, ia membaca komentar yang lainnya. “Suami istri sama aja. Dua-duanya tukang selingkuh.”“Suami lagi di penjara malah istrinya tinggal serumah sama dokter bedah. Mungkin enak kali ya bisa main bedah-bedahan.”“Jangan gampang percaya perempuan nangis.”Setiap komentar baru terasa seperti seseo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 248

    “Kenapa gak ada yang menghubungiku?” tanyanya menatap aplikasi pesan berwarna hijau. “Tiara juga gak pernah datang lagi.”Shanum menatap nama adik kandungnya itu di daftar kontak. Pertemuan terakhir mereka terjadi sebulan lalu, tepat sebelum ia keluar dari rumah sakit. Saat itu, Shanum sendiri yang melarang Tiara datang menemaninya, takut Fadil akan mengendus keberadaannya lewat sang adik. Tapi menghilang tanpa satu pesan pun selama berminggu-minggu jelas bukan tabiat Tiara yang biasanya cerewet dan mudah cemas.Ibu jarinya menyentuh ikon gagang telepon pada nama sang ayah, Bobby. Ponsel ditempelkan ke telinga. Bukan nada sambung yang terdengar, melainkan suara operator yang menyatakan nomor tersebut di luar jangkauan.Shanum memutus sambungan, beralih menekan nomor ibunya, Ani. Hasilnya sama. Kali ini operator menyebutkan nomor yang dituju tak aktif.Cemas mulai bercampur penasaran. Shanum mencoba menghubungi Tiara. Panggilan langsung terputus dengan bunyi sibuk yang pendek.“Kenapa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 247

    “Kamu gak apa-apa kan?” tanya Kalid, suaranya melunak, tak lagi sedingin saat menghadapi Kartika dan anak-anaknya tadi. “Ada yang terluka?”Kedua lutut Shanum langsung kehilangan tenaga. Ia nyaris jatuh jika tak cepat bersandar pada dinding. Wajahnya mendongak pelan, menangkap kedua mata Kalid yang begitu khawatir.Belum sempat ia menjawab, tiga petugas keamanan berseragam lengkap tiba di depan unit mereka dengan napas terengah-engah.Komandan sekuriti yang memimpin di depan mendekat, bertanya dengan nada siaga, “Selamat sore, dokter. Mana orang yang harus kami amankan?”Raut wajah Kalid seketika berubah santai, seakan ketegangan beberapa menit lalu tak pernah terjadi. Ia melirik ke arah lorong lift barang tempat Kartika, Putri, dan Mega melarikan diri, menatap sang komandan dengan senyum tipis.“Itu, orang-orang yang berpapasan sama Bapak pas keluar dari lift tadi,” jawab Kalid santai sambil menunjuk arah lorong. “Mereka baru lari pakai lift barang. Tolong pastikan mereka keluar dari

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 246

    “Lepaskan,” ucap pria itu datar penuh otoritas yang menekan.“Dokter Kalid,” bisik Shanum sangat pelan.Kalid menarik tangan Shanum dengan satu gerakan lembut namun tegas, membawa wanita itu mundur dan menyembunyikannya di belakang punggung tegapnya. Memosisikan tubuh besarnya sebagai tameng, memutus segala akses fisik maupun visual dari tiga wanita di hadapan mereka.“Siapa kamu?!” teriak Kartika, suaranya melengking sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah langsung mendongak, matanya melotot tajam. “Jangan ikut campur ya! Dia ini menantu saya!”Kalid tak menjawab. Wajahnya sekaku es, datar tanpa ekspresi, seolah teriakan Kartika hanyalah angin lalu yang tak berarti. Sikap diamnya penuh intimidasi itu justru membuat suasana koridor terasa semakin mencekam.Merasa diabaikan, Kartika menoleh cepat ke arah Mega yang masih memegang ponsel menyorot wajah Kalid. “Mega, Lihat dia! Apa dia pria yang kamu lihat di restoran sama Shanum?”Mega menurunkan ponselnya sedikit, menyipitk

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 223

    Suara pintu depan yang terkunci bergema samar di dalam kamar. Detik itu juga, sepasang mata Shanum terbuka. Kedua kelopaknya yang semula terpejam rapat kini terbuka lebar. Ia tak benar-benar terlelap. Pengaruh obat memang membuatnya mengantuk, tapi suara Prana menelepon ibunya membuatnya langsung w

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 214

    “Kenapa datang-datang muka udah kayak baju kagak disetrika?” tanya Hendra—sahabat Prana sekaligus pengacara Shanum—sambil menyimpan dua gelas kopi di atas meja tamu kantornya.Prana menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan lelah. Ia baru sampai beberapa menit yang lalu setelah menemui Ralin

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 213

    “Mbak, tadi Mbok Yah telepon aku. Katanya Mbok Yah gak bisa datang lagi ke sini buat nemenin Mbak."” buka Tiara yang duduk di kursi samping ranjang, sibuk mengupas buah apel dengan pisau kecil.Shanum yang kini sudah bisa duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang Shanum menoleh kecil pa

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 212

    “Fadil, kasus kamu ini sudah menyebar ke mana-mana. Media online, media sosial, semuanya membahas soal penganiayaan ini. Kita benar-benar harus berhati-hati sekarang. Langkah kita dipantau banyak orang,” ucap Kartika—ibu Fadil—mencondongkan badannya ke depan, menatap anak sulungnya di ruangan khusu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status