LOGINSepanjang perjalanan menuju kantor Divya, Xavier bernapas dengan perlahan-lahan, berusaha untuk tidak memasukkan terlalu banyak oksigen ke dalam paru-parunya karena oksigen itu telah tercemar oleh parfum Divya. Setiap kali dia menarik napas, rasanya seperti tercekik dan itu membuat Xavier merasa bahwa mungkin dia akan mati dalam perjalanan ini karena sering kali menahan napas terlalu lama. Matanya yang tidak bisa diatur tanpa permisi melirik paha Divya yang mulus. Kaki itu saling bertumpu, cara Divya duduk membuat roknya naik semakin tinggi dan separuh paha wanita itu terpampang sempurna untuk dilihat, disentuh dan dijilat.
Oh. fuck! Apakah rok wanita itu tidak terlalu pendek? Xavier berdehem, rasa gelisah terus membuat lehernya semakin tercekik dan pria itu melonggarkan dasinya, dia mencoba menarik napas namun cepat-cepat menahannya. Suhu di dalam mobil cukup dingin tapi Xaver merasa dirinya seperti dipanggang di dalam oven. Diam-diam keringat mengalir di punggungnya. Berhenti menatap pahanya, brengsek! Makinya pada diri sendiri. Xavier terus mencoba mengingatkan dirinya untuk tidak melirik ke samping setiap lima menit sekali. Atau cungkil saja bola matanya sekalian! Tapi sekotor apa pun Xavier memaki dirinya sendiri, dia tetap tidak bisa berhenti melirik paha itu dengan tatapan lapar. Sialan. Rasanya besok Xavier akan memaksa wanita itu bekerja mengenakan celana panjang. Ponsel Divya bergetar, wanita itu tersenyum lebar dan mengangkat panggilannya. ”Hai, Sayang.” Nyaris saja—jika Xavier tidak menguasai dirinya dengan cepat, nyaris saja dia menginjak rem di jalan bebas hambatan ini. Bisa terjadi kecelakaan beruntun dan mengakibatkan nyawa Divya melayang karena Xavier berkendara dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sedetik terlambat menguasai diri, Xavier akan menjadi tersangka penghilang nyawa Divya. Bukannya menjadi penjaga, Xavier hampir menjadi pelaku. ”Malam ini? Oke, bisa. Iya, see you, Baby.” Cengkeraman Xavier pada kemudi mobil menguat hingga urat-urat di tangannya menyembul dan buku-buku jarinya memutih. Suara Divya begitu lembut bicara pada kekasihnya, nada suara yang tidak pernah Xavier dengar saat wanita itu bicara padanya. Lagipula, Xavier juga tahu bahwa wanita itu tidak akan pernah bicara padanya dengan nada seperti itu. Seringkali fantasi liarnya membayangkan suara lembut itu mendesah di bawahnya, mengerang dan memohon sementara Xavier memompa diri— “Brengsek,” gumamnya pelan. Lupakan itu! Divya menoleh dan mengernyit. “Apa kamu baru saja mengatai aku brengsek?” Nadanya tajam, membuat emosi Xavier seketika berkobar. Wanita itu bicara seolah Xavier adalah musuhnya—meskipun memang seperti itu keadaannya. ”Tidak, Princess. Aku tidak mengataimu,” jawab Xavier. Aku mengatai diriku sendiri, sambungnya dalam hati. Pria itu menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali—meskipun hal itu membuat Xavier mencium aroma parfum Divya lebih banyak—sebelum bertanya, “pacarmu?” ”Apa?” ”Yang menghubungimu itu, pacarmu?” Divya memicing. “Kenapa kamu ingin tahu?” “Sebagai pengawalmu, aku berhak tahu siapa saja orang-orang yang berada di sekelilingmu. Aku berhak tahu apakah mereka berpotensi untuk menyakitimu atau tidak.” ”Orang-orang di sekelilingku adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Mereka tidak akan menyakiti aku.” ”Oh, katakan itu setelah suatu hari ada satu orang yang sekian banyak orang yang kamu percaya itu menjadi pengkhianat.” sinis Xavier, “ingat penculikmu? Dulunya dia orang yang bisa dipercaya. Sekutu. Lihat apa yang dia lakukan? Jadi jangan pernah percaya sepenuhnya kepada siapa pun kecuali diri sendiri.” ”Tapi pacar dan teman-temanku tidak seperti penculik itu.” ”Meskipun kamu percaya, tetap waspada. Siapa pun bisa mengkhianati—“ ”Kamu tidak perlu ikut campur urusanku.” ”Aku tidak ikut campur, aku hanya perlu mewaspadai siapa saja agar tidak menyakitimu. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu.” ”Tidak akan ada yang menyakiti aku.” ”Naif,” cibir Xavier, “jangan mudah percaya pada siapa pun.” ”Satu-satunya orang yang tidak akan aku percayai adalah kamu. Dibandingkan orang-orang yang kamu bilang bisa menjadi pengkhianat, aku malah lebih yakin kalau kamu lah penjahatnya.” Xavier menoleh dan memicing. Menatap Divya yang sedang bersedekap, bersandar ke pintu dan menghadapkan tubuh ke arahnya. Mata Xavier menatap ke dada wanita itu. Cara Divya bersedekap membuat dadanya membusung hingga payudara itu tampak lebih besar—brengsek! Xavier dengan cepat berpaling. “Jagar memilihku menjadi pengawalmu artinya aku bisa dipercaya. Meragukan penilaian kakakmu?” Divya tidak menjawab dan hanya mendengus. Divya tidak akan berani meragukan penilaian kakak-kakaknya, tapi pria ini pernah menciumnya secara paksa bukan hanya sekali, tetapi tiga kali. Sementara Abhimanyu maupun Jagar tidak tahu hal itu. Jadi … bisakah Divya percaya pada pria ini? Tentu tidak. ”Mas Jagar percaya padamu karena dia tidak tahu kelakuanmu yang sebenarnya. Kalau dia tahu, dia tidak akan percaya pada kamu.” Xavier tersenyum kecil, Divya tidak sepenuhnya salah. Tidak ada yang tahu kelakuan Xavier yang sebenarnya kecuali beberapa orang dan Jagar tidak termasuk di dalamnya. Tapi Xavier juga tidak berpura-pura di hadapan orang lain. Dan Jagar memilihnya tentu karena banyak pertimbangan—yang Xavier yakin pertimbangan utama adalah kekuatannya dalam menyelamatkan nyawa. Tidak terhitung berapa banyak misi yang sudah diselesaikan tanpa ada satupun yang gagal. Xavier juga sudah cukup lama bekerja sama dengan Jagar dan pria itu juga salah satu pembimbingnya di organisasi. Jagar memilihnya bukan tanpa pertimbangan. “Kembali ke topik pertama, jangan terlalu percaya pada pacarmu itu.” Menyebut kata pacar, lidah Xavier terasa terbakar. Xavier tahu siapa pacar Divya, sejak Divya baru saja berpacaran, Xavier sudah tahu siapa pria itu. Xavier tidak pernah ingin mengusik hubungan wanita di sampingnya sampai hari ini tiba-tiba Xavier ingin melakukan hal itu. “Nanti malam kamu mau ke mana?” ”Bukan urusanmu.” ”Aku harus mengawalmu—“ ”Kamu akan mengawal aku yang pergi kencan?” ”Ya. Jadi, ke mana?” ”Aku tidak mau menjawab—“ ”Brengsek, Princess. Jawab saja!” Xavier sulit mengendalikan emosi jika berhadapan dengan wanita ini. “Kamu tahu apa misiku? Menjagamu dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, empat minggu dalam sebulan dan dua belas bulan dalam setahun! Aku harus pergi ke mana pun kamu ingin pergi. Mengawalmu. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku gagal dalam misiku dan aku gagal menjaga klienku! Jadi jawab saja dan jangan pancing kemarahanku!” Napas Xavier memburu dan sedetik kemudian dia mengumpat pelan, lagi-lagi otaknya kacau akibat kombinasi parfum wanita itu, pahanya yang terpampang sempurna dan dadanya yang membusung indah karena lagi-lagi wanita itu bersedekap sambil memicing padanya. Bukannya menjawab, Divya menatapnya dengan begitu tenang. “Aku kenal psikiater, kalau kamu butuh dokter untuk mengelola emosimu, jangan sungkan—“ Divya terkejut karena mobil berhenti mendadak. Xavier memicing, menatap Divya lekat, mendekatkan tubuhnya pada tubuh wanita yang kini merapat pada pintu mobil. ”Aku ingin misiku berjalan lancar dan aku juga tahu kamu ingin hidupmu tenang. Mengapa kita tidak bekerja sama dengan baik? Cukup jawab pertanyaanku kalau aku bertanya dan jangan mengejek emosiku. Karena kalau aku emosi, aku bisa mencincangmu menjadi delapan puluh bagian. Mengerti, Princess?” Xavier menatap lekat, suaranya penuh ancaman dan emosi yang berusaha ditahan. Namun jika Xavier berharap Divya patuh layaknya anjing, Xavier pasti salah.Arland mendecak, lalu tanpa peringatan, ia melangkah cepat dan menendang kaki Xavier dengan keras.Xavier terhuyung, tapi dengan sigap berbalik, matanya membara penuh kemarahan. “Sialan, Arland!”“Setidaknya sekarang kamu melihatku,” Arland menyeringai miring, mengangkat satu alis. “Kamu pikir aku akan diam saja melihatmu bertingkah seperti pria bodoh yang ingin membunuh dirinya sendiri?”Xavier menggeram, menghapus darah di sudut bibirnya akibat pertarungan tadi. “Ini bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri, Bangsat! Jangan campuri urusanku!”Arland menatap Xavier dengan rahang mengeras, jemarinya mengepal di sisi tubuh.“Kamu menyuruhku untuk tidak mencampuri urusanmu?” Arland mendengus, tawanya pendek dan penuh amarah. “Sial, Xavier! Aku kakakmu! Apa menurutmu aku akan diam saja melihatmu menghancurkan diri sendiri seperti ini?”Xavier menggeretakkan giginya, matanya gelap dan penuh kehampaan. “Aku tidak menghancurkan diri sendiri. Aku hanya berlatih.” “Berlatih?” Arland mencen
Divya mundur selangkah, merasakan sakit yang begitu nyata di dadanya. Rasa sesak yang bahkan tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Xavier tidak mengalihkan pandangannya, membiarkan luka di mata Divya terlihat jelas, tapi dia tetap diam.Dan pada saat itu, Divya sadar.Pria itu benar-benar telah membuangnya.Divya menatap Xavier tajam, matanya penuh dengan api kemarahan dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.“Aku benci padamu.”Xavier tidak terkejut. Dia hanya tersenyum tipis—senyum dingin yang tidak menyiratkan apa-apa selain kehampaan.“Aku tahu.”Tidak ada pembelaan, tidak ada permintaan maaf.Divya mengepalkan tangan, menahan dorongan untuk menangis di depannya. Dia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja menghancurkannya. Jadi, tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan melangkah pergi.Xavier tetap diam, tidak bergerak. Dia hanya menatap selimut di pangkuannya, tidak berani melihat punggung Divya yang menjauh. Saat
Xavier mendongak, menatap pria itu dengan tatapan gelap.“Jauhi Divya.”Hening.“Atau saya sendiri yang akan membunuhmu.”Xavier tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada janji, tidak ada protes. Ia hanya diam, membiarkan Jagar berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.Bukan karena Xavier takut. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia benar-benar telah gagal.Dan itu menghancurkannya lebih dari apa pun. Dia tidak mencoba membela diri, tidak mencoba menyangkal, dan tidak mencoba meyakinkan Jagar akan kemampuannya. Dia membiarkan pria itu keluar dari ruangan tanpa kata-kata. Dan dia tahu … bahwa semua yang dikatakan Jagar adalah kebenaran yang tidak bisa dia bantah.Xavier menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong. Foto-foto yang tadi dilempar Jagar masih tergeletak di pangkuannya, tapi dia tidak lagi melihatnya.Jagar benar.Dia telah gagal.Dia tidak hanya melanggar
Divya menggeleng, matanya membelalak. “Tidak … tidak mungkin …”Hasan tertawa sinis. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu terlalu sibuk menjadi putri kecil Mahesa, terlalu sibuk mempercayai saudara-saudaramu. Tapi aku tidak lupa, Nona. Aku tidak pernah lupa.”Divya menelan tangisnya. “Jadi selama ini … kamu hanya menungguku lengah?”Hasan menyeringai. “Tidak hanya itu. Aku menunggumu jatuh ke dalam perangkapku. Aku menunggumu percaya sepenuhnya padaku, membiarkanku masuk ke dalam hidupmu. Dan lihatlah, kamu bahkan tidak pernah curiga sedikit pun, bukan?”Divya merasakan kepedihan yang luar biasa menusuk dadanya.Selama ini, Hasan sudah merencanakannya.Selama ini, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk menghancurkannya.“Aku percaya padamu …” suara Divya hampir tak terdengar. “Aku menganggapmu sebagai keluargaku …”Hasan hanya menatapnya dengan datar. “Dan itu kesalahan terbesarmu, Nona.”Ingatan itu membuat Divya menutup wajahnya dengan kedua tan
Begitu mobil berhenti di markas, para prajurit langsung bergegas menangani para sandera yang berhasil mereka selamatkan. Tangisan, erangan kesakitan, dan suara perintah memenuhi udara saat mereka semua bergerak cepat.Xavier membuka pintu mobil, tapi baru saja dia melangkah keluar, tubuhnya limbung.”X!” Divya langsung menahannya, kedua tangannya menggenggam tubuh pria itu erat-erat. Saat itulah dia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di tangannya.Darah. Darah yang mengalir deras dari punggung Xavier, menembus jaket dan kausnya, menetes ke tanah. Divya membelalakkan mata, napasnya tercekat. “X—”Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, para prajurit datang membantu, membopong Xavier yang sudah hampir kehilangan keseimbangan. Jagar dan Abhimanyu juga ikut turun dari mobil lain, tubuh mereka berlumuran debu dan keringat. Beberapa letnan lain terluka, segera dibantu masuk ke ruang medis.Divya ingin mengikuti Xavier, ingin memastikan dia baik-baik saja— N
Divya terengah-engah.Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu lagi, mereka kembali berlari, menerobos sisa bayangan malam menuju kebebasan.Suara Damian tiba-tiba terdengar panik melalui earpiece, membuat Xavier langsung waspada.“X! Kamu masih di dalam?!”“Ya. Kenapa?”Dari seberang, suara Damian terdengar lebih cemas. “Keluar sekarang! Gedung ini dipasangi bom! Akan segera meledak! Sialan! Aku tidak punya waktu untuk menjinakkannya. Hanya tersisa beberapa detik lagi. Lari! Keluar sekarang! Kalian semua kelua
Mengulang kembali kalimat itu dalam benaknya, membuat Divya nyaris terengah, ia setengah mati menginginkan Xavier bercinta dengannya, tidak peduli bahwa kini Divya tampak murahan, liar dan kehilangan sopan santun, tapi dia benar-benar ingin bercinta dengan Xavier. Divya tidak pernah menginginkan se
“Menyentuhnya,” jawab Divya memasang wajah polos, menggenggam Xavier dengan tangannya yang mungil, “merasai tekstur dan ukurannya.” Fuck! Sudah Xavier ingatkan pada dirinya sendiri bahwa Divya adalah malaikat kematiannya namun dia masih saja terus menabrak arah. “Lepaskan.”
”Aku tidak akan menyesal.”Xavier menatapnya lekat. Sementara wanita itu melepaskan pakaiannya. Divya tidak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya dia memiliki sopan santun yang begitu tinggi, juga menjaga wibawanya sendiri. Namun sekarang dia tidak berada di tempat yang bisa dijangkau Eyang
Begitu sampai di bandara, Divya menatap saudara-saudara Xavier. Rasa gugup menyelimutinya. Ini pertama kalinya ia bertemu mereka di luar pekerjaan. Saat Xavier berkata bahwa mereka akan liburan bersama keluarganya Divya pikir pria itu bercanda, tapi ternyata Xavier tidak berbohong.“Kenalkan







