تسجيل الدخول”Tembok di belakang harus dipasang kawat pelindung,” ucap Xavier saat masuk ke dalam ruang makan. Divya sedang sarapan dan Bu Ani melayaninya. Kepala pelayan rumah itu juga menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuk Xavier. Namun Xavier hanya berdiri dan bersandar di dekat meja hias. Bersedekap menatap Divya yang sedang sarapan.
”Untuk apa? Tembok itu setinggi lima meter.” ”Harusnya tembok itu setidaknya setinggi sepuluh meter. Kalau tidak mau menambah tinggi tembok, pasang kawat pelindung.” ”Tidak ada yang akan memanjat tembok setinggi lima meter—“ ucapan Divya terhenti karena Xavier tertawa. ”Tidak ada. Apa kamu bodoh, Princess? Siapa pun bisa memanjatnya.” ”Tingginya lima meter, Frederick. Tidak ada yang mau repot-repot memanjatnya.” Xavier menghela napas panjang, matanya menatap Divya yang kembali makan dengan tenang. Wanita itu memakai kemeja dengan warna putih dan rok pendek berwarna putih gading. Kaki mulusnya memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam. Model Christian Louboutin akan sangat iri pada kaki indah itu sekarang. Matanya menelusuri kaki indah itu sampai ke paha—Xavier menelan ludah dan mengumpat dalam hati saat menyadari kejantanannya mengeras. Bangsat! Belum satu jam dan Xavier sudah dibuat sekeras ini. Pria itu berdehem dan berusaha mengalihkan pandangan, benaknya mulai menyanyikan lagu Five Little Monkeys yang sangat digemari keponakannya, biasanya hal itu berhasil menurunkan gairah yang menusuk-nusuk ubun-ubun. Sambil terus menyanyikan lagu anak-anak itu di benaknya, Xavier kembali menatap Divya. ”Aku bicara sebagai orang yang ahli dalam keamanan—“ ”Seingatku, Hasan lah kepala keamanan di rumah ini.” ”Nona, Tuan Xavier tentu lebih mengerti tentang keamanan karena beliau seorang prajurit—“ “Aku tidak peduli dia prajurit atau tidak, dia cuma pengawal. Yang bertugas mengurus keamanan rumah ini adalah kamu, Hasan.” Xavier mengepalkan tangan. Dan Hasan meliriknya dengan sungkan. ”Hasan sudah menjadi kepala keamanan rumahku selama dua tahun dan tidak terjadi apa pun di rumahku selama dia bertugas. Aku diculik tidak di rumah ini, tapi di jalan. Jadi tidak perlu mengatur-ngatur soal rumahku.” “Apakah tunggu seseorang datang dan menodongkan senjata padamu baru kamu mematuhi ucapanku, Princess?” ”Mematuhi?” Divya menatap dengan tenang. “Kenapa aku harus mematuhimu, Frederick? Di sini aku yang bos dan kamu adalah pengawal. Bukankah harusnya kamu yang mematuhi perintahku?” Xavier mendengus. “Aku tidak sudi memutuhi perintah siapa pun,” ucapnya sinis, kecuali itu perintah resmi dari atasannya. “Mas Jagar meminta kamu menjadi pengawal—“ ”Menjadi pengawal tidak lantas membuat aku harus tunduk padamu, Princess.” Xavier mendekat, menunduk kepada Divya yang mendongak dengan begitu tenang, matanya menatap datar pada Xavier yang memandang tajam. “Aku pengawal, bukan bawahanmu.” “Kamu terlalu dekat,” ucapnya dengan suara datar. “Meskipun kamu pengawal, tapi kamu bekerja untuk aku.” ”Aku tidak bekerja untukmu,” Xavier mendengus. “Aku bekerja untuk kakakmu.” ”Meskipun begitu, aku lah klien kamu saat ini.” Xavier memicing. Mengapa wanita ini begitu tenang? Bukan ketenangan biasa, namun sebuah ketenangan yang mengusik Xavier, seolah-olah di balik ketenangan itu, ada sebuah teriakan yang memohon pertolongan namun tertahan oleh sebuah tembok tinggi yang tingginya bukan hanya lima meter, namun sangat tinggi sampai Xavier tidak bisa melihat dan mengintip ke dalamnya. ”Tuan Frederick, mundurlah. Aku masih ingin makan,” ujarnya lagi. Xavier menatap kedua mata Divya, mencari-cari sesuatu yang bisa ia temukan. Tidak ada yang bisa dilihatnya kecuali ketenangan—dan sedikit kebencian yang tampak jelas. Matanya menatap bibir lembap yang hari ini diwarnai oleh lipstik berwarna nude. Bibir itu tampak basah, lembap dan kenyal, begitu mengundang untuk dicium dan dilumat habis-habisan. Xavier ingin menghilangkan lipstik di bibir itu menggunakan bibir dan lidahnya, akan membuat bibir itu bengkak dan Xavier akan terus mengisap bibir bawah itu sampai wanita ini mengerang dan meminta lebih. “Aku … Xavier Frederick, menerima misiku yaitu menjaga Divya Mahesa dengan nyawaku, tidak akan menyentuhnya kecuali untuk melindunginya, tidak akan terlibat hubungan pribadi apa pun dengan klienku. Aku bersumpah dengan nyawaku.” Kata-kata itu bagai seember air dingin yang menyiram kepalanya. Kini Divya terlarang, Xavier tidak bisa menciumnya dengan paksa seperti yang selama ini dilakukannya. Xavier sudah bersumpah pada atasannya bahwa ia tidak akan menyentuh Divya kecuali untuk keselamatan wanita itu. Mundurlah! Perintah dalam benaknya menggema. ”Habiskan makananmu dalam sepuluh menit. Kita akan berangkat ke kantor.” Xavier memundurkan tubuhnya dan pergi dari ruang makan, pria itu mengumpat dalam hati, kejantanannya malah semakin mengeras saat mencium aroma parfum Divya yang begitu memabukkan. Aromanya seperti taman bunga, segar, terasa lembut namun juga sensual. Xavier ingin membuka paksa pakaian wanita itu dan menjilat kulit Divya yang indah, ingin tahu apakah rasa kulit itu akan seenak aromanya. Brengsek! Xavier berdiri di samping mobilnya, nyaris menendang mobil itu dengan kakinya. Pria itu berusaha menenangkan dirinya sendiri yang merasa gerah. Berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Divya Mahesa tidak pernah membuatnya tidak gerah. Celananya terasa sesak. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan jejak aroma parfum segar itu dari penciumannya. Pria itu menarik napas berkali-kali sampai panas di kepalanya tidak lagi terlalu mendidih seperti tadi. Suara langkah kaki mendekat, bahkan suara langkahnya saja terdengar tenang dan anggun. Xavier menoleh, Divya berdiri di teras rumah. Pria itu membukakan pintu mobilnya. ”Masuk.” Divya memicing. “Ke mana perginya mobilku?” ”Masuk ke mobilku sekarang kalau kamu tidak mau terlambat.” ”Aku mau pakai mobilku sendiri.” Divya melangkah menuju bagian samping rumah yang mengarah pada carport. ”Masuk.” Xavier menahan tangannya. ”Aku tidak mau masuk ke mobilmu.” ”Mobil ini aman, aku bisa mengantarkan kamu ke mana pun dengan mobil ini. Masuk.” ”Aku tidak mau.” Divya menatapnya keras kepala. Xavier memicing, mendekat dan nyaris menghimpit Divya di badan mobil. Kepalanya menunduk untuk menatap lekat wanita itu. Lagi-lagi aroma parfum itu mengacaukan ketenangannya. Kejantanannya semakin keras dan berdenyut, bahkan rasanya sudah begitu sakit sampai ke seluruh tubuh. Tetapi Xavier tetap berusaha fokus pada wanita keras kepala yang menatapnya dengan tatapan berani. ”Masuk, Princess. Atau aku akan memaksa kamu masuk. Bahkan jika harus memotong-motong tubuhmu agar masuk ke dalam mobil itu, aku akan melakukannya. Cobalah tantang aku.” Suaranya rendah dan mengancam. Untuk sesaat Xavier bisa melihat ketenangan itu terganggu, Divya mengerjap beberapa kali, mengeraskan pandangan lalu masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa-apa. Xavier menghela napas, ia menelan ludah sesaat sebelum menutup pintu mobil dan berjalan mengitarinya menuju kursi pengemudi. Saat Xavier masuk dan duduk, ia membeku sejenak. Kabin mobil yang sempit kini beraroma bunga, Xavier tidak akan bisa bernapas tanpa menghirup aroma parfum Divya dan itu lagi-lagi membuatnya ingin menjilati seluruh kulit itu untuk merasakan manisnya aroma itu di lidahnya. Xavier mengumpat tertahan. Perjalanan menuju kantor Divya akan menjadi perjalanan paling panjang dan paling menyiksa seumur hidupnya.Divya mundur selangkah, merasakan sakit yang begitu nyata di dadanya. Rasa sesak yang bahkan tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Xavier tidak mengalihkan pandangannya, membiarkan luka di mata Divya terlihat jelas, tapi dia tetap diam.Dan pada saat itu, Divya sadar.Pria itu benar-benar telah membuangnya.Divya menatap Xavier tajam, matanya penuh dengan api kemarahan dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.“Aku benci padamu.”Xavier tidak terkejut. Dia hanya tersenyum tipis—senyum dingin yang tidak menyiratkan apa-apa selain kehampaan.“Aku tahu.”Tidak ada pembelaan, tidak ada permintaan maaf.Divya mengepalkan tangan, menahan dorongan untuk menangis di depannya. Dia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja menghancurkannya. Jadi, tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan melangkah pergi.Xavier tetap diam, tidak bergerak. Dia hanya menatap selimut di pangkuannya, tidak berani melihat punggung Divya yang menjauh. Saat
Xavier mendongak, menatap pria itu dengan tatapan gelap.“Jauhi Divya.”Hening.“Atau saya sendiri yang akan membunuhmu.”Xavier tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada janji, tidak ada protes. Ia hanya diam, membiarkan Jagar berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.Bukan karena Xavier takut. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia benar-benar telah gagal.Dan itu menghancurkannya lebih dari apa pun. Dia tidak mencoba membela diri, tidak mencoba menyangkal, dan tidak mencoba meyakinkan Jagar akan kemampuannya. Dia membiarkan pria itu keluar dari ruangan tanpa kata-kata. Dan dia tahu … bahwa semua yang dikatakan Jagar adalah kebenaran yang tidak bisa dia bantah.Xavier menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong. Foto-foto yang tadi dilempar Jagar masih tergeletak di pangkuannya, tapi dia tidak lagi melihatnya.Jagar benar.Dia telah gagal.Dia tidak hanya melanggar
Divya menggeleng, matanya membelalak. “Tidak … tidak mungkin …”Hasan tertawa sinis. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu terlalu sibuk menjadi putri kecil Mahesa, terlalu sibuk mempercayai saudara-saudaramu. Tapi aku tidak lupa, Nona. Aku tidak pernah lupa.”Divya menelan tangisnya. “Jadi selama ini … kamu hanya menungguku lengah?”Hasan menyeringai. “Tidak hanya itu. Aku menunggumu jatuh ke dalam perangkapku. Aku menunggumu percaya sepenuhnya padaku, membiarkanku masuk ke dalam hidupmu. Dan lihatlah, kamu bahkan tidak pernah curiga sedikit pun, bukan?”Divya merasakan kepedihan yang luar biasa menusuk dadanya.Selama ini, Hasan sudah merencanakannya.Selama ini, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk menghancurkannya.“Aku percaya padamu …” suara Divya hampir tak terdengar. “Aku menganggapmu sebagai keluargaku …”Hasan hanya menatapnya dengan datar. “Dan itu kesalahan terbesarmu, Nona.”Ingatan itu membuat Divya menutup wajahnya dengan kedua tan
Begitu mobil berhenti di markas, para prajurit langsung bergegas menangani para sandera yang berhasil mereka selamatkan. Tangisan, erangan kesakitan, dan suara perintah memenuhi udara saat mereka semua bergerak cepat.Xavier membuka pintu mobil, tapi baru saja dia melangkah keluar, tubuhnya limbung.”X!” Divya langsung menahannya, kedua tangannya menggenggam tubuh pria itu erat-erat. Saat itulah dia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di tangannya.Darah. Darah yang mengalir deras dari punggung Xavier, menembus jaket dan kausnya, menetes ke tanah. Divya membelalakkan mata, napasnya tercekat. “X—”Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, para prajurit datang membantu, membopong Xavier yang sudah hampir kehilangan keseimbangan. Jagar dan Abhimanyu juga ikut turun dari mobil lain, tubuh mereka berlumuran debu dan keringat. Beberapa letnan lain terluka, segera dibantu masuk ke ruang medis.Divya ingin mengikuti Xavier, ingin memastikan dia baik-baik saja— N
Divya terengah-engah.Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu lagi, mereka kembali berlari, menerobos sisa bayangan malam menuju kebebasan.Suara Damian tiba-tiba terdengar panik melalui earpiece, membuat Xavier langsung waspada.“X! Kamu masih di dalam?!”“Ya. Kenapa?”Dari seberang, suara Damian terdengar lebih cemas. “Keluar sekarang! Gedung ini dipasangi bom! Akan segera meledak! Sialan! Aku tidak punya waktu untuk menjinakkannya. Hanya tersisa beberapa detik lagi. Lari! Keluar sekarang! Kalian semua kelua
Xavier tetap diam. Tatapannya tajam, dingin, penuh kebencian yang hampir bisa dirasakan di udara. Jarinya menggenggam belatinya erat, sementara matanya mengamati situasi. Lima belas pria bersenjata mengelilingi mereka, semua dengan senapan otomatis teracung siap menembak. Tapi Xavier tidak gentar. Tidak juga Jagar, Abhimanyu, atau Damian yang berdiri di belakangnya.Abhimanyu memutar pedangnya di tangan, logamnya berkilat di bawah cahaya redup. “Kita bisa selesai dalam tiga menit.”Xavier menatap Jagar, memberi isyarat halus. Jagar mengangguk.Lalu neraka pun meledak.Jagar adalah yang pertama melesat, tubuh besarnya bergerak lebih cepat dari yang bisa diduga. Tangannya merobek satu pria dengan gerakan brutal, sementara Abhimanyu mengikuti, pedangnya menyambar leher pria di sebelahnya dengan satu tebasan mulus.Xavier tidak menunggu lebih lama. Dia maju dengan kecepatan yang mengerikan, belatinya melesat ke tenggorokan pria yang mencoba menghalanginya. Darah memu
Begitu sampai di bandara, Divya menatap saudara-saudara Xavier. Rasa gugup menyelimutinya. Ini pertama kalinya ia bertemu mereka di luar pekerjaan. Saat Xavier berkata bahwa mereka akan liburan bersama keluarganya Divya pikir pria itu bercanda, tapi ternyata Xavier tidak berbohong.“Kenalkan
Xavier sendiri bersandar santai di kursinya, satu tangan terangkat, jari-jarinya yang panjang dan kuat mengetuk permukaan meja dengan ritme yang lambat, nyaris malas. Tatapannya tajam, sorot matanya gelap dan tak terbaca saat ia menatap pria berseragam di hadapannya.“Jadi,” suara Xavier akhi
Ruangan itu seketika diliputi keheningan yang mencekam. Para polisi yang semula berdiri dengan percaya diri kini tampak ragu. Salah satu polisi menelan ludah. Mereka saling bertukar pandang, seakan menimbang ulang keputusan mereka. Lencana itu bukan sekadar simbol. Itu adalah bukti kekuasaan, buk
Xavier mengeratkan pelukan, mereka masih berpelukan di bawah hujan sampai beberapa menit lamanya hingga Xavier sadar Divya mulai kedinginan.”Maaf jika aku terpaksa menginterupsi kebahagiaanmu, Princess, tapi kamu mulai menggigil dan sebaiknya kita segera masuk ke dalam.””Tunggu, lima me







