تسجيل الدخولFarhan masih menatap layar ponselnya. Pesan anonim itu membuat ekspresinya berubah serius.
Mahendra yang duduk di hadapannya ikut membaca isi pesan tersebut. Ia kemudian meletakkan gelas kopinya dan menatap Farhan dengan tenang. "Farhan, menurutku lebih baik kamu segera menyusul Nadya." Farhan mengangkat pandangannya. "Maksudmu?" "Kalian harus segera berkoordinasi dengan tim keamanan dan pihak kepolisian. Setelah itu,POV NauraTiga bulan berlalu.Proyek kerja sama antara perusahaan Naura dan perusahaan Mahendra berjalan sesuai target.Berkat kerja sama seluruh tim, proyek tahap pertama berhasil diselesaikan tepat waktu.Keberhasilan itu menjadi titik balik bagi perusahaan.Kepercayaan investor kembali meningkat.Beberapa proyek baru mulai berdatangan.Nama perusahaan keluarga Noel pun perlahan kembali dikenal sebagai perusahaan yang profesional dan berintegritas.---Malam itu.Naura, Noel, dan Jolina berkumpul di ruang keluarga.Di atas meja terdapat laporan keuangan perusahaan yang baru saja selesai diperiksa.Noel menutup map tersebut sambil tersenyum bangga."Hasilnya sangat baik.""Kamu berhasil mengembalikan kepercayaan banyak orang."Naura tersenyum kecil."Ini bukan karena aku saja, Yah.""Semua karyawan juga bekerja keras."Jol
POV NauraKeesokan paginya.Naura kembali disibukkan dengan aktivitas di perusahaan.Sejak kerja sama dengan perusahaan Mahendra resmi dimulai, hampir setiap hari ada rapat, peninjauan proyek, hingga pertemuan dengan investor."Selamat pagi, Bu Naura.""Selamat pagi."Naura membalas sapaan para karyawan sambil berjalan menuju ruang kerjanya.Baru saja ia duduk, sekretarisnya masuk membawa beberapa map."Bu, ini jadwal Ibu hari ini."Naura membukanya satu per satu."Pukul sembilan rapat evaluasi proyek.""Pukul sebelas bertemu calon investor.""Setelah makan siang ada penandatanganan kontrak."Naura mengangguk pelan."Baik.""Tolong jadwalkan juga kunjungan ke lokasi proyek minggu depan.""Baik, Bu."Setelah sekretaris keluar, Naura menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi.Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari
POV NauraPagi itu, ruang rapat utama dipenuhi oleh jajaran arahan dari kedua perusahaan.Naura hadir bersama sekretaris perusahaan dan asistennya.Sementara Mahendra datang mewakili perusahaannya beserta tim.Hari itu menjadi awal kerja sama resmi antara kedua perusahaan dalam proyek pembangunan kawasan bisnis.Setelah seluruh pembahasan selesai, kedua pihak menandatangani dokumen kerja sama.Mahendra menutup peta di hadapannya lalu tersenyum."Semoga kerja sama proyek ini berjalan lancar.""Dan semoga tidak ada lagi kejadian seperti yang pernah kita alami sebelumnya."Naura mengangguk.“Amin.”"Kali ini kita akan mengawalinya bersama."Seluruh peserta rapat ikutkan menganggukkan kepala.“Amin.”Tepuk tangan pun terdengar memenuhi ruangan.---Penggunaan rapat, sebagian besar diarahkan kembali ke kantor masing-masing.Mahendra meno
POV MahendraFitri memandang putranya dengan sorot mata yang sulit diartikan.Ia kemudian mengembuskan napas panjang."Sudahlah, Mahendra.""Mama mengenalmu sejak kamu kecil."Mahendra hanya diam.Fitri melanjutkan dengan suara lembut."Mama melihat.""Naura memang memiliki beberapa kemiripan dengan Rosa.""Cara bicaranya.""Sikapnya.""Dan cara dia menghormati orang lain.""Tapi Mama takut.""Kamu hanya sedang mencari pengganti Rosa."Mahendra langsung menggeleng tegas."Tidak, Ma."Fitri menatap putranya."Yakin?""Jangan sampai kamu menyukai Naura hanya karena dia mengingatkanmu pada Rosa.""Itu tidak adil untuk Naura."Mahendra terdiam beberapa saat.Ia mengingat kembali setiap momen bersama Naura.Saat pertama kali melihat perempuan itu menangis karena pengkhianatan Farhan.
POV NauraPukul sembilan pagi.Ruang rapat utama mulai dipenuhi para kepala divisi.Naura memasuki ruangan bersama Mahendra dan sekretaris perusahaan.Seluruh peserta rapat berdiri memberikan salam."Selamat pagi, Bu Direktur."Naura tersenyum ramah."Selamat pagi.""Silakan duduk."Setelah semua kembali duduk, Naura membuka rapat."Hari ini kita akan membahas proyek pembangunan kawasan bisnis di Surabaya.""Proyek ini sempat tertunda akibat masalah hukum yang terjadi beberapa waktu lalu.""Tetapi sekarang investor telah memberikan kepercayaan kembali kepada kita.""Saya ingin proyek ini menjadi bukti bahwa perusahaan kita benar-benar berubah."Seluruh peserta mengangguk.Kepala Divisi Operasional mulai memaparkan perkembangan proyek."Lahan sudah siap.""Perizinan juga telah selesai.""Yang masih menjadi kendala hanya jadw
POV NauraPintu ruang rapat terbuka.Tiga orang berpakaian rapi memasuki ruangan bersama sekretaris perusahaan.Naura segera berdiri menyambut mereka."Selamat pagi. Terima kasih sudah datang."Salah seorang pria paruh baya mengulurkan tangannya."Selamat pagi, Bu Naura. Saya Richard, Komisaris Utama PT Arunika Capital. Ini rekan saya, Ibu Melissa dan Pak Andika."Naura menyalami mereka satu per satu."Silakan duduk."Mahendra dan Gibran ikut duduk di samping Naura.Richard membuka pembicaraan."Terus terang, kami sempat mempertimbangkan untuk menghentikan kerja sama.""Kasus yang terjadi beberapa waktu terakhir membuat kami kehilangan kepercayaan."Naura mengangguk."Saya memahami kekhawatiran Bapak dan Ibu.""Karena itu saya tidak akan meminta kepercayaan tanpa membuktikannya."Richard memperhatikan Naura."Lalu, apa yang akan And
Mobil yang dikendarai Farhan akhirnya memasuki area lokasi acara.Sejak tiba di gerbang utama, suasana sudah terlihat sangat ramai. Para tamu undangan, rekan bisnis, investor, dan awak media mulai berdatangan.Farhan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Naura.
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme







