LOGIN
Aluna menarik napas pelan untuk menenangkan hatinya. Walaupun sebenarnya ia sudah kebal. Namun, tangannya saling meremas.
Aluna tidak jauh berdiri dari dua orang itu, hanya dibatasi sebuah pilar besar. Sungguh kalimat yang membuat perut Aluna seperti diaduk-aduk. Bahkan suaminya itu tidak pernah memanggilnya dengan panggilan mesra. Jangankan memanggil sayang, menyentuhnya pun tidak. "Sayang, aku mau ini," tunjuk wanita itu. "Yang ini? Bagaimana jika yang ini? Barang yang kau pilih itu terlihat jelek dan murah," balas sang pria. "Memangnya boleh? Aku boleh memilih yang lebih mahal harganya?" "Tentu saja boleh, baby. Apapun akan ku lakukan untukmu." Menyentil ujung hidungnya. Ya. Aluna memergoki sang suami, Bara Mahendra sedang jalan dengan seorang wanita dan kali ini wanita yang berbeda. Posisi mereka berada di sebuah toko emas. Bara terlihat sedang memilihkan sebuah kalung. "Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di sini?" Mood belanja Aluna mendadak hilang. Aluna segera meletakkan kalung yang tadinya ia pegang dan hendak ia beli. Namun, Aluna mengurungkan niatnya dan ia ingin cepat-cepat keluar dari sana. Bukan karena Aluna takut bertemu dengan Bara, tapi Aluna sangat malas melihat wajah sang suami. *** "F*CK!" Bara mengeratkan jari jemarinya pada setir mobil yang sedang ia pegang. Emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Bukan sekali atau dua kali ia melakukan hal seperti itu," cicitnya. "SH*T!" umpat Bara memukul kasar setir mobilnya. Antara marah, benci, dan jijik yang Bara rasakan pada wanita itu. Itulah sebabnya Bara selalu tidak betah jika berada di rumah. Padahal itu adalah rumahnya sendiri. "Jika bukan karena Mama yang meminta. Aku juga tidak sudi menikahi wanita itu," runtuk Bara. Bagaimana tidak? Bara pria tampan dan berwibawa, memiliki karir yang bagus, dan tentu jangan tanyakan lagi jumlah kekayaannya. Ia bisa mencari wanita lebih baik dari pilihan sang ibu. Walaupun sebenarnya Aluna itu sudah definisi seorang wanita baik dan santun. Wanita idaman para pria jika kedua matanya masih normal. Saat hendak turun dari mobilnya, atensi Bara tertuju pada ponselnya yang bergetar. Emosi Bara mendadak mereda saat melihat nama yang muncul di layar ponselmya. Akhirnya Bara mengurungkan niatnya untuk masuk ke hotel menyusul mereka berdua. Bara lebih tertarik untuk menjawab panggilan telepon itu. "Ya. Halo ...." Bara menempelkan benda pipih itu ke telinganya sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. "Oke, aku akan ke sana sekarang." Mobil berhenti di sebuah Bar. Tanpa basa-basi, Bara langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam Bar. "Woi ... Bara!" panggilnya sambil menepuk sofa yang masih ada sisa ruang. Bara melangkah mendekat dan duduk di sebelahnya. Sangat terlihat dari wajah Bara jika pria itu sedang tidak mood bertemu dengan mereka, tapi apa boleh buat, dengan sangat terpaksa Bara duduk di sana. Untuk sepersekian detik Bara langsung menyambar seloki yang ada di tangan sahabatnya itu. Diteguknya sampai habis. Tidak ada yang protes atau berkomentar selama mereka sudah paham karakter si Bara Mahendra. "Kenapa, Bar?" Mengambil seloki yang ada di atas meja. "Berantem lagi dengan istrimu?" Bara tidak menjawab, karena ia sedang fokus pada seseorang. Kedua manik mata hitam itu terlihat sedang menelanjangi seseorang. "Tidak perlu bertanya tentang wanita sialan itu!" sungut Bara. "Wow ... wow ... Apakah kau sedang cemburu, Bar?" ledek lainnya. "Apa? Cemburu? Dalam kamus seorang Bara Mahendra tidak ada kata cemburu. Yang ada hanya rasa jijik!" "Wait! Jijik? Kau tidak salah bicara, Bar?" Menatap Bara, bergidik ngeri. "Ngaca dulu deh, Bar." Tertawa mengejek sambil meletakkan seloki. "Jangan samakan Aluna dengan dirimu, Bar. Aku hapal betul kau ini manusia seperti ap—" BRAKK!! Gebrakan tangan Bara memotong kalimat itu. Semua yang ada di sana terkejut dan menatap Bara. Bara melirik sinis. Bara paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu, meskipun itu hanya bercanda. Alih-alih ingin mencairkan suasana hati Bara yang terasa nano-nano campur aduk seperti es teller, tapi justru mood Bara semakin dibuat anjlok. "Aku datang ke sini untuk mencari hiburan, bukan untuk mendengarkan ocehan kalian yang terlihat sangat membela Aluna dan memojokkanku. Teman macam apa kalian ini," dengus Bara. "Hiburan atau kehangatan, baby?" Seorang wanita memberanikan diri mendekati Bara dan dengan cekatan duduk di sisi Bara. Reflek tangannya langsung menyentuh dada Bara. Ia berusaha menenangkan Bara. Tangannya bermain dengan lincah dari atas ke bawah. Saat tangan itu hampir menyentuh torpedo Bara yang masih dibalut oleh kain tebal. Tangan Bara menahannya. "Mau tidur denganku?" Menarik tangan wanita itu, menggeser, dan meletakkan tepat di sasaran, lalu meremasnya. Kalimat itu terdengar bukan seperti ajakan, melainkan seperti perintah yang tidak bisa ditolak. "Tentu saja. Aku ingin tidur denganmu dan ...." Mata itu tertuju pada benda yang sedang dipegangnya. Bara melirik wanita yang ada di sampingnya. Tatapan wanita itu masih fokus pada tangan Bara yang sedang menuntun tangannya menekan dan meremas pelan. "Kau mau ini, baby?" bisik Bara di telinganya. Wanita itu mengangguk. "Kalau begitu puaskan aku!" Tanpa pikir panjang Bara berdiri dan menarik wanita itu saat sang wanita memberi respons positif bahwa ia menginginkan lebih dari itu. "Ia memang tidak pernah bisa berubah. Kasian Aluna. Kenapa wanita sebaik Aluna harus bertemu dan menikah dengan pria maniak seperti Bara?" "Sudahlah. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka." *** "Satu langkah lagi selesai." Pria itu mendapatkan Aluna sedang menikmati teh hangat di sebuah ruangan yang menghadap ke taman belakang. "Kau sudah pulang, Bar?" Aluna bangkit dari duduknya saat melihat sang suami. "Aku buatkan teh hangat, ya." "Tidak perlu!" ucap Bara ketus. "Aku juga tidak akan berlama-lama di sini." "Bukankah ini rumahmu, Bar," celetuk Aluna. "Memang ini rumahku, tapi aku sendiri tidak betah berada di rumah ini terlalu lama," tandas Bara. "Jadi?" sambung Aluna dengan tenang. Bara menarik napas kasar menahan emosi yang mulai menggerogotinya. Ia tidak ingin terpancing emosi dengan sikap tenang Aluna. BRAAKK!! Aluna terkejut ketika tiba-tiba sebuah map dilempar tepat di meja di hadapannya dengan kasar. "Apa ini?" tanya Aluna. "Surat cerai!" tegas Bara.Ya, kali ini pasti mereka akan melakukannya di dalam kamar hotel. Aluna sudah tidak perawan lagi. Jadi, jika Aluna melakukannya dengan pria itu kali ini, tentu tidak akan terlihat perbedaannya sama sekali. Pikiran kotor Bara melangkah semakin jauh dan liar. Jangan-jangan, Aluna juga akan menghisap jemari Elrumi dengan sensual, persis seperti apa yang wanita itu lakukan pada jemarinya di atas ranjang tadi malam. Ruangan kantor itu mendadak hening untuk beberapa saat... Bara memejamkan matanya erat-erat, ia mendadak teringat kembali bagaimana rasanya. Ingat dengan teramat jelas bagaimana bibir lembut Aluna menyentuh kulit jarinya, dan ingat bagaimana lidah hangat Aluna bergerak perlahan menelusuri telunjuknya. Bara bahkan mengingat dengan sangat detail bagaimana nikmatnya saat bibir lembut itu melingkupi miliknya sepenuhnya sembari mengeluarkan suara desisan pasrah. Rasanya begitu hangat, kenyal, dan ketika Aluna mulai menghisapnya dengan kuat, kenikmatan yang dihantarkan benar-b
"Kau tidak pergi kerja?" tanya Bara dengan dahi berkerut halus sembari menarik kursi kayu mahoni di meja makan. Pria itu sudah bersiap untuk sarapan, akan tetapi ia mendadak heran melihat Aluna masih mengenakan pakaian santai rumah, sama sekali belum bersiap dengan pakaian rapi untuk pergi ke butik seperti biasanya."Aku izin libur hari ini," jawab Aluna tenang, sembari meletakkan secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma khas di hadapan sang suami."Ada acara?" tanya Bara heran, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih sendok.Aluna tidak menjelaskan panjang lebar, ia hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban. Menatap respons singkat dari istrinya, Bara seketika menyunggingkan senyum sinis."Dengan Elrumi?" tebak Bara langsung, nadanya terdengar tajam sebelum ia mendadak menyibukkan diri secara sepihak dengan sepiring sarapan di depannya, berpura-pura acuh tak acuh."Itu..." Aluna sempat menjeda kalimatnya, terdengar ada keraguan yang terselip dari nada su
Mata Aluna membelalak sempurna dalam kegelapan kamar saat untaian kalimat perintah itu lolos dari bibir Bara. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat sebagai tanda penolakan. Sebagai wanita yang masih sangat awam dengan aktivitas intim sejauh itu, membayangkan permintaan gila Bara saja sudah sukses membuat perutnya mual karena rasa syok. Aluna semakin dirayapi kepanikan saat menyadari tubuh kekar Bara mulai merangkak naik, mengungkungnya demi memaksakan kehendak."A-aku tidak bisa, Bar...""Karena selama satu bulan ini aku hanya boleh melakukan ini denganmu, jadi kau harus melakukan ini untukku!" potong Bara cepat, suaranya memberat penuh tuntutan ego yang egois."Bar, tapi aku....""Sebentar saja, Aluna!" potong Bara lagi, memangkas kalimat istrinya tanpa ampun. "Kecuali jika kau ternyata suka dan ingin bermain lebih lama lagi," kekeh Bara rendah, sebuah tawa nakal yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Aluna.Aluna kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat se
Suasana di dalam kamar sudah dalam keadaan gelap gulita saat Aluna melangkah masuk dengan perlahan. Siluet tubuh tegap Bara tampak sudah meringkuk di atas ranjang. Aluna merangkak naik dengan gerakan pelan agar tidak mengusik sang suami, lalu berbaring telentang sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat samar terpapar sisa cahaya lampu koridor luar.Mama Kay baru saja menutup panggilan telepon dengannya beberapa menit lalu. Jujur, Aluna tidak tahu harus merasa senang atau sedih mendengar suara mama angkatnya yang terdengar begitu bahagia menceritakan kedatangan Bara malam tadi."Bar, kau sudah tidur?" tanya Aluna lirih, memecah keheningan malam."Sudah," jawab Bara pendek, suaranya terdengar jernih tanpa serak khas orang mengantuk.Aluna seketika tersenyum tipis, rasa geli menyergap dadanya. Mana ada orang tidur yang masih bisa menyahut dengan ketus sewaktu ditanyai. Aluna memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sembari menghadap ke arah suaminya. Seolah
Aluna sudah kembali sibuk dengan piringnya sendiri saat tiba-tiba ia merasakan tepukan pelan di bahunya. Wanita itu menoleh, mendapati Bara tengah menyodorkan potongan terong balado lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa banyak bicara, Aluna kembali memegangi pergelangan tangan kokoh Bara dan melahap makanan itu langsung dari jemarinya demi menjaga situasi di depan Mama Kay.Damn! umpat Bara dalam hati. Sentuhan basah dari bibir Aluna di ujung jarinya seketika mengirimkan desatan listrik yang menyengat. Sialan, pria itu mendadak menginginkan bibir ranum itu memuaskan hasratnya malam ini juga.Selesai makan, acara perkenalan yang riuh masih terus berlanjut di ruang tengah. Namun, Bara bahkan tidak peduli lagi dengan nama anak-anak panti. Ia tidak bisa berkonsentrasi karena benaknya terus memutar ulang bagaimana lembutnya bibir Aluna menyentuh kulit jarinya, memberikan sensasi panas hingga miliknya yang berada di bawah sana ikut bereaksi menuntut pelepasan.Beruntung, se
Mobil pun telah sampai di panti dan Bara bertambah geli saat ponselnya kembali bergetar di genggaman. Pria itu keluar dari dalam mobil, melangkah santai melintasi halaman semen yang sederhana sembari menjawab panggilan dari Aluna. "Aku sudah di depan," jawabnya dengan nada santai, sengaja mengulur intonasi suaranya untuk memancing reaksi sang istri. "Hah? Okay, tunggu sebentar. Aku pamit dulu dengan Mama dan juga adik-adik." Bara tidak berniat menjawab lagi karena langkahnya kini telah sampai di depan pintu utama bangunan panti. Dengan senyum geli yang kian mengembang di sudut bibir, ia mengabaikan kepanikan Aluna di seberang sana dan langsung menekan bel rumah dengan percaya diri. "Bar, kau..." Suara Aluna terdengar sangat cemas, memutus kalimatnya sendiri seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak habis. "Aku?" tanya Bara balik, menantang keheningan. Tidak ada jawaban dari Aluna melalui sambungan telepon. Namun, hanya butuh beberapa detik bagi Bara untuk mendengar der
Di dalam bangsal kelas tiga yang pengap, udara terasa sesak oleh aroma disinfektan dan keputusasaan. Yudi terbaring dengan wajah yang masih memar, ungu kebiruan dengan gips yang menahan rahangnya agar tetap pada tempatnya. Di sisi ranjang, sang ibu duduk gelisah, jemarinya terus memilin ujung kain
Setelah pintu kaca depan tertutup rapat, Aluna membalikkan badannya dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke arah para karyawan yang masih berdiri mematung di antara deretan manekin dan gantungan pakaian, dengan wajah tegang sembari berbisik-bisik cemas di sudut-sudut butik. Riuh spekulasi yang sem
Aluna mengembalikan ponsel milik Maya dengan gerakan yang teramat pelan, seolah gawai itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ditatapnya sang asisten yang masih sesenggukan di atas lantai dengan tatapan yang melembut, menyembunyikan badai kepanikan yang sebenarnya ikut bergemuruh di d
Suara deru mesin mobil mewah milik Tama berhenti tepat di depan pelataran kediaman megah Bara Mahendra. Malam kian larut, namun lampu di ruang kerja utama sang konglomerat masih menyala terang. Tama melangkah masuk dengan ritme yang sedikit melambat. Kemeja putih formalnya kini tidak lagi rapi,







