Share

BAB 6

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-29 23:02:52

”Aku tidak peduli pada misimu, aku juga tidak butuh pengawal tapi sialnya kakakku berpikir yang sebaliknya. Jadi jangan bersikap seolah-olah aku ini anak buahmu. Meskipun kamu pengawalku, kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Mengerti, Bajingan?”

Keduanya saling bertatapan dengan mengirimkan emosi masing-masing melalui tatapan mata. Xavier yang lebih dulu menarik wajah dan menghela napas panjang.

”Jawab saja, akan pergi ke mana?”

”Tidak mau.”

”Baiklah, tutup saja mulutmu itu tapi yang pasti aku akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi.” Xavier kembali menjalankan kendaraan menuju kantor Divya. Mobil berhenti di basement. Pria itu turun dan membukakan pintu untuk Divya. Mobil Xavier hanya dua pintu, jadi otomatis Divya akan duduk di sampingnya. Jika mobil itu memiliki empat pintu, Divya akan memilih duduk di belakang pria itu daripada di sampingnya.

Divya melangkah menuju lift dengan Xavier di sampingnya. Wanita itu cemberut, masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Xavier menekan tombol lima belas yang artinya pria itu sudah tahu lantai yang akan dituju Divya.

Divya keluar dari lift, berbalik menatap Xavier. “Pergilah dan lakukan sesuatu yang bisa membuatku mengelola emosi dengan baik. Aku berada di tempat teraman di mana ruangan kakakku berada di samping ruanganku. Aku tidak mau melihatmu pagi ini.” Divya menjauh tanpa memberi Xavier kesempatan untuk membuka suara.

Pria itu bertahan di dalam lift dan mengumpat. Sepertinya ia butuh kopi. Jadi Xavier putuskan untuk kembali turun dan masuk ke coffee shop yang ada di lobi utama.

Pria itu duduk di sana dan menghela napas, melonggarkan dasi yang semakin mencekik lehernya. Xavier mendongak saat tiba-tiba Jagar duduk di depannya.

”Bagaimana? Semua berjalan baik?”

”Adikmu membenciku, Sir.”

Satu alis Jagar terangkat. “Bukan hal baru, dia memang membenci sebagian besar orang.”

Xavier mendengus. “Nanti malam dia ada janji dengan pacarnya.”

”Tetap kawal dia. Kalau pacarnya itu ingin membawa Divya ke apartemennya, cegah hal itu terjadi. Saya tidak mau adik saya tidur dengannya.”

Xavier menatap di balik cangkir yang sedang ia genggam. “Bukankah itu sedikit … keterlaluan?”

“Kamu punya saudara perempuan dan pasti tahu rasanya melihat saudara perempuanmu tidur dengan pacarnya.”

Xavier tertawa. “Zelie lebih suka aku mengurusi anjing peliharaan Aiden daripada mengurusi dengan siapa dia tidur. Jika aku merecokinya, dia tidak akan segan-segan membunuhku.” Xavier tersenyum sinis. “Jadi adikmu tidak boleh ditiduri pacarnya tapi kamu boleh meniduri sepupuku sebelum kalian menikah? Bukankah itu sedikit tidak adil, Letnan?”

“Saya meniduri Killa karena saya akan menikahinya. Tapi pacarnya Divya? Jelas tidak akan menikahi dia.”

“Jadi kalau ada pria yang ingin menikahi adikmu, dia boleh menidurinya?”

Jagar memicing tajam. “Apa maksudmu, Prajurit?”

Xavier mengangkat bahu sambil meminum kopinya. “Hanya bertanya,” jawabnya santai. “Saya tidak menyangka Anda akan mengurusi hal pribadi orang lain sampai sejauh itu.”

”Dia bukan orang lain, dia adik saya.”

”Aku tidak bermaksud membelanya tapi soal seks … semua orang memiliki kebutuhan sendiri. Anda pasti tahu rasanya jika kebutuhan itu tidak terpenuhi. Aku setuju dengan Anda dalam banyak hal. Tapi untuk seks … itu berlebihan.” Xavier berdiri, menatap atasannya itu. “‘Dia tidak mau melihatku pagi ini. Karena tidak yang bisa kukerjakan di sini, aku akan ke kantorku sendiri. Sebelum jam kerja berakhir aku akan kembali.”

”Tugasmu menjaganya dua puluh empat jam—“

”Sir, aku juga punya perusahaan yang harus aku urus. Pagi ini ada meeting penting. Setidaknya aku akan kembali sebelum makan siang.” Tanpa menunggu jawaban Jagar, Xavier beranjak pergi. Ia butuh menjauh sejenak untuk menenangkan dirinya yang kacau sekali pagi ini. Selama hidupnya, baru kali ini Xavier merasa perlu menjauh dari sesuatu untuk menenangkan dirinya sendiri.

Begitu Jagar naik ke lantainya, Divya sudah menunggunya di ruangan.

”Mas, kita perlu bicara—“

”Kalau soal Xavier, tidak ada kompromi.”

”Mas, kenapa harus dia?”

”Kenapa tidak boleh dia?” Jagar balas bertanya.

Lidah Divya gatal ingin memberitahu bahwa pria itu bajingan yang telah menciumnya paksa sebanyak tiga kali, dan pria itu juga psikopat karena tahu bahwa Divya sangat menyukai lingerie merah. Dari mana Xavier bisa tahu? Apa pria itu mengintip ke kamarnya? Apa Jagar yakin mempekerjakan seorang pengintip untuk menjadi pengawalnya?

”Di antara prajurit Eagle Eyes, dia yang terbaik. Hanya perlu beberapa misi lagi untuk membuatnya menjadi letnan. Mas memilih dia bukan tanpa alasan. Musuh bisa datang kapan saja, Divya. Mas tidak mau melihat kamu diculik lagi. Cukup sekali.”

Divya terdiam.

”Tidak ada kompromi dalam hal itu.”

Divya menatap sebal dan berbalik menuju pintu.

”Jangan rayu Mbak Sabhira karena dia juga setuju atas ini, Mas Abhi apalagi. Jangan juga rayu istri Mas karena dia bilang tidak akan ikut campur dalam hal ini. Dan Kivan juga setuju. Semua orang setuju.”

”Kecuali aku,” sentak Divya membuat pintu dan keluar dengan langkah kesal. Mengejutkan Wira yang berdiri di dekat pintu. Mengabaikan tatapan semua orang, Divya menuju ruangan Kivandra. “Kivaaaan,” Divya masuk dan duduk di sofa.

”Ada apa? Kamu kenapa, Kak?” Kivandra sedang sibuk dengan laptopnya.

”Kamu tahu kalau aku punya pengawal baru?”

”Xavier Frederick, aku tahu.”

”Kamu tahu aku tidak suka dia?”

Kivandra menoleh sejenak. “Memangnya sejak kapan kamu suka sama orang? Kecuali si rambut coklat yang membuatmu tergila-gila itu. Aku heran mengapa kamu tergila-gila padanya. Sudah kubilang dia itu pasti gay.”

”Jangan menghina pacar aku! Dia bukan gay.”

“Di mataku dia seperti itu.”

”Mungkin sebenarnya kamu yang gay?” sinis Divya.

”Benar sekali, Sist. Hati-hatilah karena pacarmu akan kurebut,” balas Kivan tak kalah sinis. “Akan kuajak dia bercinta tujuh hari tujuh malam sampai dia pingsan.”

”Van, aku serius.”

”Sudahlah. Terima saja, Kak. Jangan banyak protes. Semua orang sudah setuju sama pilihan Mas Jagar. Lagipula, itu untuk keselamatan kamu sendiri.”

Divya sendiran. Semua orang berada di pihak yang berseberangan dengannya.

“Kamu nggak mau bela aku, Van?”

”Dan bertentangan dengan menjaga keselamatan kamu? Absolutely not.” Kivan menggeleng. “Kamu mendapatkan pengawal terbaik, lalu salahnya di mana?”

”Salahnya dia itu brengsek.”

”Sejak kapan ada pria Zahid yang tidak brengsek? Selagi dia tidak melecehkan kamu, biarkan saja.”

”Tapi dia pernah me—“ Divya menghela napas panjang.

“Pernah apa?”

Wanita itu menatap adiknya. Perlukah Divya memberitahu tentang apa yang Xavier lakukan padanya tahun lalu? Apakah dengan begitu Kivan akan berada di pihaknya?

”Pernah apa, Divya?” Kivandra menatap tidak sabar.

”Lupakan.” Divya berdiri dan memilih untuk pergi.

Divya kembali ke ruangannya sendiri. Meskipun dia bertanya-tanya, mengapa dia memilih untuk diam? Bukankah lebih baik membuka suara? Divya menghela napas panjang. Satu tahun, apakah selama satu tahun ini, dia bisa bertahan? Pengawalnya yang tempramental, sok berkuasa, menyebalkan, dan juga bajingan itu seharusnya tidak berada di dekatnya. Bagaimana bisa pria itu bersikap seolah-olah tidak pernah mencium paksa Divya?

Divya yakin dirinya tidak akan sanggup bertahan dalam satu tahun ini. Divya tidak akan berhasil melewati satu tahun ini tanpa berniat membunuh Xavier dengan tangannya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 61

    Divya mundur selangkah, merasakan sakit yang begitu nyata di dadanya. Rasa sesak yang bahkan tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Xavier tidak mengalihkan pandangannya, membiarkan luka di mata Divya terlihat jelas, tapi dia tetap diam.Dan pada saat itu, Divya sadar.Pria itu benar-benar telah membuangnya.Divya menatap Xavier tajam, matanya penuh dengan api kemarahan dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.“Aku benci padamu.”Xavier tidak terkejut. Dia hanya tersenyum tipis—senyum dingin yang tidak menyiratkan apa-apa selain kehampaan.“Aku tahu.”Tidak ada pembelaan, tidak ada permintaan maaf.Divya mengepalkan tangan, menahan dorongan untuk menangis di depannya. Dia menolak terlihat lemah di hadapan pria yang baru saja menghancurkannya. Jadi, tanpa mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan melangkah pergi.Xavier tetap diam, tidak bergerak. Dia hanya menatap selimut di pangkuannya, tidak berani melihat punggung Divya yang menjauh. Saat

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 60

    Xavier mendongak, menatap pria itu dengan tatapan gelap.“Jauhi Divya.”Hening.“Atau saya sendiri yang akan membunuhmu.”Xavier tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada janji, tidak ada protes. Ia hanya diam, membiarkan Jagar berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.Bukan karena Xavier takut. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa dia benar-benar telah gagal.Dan itu menghancurkannya lebih dari apa pun. Dia tidak mencoba membela diri, tidak mencoba menyangkal, dan tidak mencoba meyakinkan Jagar akan kemampuannya. Dia membiarkan pria itu keluar dari ruangan tanpa kata-kata. Dan dia tahu … bahwa semua yang dikatakan Jagar adalah kebenaran yang tidak bisa dia bantah.Xavier menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong. Foto-foto yang tadi dilempar Jagar masih tergeletak di pangkuannya, tapi dia tidak lagi melihatnya.Jagar benar.Dia telah gagal.Dia tidak hanya melanggar

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 59

    Divya menggeleng, matanya membelalak. “Tidak … tidak mungkin …”Hasan tertawa sinis. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu terlalu sibuk menjadi putri kecil Mahesa, terlalu sibuk mempercayai saudara-saudaramu. Tapi aku tidak lupa, Nona. Aku tidak pernah lupa.”Divya menelan tangisnya. “Jadi selama ini … kamu hanya menungguku lengah?”Hasan menyeringai. “Tidak hanya itu. Aku menunggumu jatuh ke dalam perangkapku. Aku menunggumu percaya sepenuhnya padaku, membiarkanku masuk ke dalam hidupmu. Dan lihatlah, kamu bahkan tidak pernah curiga sedikit pun, bukan?”Divya merasakan kepedihan yang luar biasa menusuk dadanya.Selama ini, Hasan sudah merencanakannya.Selama ini, dia hanya menunggu momen yang tepat untuk menghancurkannya.“Aku percaya padamu …” suara Divya hampir tak terdengar. “Aku menganggapmu sebagai keluargaku …”Hasan hanya menatapnya dengan datar. “Dan itu kesalahan terbesarmu, Nona.”Ingatan itu membuat Divya menutup wajahnya dengan kedua tan

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 58

    Begitu mobil berhenti di markas, para prajurit langsung bergegas menangani para sandera yang berhasil mereka selamatkan. Tangisan, erangan kesakitan, dan suara perintah memenuhi udara saat mereka semua bergerak cepat.Xavier membuka pintu mobil, tapi baru saja dia melangkah keluar, tubuhnya limbung.”X!” Divya langsung menahannya, kedua tangannya menggenggam tubuh pria itu erat-erat. Saat itulah dia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket di tangannya.Darah. Darah yang mengalir deras dari punggung Xavier, menembus jaket dan kausnya, menetes ke tanah. Divya membelalakkan mata, napasnya tercekat. “X—”Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, para prajurit datang membantu, membopong Xavier yang sudah hampir kehilangan keseimbangan. Jagar dan Abhimanyu juga ikut turun dari mobil lain, tubuh mereka berlumuran debu dan keringat. Beberapa letnan lain terluka, segera dibantu masuk ke ruang medis.Divya ingin mengikuti Xavier, ingin memastikan dia baik-baik saja— N

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 57

    Divya terengah-engah.Xavier hanya berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas berat, belati masih tergenggam erat di tangan kirinya. Matanya masih tajam, memastikan tak ada yang bangkit lagi.Lalu, dia berbalik, menatap Divya yang masih tampak terkejut. Xavier tidak berkata apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jari-jari Divya yang masih dingin.“Jangan lepas,” suaranya pelan.Divya menggigit bibir, lalu mengangguk, jari-jarinya meremas tangan Xavier sebagai jawaban. Tanpa membuang waktu lagi, mereka kembali berlari, menerobos sisa bayangan malam menuju kebebasan.Suara Damian tiba-tiba terdengar panik melalui earpiece, membuat Xavier langsung waspada.“X! Kamu masih di dalam?!”“Ya. Kenapa?”Dari seberang, suara Damian terdengar lebih cemas. “Keluar sekarang! Gedung ini dipasangi bom! Akan segera meledak! Sialan! Aku tidak punya waktu untuk menjinakkannya. Hanya tersisa beberapa detik lagi. Lari! Keluar sekarang! Kalian semua kelua

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 56

    Xavier tetap diam. Tatapannya tajam, dingin, penuh kebencian yang hampir bisa dirasakan di udara. Jarinya menggenggam belatinya erat, sementara matanya mengamati situasi. Lima belas pria bersenjata mengelilingi mereka, semua dengan senapan otomatis teracung siap menembak. Tapi Xavier tidak gentar. Tidak juga Jagar, Abhimanyu, atau Damian yang berdiri di belakangnya.Abhimanyu memutar pedangnya di tangan, logamnya berkilat di bawah cahaya redup. “Kita bisa selesai dalam tiga menit.”Xavier menatap Jagar, memberi isyarat halus. Jagar mengangguk.Lalu neraka pun meledak.Jagar adalah yang pertama melesat, tubuh besarnya bergerak lebih cepat dari yang bisa diduga. Tangannya merobek satu pria dengan gerakan brutal, sementara Abhimanyu mengikuti, pedangnya menyambar leher pria di sebelahnya dengan satu tebasan mulus.Xavier tidak menunggu lebih lama. Dia maju dengan kecepatan yang mengerikan, belatinya melesat ke tenggorokan pria yang mencoba menghalanginya. Darah memu

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 45

    Mengulang kembali kalimat itu dalam benaknya, membuat Divya nyaris terengah, ia setengah mati menginginkan Xavier bercinta dengannya, tidak peduli bahwa kini Divya tampak murahan, liar dan kehilangan sopan santun, tapi dia benar-benar ingin bercinta dengan Xavier. Divya tidak pernah menginginkan se

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 40

    “Menyentuhnya,” jawab Divya memasang wajah polos, menggenggam Xavier dengan tangannya yang mungil, “merasai tekstur dan ukurannya.” Fuck! Sudah Xavier ingatkan pada dirinya sendiri bahwa Divya adalah malaikat kematiannya namun dia masih saja terus menabrak arah. “Lepaskan.”

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 39

    ”Aku tidak akan menyesal.”Xavier menatapnya lekat. Sementara wanita itu melepaskan pakaiannya. Divya tidak pernah seperti ini sebelumnya, biasanya dia memiliki sopan santun yang begitu tinggi, juga menjaga wibawanya sendiri. Namun sekarang dia tidak berada di tempat yang bisa dijangkau Eyang

  • Sentuhan Panas Sang Bodyguard   BAB 1

    Xavier mengangkat kedua lengannya, menangkis pukulan lawan sebelum melancarkan serangan balik yang cepat dan mematikan. Tinju kanannya menghantam keras rahang pria di depannya, membuat tubuh lawannya limbung sebelum akhirnya jatuh tersungkur di matras. Nafas Xavier sedikit memburu, tapi matanya tet

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status