Masuk“Pengawal kamu bakal datang pagi ini.”
Divya mengangkat wajah menatap Jagar yang pagi-pagi sekali memutuskan untuk mampir ke rumahnya. ”Siapa?” ”Kamu tahu dia.” ”Namanya?” ”Tunggu saja dia datang.” ”Mas nggak mau kasih tahu namanya?” ”Dia akan datang lima belas menit lagi. Aku pergi dulu.” ”Mas!” Tapi Jagar sudah masuk ke mobilnya yang dikendarai oleh Wira. Divya menghela napas, masih mengenakan kaos rumahan dan belum berganti pakaian untuk pergi bekerja. Niatnya ingin kembali masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba semua mobil sport memasuki halaman rumahnya yang luas. Divya memicing. Siapa yang datang? Ia tidak mengenali mobil ini sama sekali. Apa salah satu keluarganya? Kalau memang salah satu keluarganya, mengapa sekuriti membiarkannya masuk tanpa memberitahu Divya lebih dulu? Mobil itu berhenti tepat di depan teras. Mobil sport keluaran terbaru yang harganya cukup fantastis. Divya memicing dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang datang berkunjung ke rumahnya sepagi ini? Pintu mobil terbuka, sepatu hitam mengkilat menginjak tanah. Sedetik kemudian, pria dengan setelan rapi keluar dari mobil dan Divya ternganga saat pria itu berbalik menatapnya—oh tidak! Di antara banyak pria di dunia ini, mengapa harus pria yang dibencinya?! Pengawal barunya sangat tampan, diberkati dengan wajah rupawan yang bisa membuat wanita memohon untuk disentuh olehnya, rambut hitamnya disisir dengan rapi, wajahnya tegas dengan mata berwarna abu-abu. Pria itu bergerak dan menghampiri Divya. Seketika Divya memicing tajam. Rasa benci menggebu-gebu memenuhi dadanya. ”Selamat pagi, Princess,” sapaan itu dibayangi oleh ejekan. Pria itu memanggilnya dengan ejekan yang selalu berhasil membuat Divya semakin marah. Divya mendongak, perbedaan tinggi mereka cukup signifikan ditambah dengan Divya masih memakai sandal berbulu merah yang tipis di kakinya yang mungil membuat Divya merasa begitu pendek. Divya menatap pria itu penuh kebencian, tidak peduli setampan apa pun pria ini, bagi Divya, Xavier Frederick adalah iblis. “Halo, Brengsek,” balas Divya tajam. “Entah apa yang dipikirkan kakakku hingga menjadikan kamu sebagai pengawalku.” Xavier sedikit membungkuk dengan senyum mengejek. “Aku juga berpikiran sama. Tidak menyangka untuk pertama kalinya kita sepakat atas sesuatu. Apa yang dipikirkan suami sepupuku itu hingga memilih aku sebagai pengawalmu? Jika bukan karena dia atasanku, aku tidak akan sudi menerimanya.” ”Oh, kamu pikir aku sudi?” Divya memicing, “percayalah, Frederick, aku lebih suka bunuh diri daripada harus bersamamu selama satu tahun.” ”Silakan.” Xavier bersandar santai di ambang pintu. “Lakukan apa pun keinginanmu. Aku tidak akan mencegahnya.” Divya menggigit lidah agar makian tidak terlontar. Wanita itu berusaha menghela napas dalam-dalam. Bersikap tenang. Divya mengingatkan diri sendiri bahwa percuma mengajak pria ini bertengkar sepagi ini, itu akan merusak seluruh moodnya sepanjang hari. ”Enyahlah ke neraka.” Divya berbalik dan berjalan menuju lantai dua. Suara siulan terdengar dari belakang, Divya berbalik dengan tatapan sengit sementara Xavier tersenyum geli pada sandal berbulu merah di kaki Divya. ”Apa semua benda kesukaanmu berwarna merah, Princess?” Divya berbalik, memicing tajam. “Apa maksudmu, Frederick?” ”Tidak hanya lingerie, sandalmu juga berwarna merah. Aku penasaran apa—“ mata itu dengan kurang ajar menatap tubuh Divya yang dibalut kaos kebesaran dan celana pendek—“pakaian di balik kaos itu juga berwarna merah?” ”What the f—“ Divya mengatupkan mulutnya. Jarang sekali ia bicara kotor karena ia terbiasa menjaga ucapan selama ini, tetapi pria di depannya selalu berhasil membuat Divya ingin mengumpat lebih banyak dari yang pernah dilakukannya seumur hidup. Andai Eyang tahu bahwa Divya meneriakkan makian-makian kotor di kepalanya saat ini, Eyang akan menghukumnya dengan mengurungnya di kamar gelap. Divya lagi-lagi menarik napas, menjaga ketenangannya. Mahesa selalu tenang. Mahesa selalu bisa mengendalikan situasi. Kata-kata itu seperti mantra yang sudah mengakar kuat dalam benaknya. Kata-kata dari Eyang yang bahkan di dalam tidur pun tidak pernah mengizinkan Divya untuk lepas. Divya berbalik tanpa kata-kata dengan wajah yang tenang, wanita itu menaiki tangga menuju kamarnya dengan langkah yang anggun bak putri kerajaan yang sudah diajarkan tata krama bahkan sejak baru menghirup udara di dunia. Xavier yang bersandar di pintu memicing, dirinya tahu bahwa semua Mahesa seolah memiliki ketenangan luar biasa. Mahesa paling tua bahkan bisa membunuh dengan begitu tenang. Mahesa kedua bahkan lebih parah, mencincang manusia dengan wajah yang begitu tenang seolah-olah hanya sedang mencincang sayuran, dan Mahesa ketiga—satu-satunya perempuan—juga memiliki ketenangan yang tidak biasa, sedetik Divya ingin meledak, tapi sedetik kemudian wanita itu menguasai dirinya. Hanya Mahesa yang bungsu yang sedikit lebih ekspresif. “Selamat pagi, Tuan.” Xavier menoleh, menemukan seorang pria yang usianya mungkin sudah lebih dari empat puluh tahun, membungkuk kepadanya. ”Saya Hasan, kepala pengawal di rumah ini.” ”Xavier Frederick. Dan tidak perlu membungkuk padaku.” ”Tuan Jagar sudah mengatakan bahwa Anda adalah pengawal Nona Divya mulai hari ini. Anda juga sepupu dari Nyonya Killa. Jadi saya tidak boleh untuk tidak membungkuk.” Xavier menghela napas, menyadari bahwa di keluarga Mahesa, hirarki terlihat jelas, tidak sesantai keluarganya. Mahesa menjunjung tahta begitu tinggi sementara bagi Zahid semua anggota keluarga itu sama. Perbedaan yang mencolok antara Zahid dan Mahesa. ”Lakukan apa pun yang kamu mau, Hasan. Aku mau berkeliling.” ”Silakan, saya akan menemani—“ ”Tidak perlu, aku tahu harus mengambil arah yang mana. Ingatkan pada nonamu untuk segera bersiap-siap ke kantor.” ”Baik, Tuan.” Xavier berjalan menuju ke bagian kiri rumah, sewaktu ia datang diam-diam dan memasang CCTV di seluruh rumah, Xavier tidak terlalu memperhatikan bagian luar karena dia fokus pada bagian dalam rumah, kini Xavier berkeliling untuk mengamati halaman samping dan halaman belakang rumah. Dia berdiri di dekat kolam renang dan mengamati tembok tinggi di bagian belakang. Sementara itu Divya sedang sibuk berdandan di dalam kamar, dia melangkah untuk mengambil ponsel di nakas, namun langkahnya terhenti saat melihat siapa yang sedang memanjat tembok belakang rumahnya. Matanya terbelalak, untuk apa pria itu memanjat temboknya yang setinggi lima meter? Namun Divya menyadari gerakan Xavier begitu luwes seperti seekor kucing yang memanjat pohon. Pria itu memanjat dengan mudah, berjalan di atas tembok yang tebalnya hanya beberapa inci dengan begitu santai, kedua tangannya masuk ke celana dan pria itu sibuk mengamati bagian luar rumah. Setelah puas, Xavier melompat dalam satu gerakan. Divya memutar bola mata. “Orang gila,” gumamnya sambil kembali menuju meja rias. Saat duduk wanita itu sadar telah mengamati Xavier selama sepuluh menit lamanya dari lantai dua rumahnya. Mengamati pria itu memanjat dan berkeliling tembok rumah. Divya berdecak dan mengoleskan lipstik ke bibirnya.Divya mundur selangkah, merasakan sakit yang begitu nyata di dadanya. Rasa sesak yang bahkan tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Xavier tidak mengalihkan pandangannya, membiarkan luka di mata Divya terlihat jelas, tapi dia tetap diam.Dan pada saat itu, Divya sadar.Pria itu benar-benar telah membuangnya.Divya menatap Xavier tajam, matanya penuh dengan api kemarahan dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.“Aku benci padamu.”Xavier tidak terkejut. Dia hanya tersenyum tipis—senyum dingin yang tidak menyiratkan apa-apa selain kehampaan.“Aku tahu.”Tidak ada pembelaan, tidak ada permintaan maaf.Divya mengepalkan tangan, menahan dorongan untuk menangis di depannya. Dia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja menghancurkannya. Jadi, tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan melangkah pergi.Xavier tetap diam, tidak bergerak. Dia hanya menatap selimut di pangkuannya, tidak berani melihat punggung Divya yang menjauh. Saat
Xavier mendongak, menatap pria itu dengan tatapan gelap.“Jauhi Divya.”Hening.“Atau saya sendiri yang akan membunuhmu.”Xavier tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada janji, tidak ada protes. Ia hanya diam, membiarkan Jagar berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.Bukan karena Xavier takut. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia benar-benar telah gagal.Dan itu menghancurkannya lebih dari apa pun. Dia tidak mencoba membela diri, tidak mencoba menyangkal, dan tidak mencoba meyakinkan Jagar akan kemampuannya. Dia membiarkan pria itu keluar dari ruangan tanpa kata-kata. Dan dia tahu … bahwa semua yang dikatakan Jagar adalah kebenaran yang tidak bisa dia bantah.Xavier menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong. Foto-foto yang tadi dilempar Jagar masih tergeletak di pangkuannya, tapi dia tidak lagi melihatnya.Jagar benar.Dia telah gagal.Dia tidak hanya melanggar
Divya menggeleng, matanya membelalak. “Tidak … tidak mungkin …”Hasan tertawa sinis. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu terlalu sibuk menjadi putri kecil Mahesa, terlalu sibuk mempercayai saudara-saudaramu. Tapi aku tidak lupa, Nona. Aku tidak pernah lupa.”Divya menelan tangisnya. “Jadi selama ini … kamu hanya menungguku lengah?”Hasan menyeringai. “Tidak hanya itu. Aku menunggumu jatuh ke dalam perangkapku. Aku menunggumu percaya sepenuhnya padaku, membiarkanku masuk ke dalam hidupmu. Dan lihatlah, kamu bahkan tidak pernah curiga sedikit pun, bukan?”Divya merasakan kepedihan yang luar biasa menusuk dadanya.Selama ini, Hasan sudah merencanakannya.Selama ini, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk menghancurkannya.“Aku percaya padamu …” suara Divya hampir tak terdengar. “Aku menganggapmu sebagai keluargaku …”Hasan hanya menatapnya dengan datar. “Dan itu kesalahan terbesarmu, Nona.”Ingatan itu membuat Divya menutup wajahnya dengan kedua tan
Begitu mobil berhenti di markas, para prajurit langsung bergegas menangani para sandera yang berhasil mereka selamatkan. Tangisan, erangan kesakitan, dan suara perintah memenuhi udara saat mereka semua bergerak cepat.Xavier membuka pintu mobil, tapi baru saja dia melangkah keluar, tubuhnya limbung.”X!” Divya langsung menahannya, kedua tangannya menggenggam tubuh pria itu erat-erat. Saat itulah dia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di tangannya.Darah. Darah yang mengalir deras dari punggung Xavier, menembus jaket dan kausnya, menetes ke tanah. Divya membelalakkan mata, napasnya tercekat. “X—”Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, para prajurit datang membantu, membopong Xavier yang sudah hampir kehilangan keseimbangan. Jagar dan Abhimanyu juga ikut turun dari mobil lain, tubuh mereka berlumuran debu dan keringat. Beberapa letnan lain terluka, segera dibantu masuk ke ruang medis.Divya ingin mengikuti Xavier, ingin memastikan dia baik-baik saja— N
Divya terengah-engah.Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu lagi, mereka kembali berlari, menerobos sisa bayangan malam menuju kebebasan.Suara Damian tiba-tiba terdengar panik melalui earpiece, membuat Xavier langsung waspada.“X! Kamu masih di dalam?!”“Ya. Kenapa?”Dari seberang, suara Damian terdengar lebih cemas. “Keluar sekarang! Gedung ini dipasangi bom! Akan segera meledak! Sialan! Aku tidak punya waktu untuk menjinakkannya. Hanya tersisa beberapa detik lagi. Lari! Keluar sekarang! Kalian semua kelua
Xavier tetap diam. Tatapannya tajam, dingin, penuh kebencian yang hampir bisa dirasakan di udara. Jarinya menggenggam belatinya erat, sementara matanya mengamati situasi. Lima belas pria bersenjata mengelilingi mereka, semua dengan senapan otomatis teracung siap menembak. Tapi Xavier tidak gentar. Tidak juga Jagar, Abhimanyu, atau Damian yang berdiri di belakangnya.Abhimanyu memutar pedangnya di tangan, logamnya berkilat di bawah cahaya redup. “Kita bisa selesai dalam tiga menit.”Xavier menatap Jagar, memberi isyarat halus. Jagar mengangguk.Lalu neraka pun meledak.Jagar adalah yang pertama melesat, tubuh besarnya bergerak lebih cepat dari yang bisa diduga. Tangannya merobek satu pria dengan gerakan brutal, sementara Abhimanyu mengikuti, pedangnya menyambar leher pria di sebelahnya dengan satu tebasan mulus.Xavier tidak menunggu lebih lama. Dia maju dengan kecepatan yang mengerikan, belatinya melesat ke tenggorokan pria yang mencoba menghalanginya. Darah memu
Mengulang kembali kalimat itu dalam benaknya, membuat Divya nyaris terengah, ia setengah mati menginginkan Xavier bercinta dengannya, tidak peduli bahwa kini Divya tampak murahan, liar dan kehilangan sopan santun, tapi dia benar-benar ingin bercinta dengan Xavier. Divya tidak pernah menginginkan se
“Menyentuhnya,” jawab Divya memasang wajah polos, menggenggam Xavier dengan tangannya yang mungil, “merasai tekstur dan ukurannya.” Fuck! Sudah Xavier ingatkan pada dirinya sendiri bahwa Divya adalah malaikat kematiannya namun dia masih saja terus menabrak arah. “Lepaskan.”
”Aku tidak akan menyesal.”Xavier menatapnya lekat. Sementara wanita itu melepaskan pakaiannya. Divya tidak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya dia memiliki sopan santun yang begitu tinggi, juga menjaga wibawanya sendiri. Namun sekarang dia tidak berada di tempat yang bisa dijangkau Eyang
Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tet







