Beranda / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 15- Lemburan Pukul Sebelas

Share

15- Lemburan Pukul Sebelas

Penulis: Sora Carita
last update Tanggal publikasi: 2026-05-24 23:14:15
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ruang kerja Geza adalah satu-satunya tempat yang masih bercahaya di rumah itu, menyisakan kesunyian yang mencekik. Geza duduk di balik meja mahoninya, jemarinya memutar pena dengan ritme yang monoton, sementara matanya tajam mencoret anggaran salah satu proyek Janitra yang sudah Tala review.

Tala duduk di kursi seberangnya, tumpukan dokumen setebal kamus di depannya nyaris membuat kepalanya pecah. Sejak Geza memberinya SK pengangkatan itu, Tala merasa dirinya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Cindi Maelani
kirain kadonya udah di pake sama tala
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sebelum Tiga Tahun   74- Solusi Syar'i

    Dari balik dinding kaca area tunggu, pandangan Tala tidak lepas dari sosok Sansa yang tampak menggemaskan dengan baju renang bermotif bunga matahari. Ini adalah trial class pertama anak itu, dan karena ini pengalaman pertamanya masuk ke kolam dalam, Geza sengaja ikut menceburkan diri untuk menemani dan menenangkan Sansa di dalam air.”Jadi amunisi dari gue udah dipake belum?” tanya Amika setengah berbisik, nadanya terdengar penuh selidik sekaligus menggoda.Amika si cerewet itu memang sengaja mengekori Tala ke kolam renang sore ini. Kakinya sudah pulih dan karena tidak punya agenda apa pun di akhir pekan, jadilah ia hadir di sana hanya untuk merecoki dan menggoda Tala.Tala sontak menoleh tajam, beruntung mereka duduk terpisah jauh dari para orang tua yang lain.“Heh, itu ngaco banget tahu! Ngirim barang laknat gitu terang-terangan banget. Gue gak butuh,” balas Tala ketus dengan suara tertahan.”Belum butuh kali. Gue tuh sedia payung sebelum hujan,” sergah Amika cepat, tak mau kalah.

  • Sebelum Tiga Tahun   73- Tipe Adrian

    "Om, lo tuh mesum banget sih! Bisa gak sih jangan kayak gitu di tempat umum?" protes Hanum berapi-api begitu mereka semua sudah duduk mengitari meja panjang di restoran dekat kantor. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa syok pasca-menonton pertunjukan gratis tadi.Sama syoknya dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu—Sania, Hanum, Adrian, Jia, Sus Lia, dan tentu saja Sansa.Lengkap.Kurang security saja, pikir Tala miris."Salah?" tanya Geza cuek. Pria itu dengan santai menuangkan air putih ke gelas Tala, sama sekali tidak terlihat terganggu atau malu."Kan istri sendiri.""Itu kantor, Hei! Kantor!" sahut Hanum lagi, gregetan dengan ekspresi lempeng Geza. "Untung Sansa gak lihat.”Terimakasih sus Lia yang sangat bisa gerak cepat di situasi darurat."Itu ruangan istri saya. Kalian harusnya ketuk dulu kalau mau masuk," balas Geza tak mau kalah.Sania yang duduk di ujung meja ikut menyahut pelan sambil meringis. "Udah kali, Pak. Saya udah ketuk tiga kali, tapi bapaknya aja yang ke

  • Sebelum Tiga Tahun   72- Tertangkap Basah

    Geza melangkah maju, lalu dengan santai duduk di kursi tepat di depan meja kerja Tala. Tangannya terulur, ikut membuka dan membalik map yang tengah Tala cek sejak tadi."Ada yang urgent banget sampai harus dikerjain weekend gini?" tanya Geza, matanya beralih menatap Tala dengan intensitas yang sama seperti subuh tadi.Tala menelan ludah pelan.Yang urgent itu sebenarnya jarak kita sekarang, Geza, jerit Tala dalam hati."Buat persiapan bidding Senin besok, biar gak ada kendala.” jawab Tala seformal mungkin, mencoba membentengi diri.Padahal kendala yang sebenarnya sudah muncul sejak dini hari tadi.Dan nama kendala itu...Geza Ragendra."Kamu... tahu dari mana aku lembur di sini?"Geza menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mengulas senyum miring yang teramat tipis. "Sania report ke saya."Ah, sial. Tala memejamkan matanya sesaat, merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa satu fakta penting; sekoperatif apa pun Sania padanya sekarang, gadis itu tetaplah salah satu "antek-antek"

  • Sebelum Tiga Tahun   71- Melarikan Diri

    Saat Tala benar-benar terbangun, pria itu sudah pergi entah ke mana. Sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin, namun sisa pelukan dan kecupan hangat di keningnya subuh tadi masih terasa membekas nyata. Seketika, akal sehat Tala mulai menjerit lagi. Ini tidak benar. Logikanya yang sempat meleleh tadi menuntut untuk dipasang kembali.Ini hari Sabtu, awalnya ia berencana untuk diam di rumah saja menghabiskan waktu bersama Sansa. Namun, saat selesai mandi dan bersiap sarapan, ia mengurungkan niat itu begitu mendengar kalimat Hanum."Om Eja udah berangkat dari jam enam tadi, Tante. Katanya mau tenis dulu, nanti pulang siangan deh kayaknya," ujar Hanum sambil menata piring.Baguslah. Berarti rumah aman sampai siang. Mereka tak perlu pamer keharmonisan di depan Hanum dan Tala tak perlu gelisah saat jarak mereka terlalu dekat.Jika Geza pulang agak siangan dan berangkat hanya untuk tenis, itu artinya sisa hari Sabtu ini pria itu akan berdiam di rumah. Dan menghabiskan waktu seharian penuh den

  • Sebelum Tiga Tahun   70- Mimpi Buruk

    Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.Ia mengenali tempat itu. Perlahan, pandangannya jatuh pada sebuah batu nisan. Nama ayahnya terukir di sana membuat dadanya langsung sesak."Nggak..."Suara itu terdengar seperti miliknya, tetapi begitu jauh. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Lututnya melemas hingga seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sangat hangat dan akrab."Tala..."Jani.Pelukan kakaknya selalu sama. Erat. Menenangkan. Membuatnya merasa semuanya akan baik-baik saja. Namun kehangatan itu hanya bertahan sesaat. Dalam sat

  • Sebelum Tiga Tahun   69- Impian Tala

    Ujian sekamar dengan Geza masih belum selesai. Ini adalah hari ketiga sekaligus malam terakhir Hanum menginap di rumah mereka. Selama tiga hari ini, Tala sudah cukup tersiksa menghadapi kombinasi mematikan dari seorang Geza. Geza yang anteng, Geza yang bertingkah menggemaskan, Geza yang baru selesai mandi dengan aroma segar yang menguar dalam jarak dekat. Dan malam ini, pria itu punya tambahan pesona baru yang jauh lebih berbahaya—Geza yang terlihat rapuh dan kesepian.Malam ini, mereka duduk bersandar pada headboard ranjang, mengobrol ngalor-ngidul begitu saja. Berawal dari membahas Hanum dan karier barunya yang tengah dirintis di Jakarta, lalu bergeser ke pekerjaan, keluarga, hingga kenangan-kenangan lama yang tanpa sadar membawa mereka pada sosok Jani.Geza tersenyum kecil. "Semua masakan Mbak Jani enak."Tala tersenyum tipis. Masakan kakaknya memang seenak itu. Tala kehilangan ibunya saat masih berusia enam tahun, sementara Jani berusia sebelas tahun. Saat itu, Tala dititipkan pad

  • Sebelum Tiga Tahun   22- Suami Istri Harmonis

    Suasana ruang keluarga mendadak terasa lebih berat. Di atas meja marmer, tumpukan berkas site visit proyek Janitra yang akan Tala tinjau dalam satu minggu ke depan sudah menggunung. Ini adalah kali pertama Tala terjun langsung ke lapangan dengan posisi baru di Janitra, dan dia butuh persiapan matan

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   43- Babak Berbahaya

    “Kenapa lagi kalian?” tanya Bastian jengah. Matanya bergantian menatap Geza dan Tala yang sejak tadi hanya saling diam.Di ruang privat restoran sushi itu, ia baru saja menghabiskan hampir tiga puluh menit untuk menjelaskan proses banding Dharma. Sebagian besar istilah hukumnya hanya lewat begitu s

  • Sebelum Tiga Tahun   27- Kebohongan Elegan

    “Nggak lah, Bude.” Geza tersenyum kecil sambil mengusap punggung tangan Tala pelan. “Saya percaya sama Tala.”Ia berhenti sejenak, lalu menatap Tala sekilas dengan sorot mata yang sulit dibaca.“Kalau nggak percaya, saya nggak mungkin naruh banyak hal penting di tangan dia.”Sebuah ancaman.Sampai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status