MasukKarin ikut merapikan tempat pertemuan setelah mereka selesai, ia membuang kotak-kotak kue ke tong sampah dengan sangat telaten padahal di rumah, Karin seorang princess yang sangat dimanjakan orang tuanya. “Rin, aku duluan.” Silvi meninggalnya sendirian dengan koas lain, padahal ini juga pekerjaannya. Ruangan sudah sepi tapi Karin dan yang lain malah diminta ikut membersihkan tempat ini. Memangnya tidak ada OB? Karin menggerutu dalam hati. “Awwwhhhh.” Karin terkejut dan menoleh cepat saat tangannya ditarik ke ruangan kosong yang masih ada di dalam ruang meeting itu. Jantung Karin berdegup kencang saat didorong oleh dr. Diego ke dinding.“Susah sekali mengajakmu bertemu Baby,” bisiknya dengan suara serak di telinga Karin sambil mengecup lembut daun telinga Karin. Karin langsung merinding dan langsung menyentuh telinganya. “Kamu suka sembunyi-sembunyi seperti ini?” tanyanya sambil membelai lembut bibir Karin. “dok, masih ada orang di ruangan ini, aku gak mau sampai ke-ketahuan, u
“Kalian panitia?” tanya Icha meremehkan. Icha melipat tangannya di dada dan melihat Karin dari atas sampai bawah. Wanita ini sok cantik, juga merebut kekasih sahabatnya. Icha masih punya dendam dengan Karin, ia ingin sekali membuat nama baik Karin hancur tapi disisi lain, ternyata Karin juga keponakan dr. Arlan. Jadi, mereka tidak bisa sembarangan membuat Karin susah. “Iya dok, ini mau izin gak ikut visit, soalnya mau persiapan untuk malam nanti.” Icha mengangguk pelan dan melambaikan tangannya. “Pergilah!”Icha juga malas dibantu oleh Karin dan Silvi. Lebih tepatnya muak melihat wajah Karin. Setelah mendapatkan izin, mereka berlari ke ruang pertemuan. Sudah banyak yang berkumpul termasuk dokter-dokter yang mengadakan acara besar rumah sakit ini. “Untung gak terlambat,” ucap Silvi sambil menarik Karin, mereka mencari tempat duduk yang dekatan. Tidak lama banyak dokter spesialis masuk. Arlan bahkan datang dengan Diego. “Ya ampun,” ucap Karin sambil menutup wajahnya dengan map bi
“Udah enakan perutnya?” tanya Silvi, hari ini seperti biasa Karin sudah masuk ke rumah sakit, ikut visit pasien dan mulai mengerjakan laporannya yang tertunda karena berapa Minggu ini terus masuk rumah sakit. “Hemm udah, gak deras lagi.” Karin panik saja, biasanya darah haidnya tidak sebanyak itu tetapi bulan ini volumenya lebih banyak. Sepertinya ia memang tidak cocok dengan KB, sebagai mahasiswi kedokteran Karin malah meragukan KB suntik, selain suntik, ia juga minum pil KB. Ya, mungkin saja karena itu hormon nya jadi tidak stabil.“Malam nanti ada acara doctors gathering di Hotel Grand Hyatt.” Karin tidak tahu karena biasanya memang anak koas tidak diajak acara besar seperti ini. “Oh,” jawab Karin santai. Itu bukan urusannya, ia juga tidak mungkin ikut dalam acara.“Aku lihat kamu masuk dalam panitia penyambutan karena banyak dokter spesialis yang diundang.” “APA?” Sumpah? Karin terkejut bukan main, tidak ada dari panitia itu memberitahu Karin. Mereka sebenci itu dengan Karin
Karin keluar dari kamar, karena Arlan sedari tadi ada di luar. Karin tidak melihat ada Arlan di ruang televisi, ruang makan atau ruang gym, di dapur juga tidak ada. Apartemen ini mewah, banyak ruangan dan ada juga dua kamar. “Apa di kamar sebelah?” Karin membuka kamar sebelahnya dan mendengar suara gemericik dari toilet, Arlan pasti sedang mandi. Karin mendekati pintu toilet dan menempelkan telinganya ke pintu.“Ouh yess Karin, akhhhh!” Arlan sedang melakukan apa sampai menyebut namanya? “Ahhhhh dokter lebih dalam sayang, enak banget. Hemmm ahhhh ahhhh.” Bukannya itu suara ia sedang bercinta. Karin membuka pintu toilet dengan tidak sabar dan terkejut melihat Arlan sedang bermain dengan sabun. Ya, solo karir tanpa meminta bantuannya. Tapi, bukan itu yang membuat Karin penasaran tapi video yang Arlan tonton. “Sayang kamu belum tidur?”Cepat-cepat Arlan menyembunyikan ponselnya. Arlan takut Karin tahu kalau ia mereka setiap saat mereka bercinta. Karin pasti akan marah. “Itu ap
“Karin!” teriak Arlan di rumah Dimas, Arlan tidak malu sama sekali, entah kenapa dia yang biasanya dingin malah bersikap tidak tahu aturan di rumah orang. “Karin sakit dr. Arlan, ia butuh istirahat. Perutnya sakit, aku bersumpah tidak akan melakukan apapun padanya, aku sangat mencintainya. Mana mungkin aku membuat dia membenciku,” ucap Dimas mengejar Arlan yang mencari dari satu kamar ke kamar lain. Arlan sudah gila, ia cemburu dan tidak terima Karin memilih menginap di rumah Dimas daripada pulang dengannya. “Aku tidak percaya, aku akan membawa Karin karena ia lebih aman bersama denganku,” jawab Arlan dengan tegas. Dimas melarang Arlan untuk masuk kamar karena Karin tidak ingin ketemu dengan Pamannya. “Kenapa denganmu dr. Arlan? Kau seperti menyukai Karin. Apa benar?” Dulu pernah seperti ini, tapi akhirnya Dimas tahu kalau Arlan hanya Pamannya, mungkin saat itu Arlan tidak ingin Dimas dekat dengan keponakannya dan sekarang tindakan Arlan tidak seperti seorang Paman. Melainkan s
“Kamu di mana? Kenapa tidak menungguku pulang?” tanya Arlan dengan suaranya yang menggelegar. Karin sampai harus keluar dari kamarnya supaya bisa leluasa telponan dengan Arlan, Karin berjalan ke taman rumah Dimas yang ada di dekat kolam renang, rumah Dimas besar dan mewah sekali. Halamannya juga sangat luas. “dr. Dimas sudah urus semuanya dok, lagian di rumah juga gak ada orang.” Arlan terdiam, tidak terdengar lagi dia marah-marah. Karin tidak pernah menganggapnya ada. Apa yang Arlan katakan selalu angin lalu untuk Karin. “Jadi kamu menginap lagi?” Ternyata Dimas tidak bicara dengan Arlan, Padahal katanya Dimas sudah minta izin dengan Arlan. Pantas Arlan tidak tahu dan marah-marah sekarang. “Aku gak mungkin gituan di rumahnya dok, aku juga lagi periode. Jangan marah!” Karin bicara dengan pelan. Seharusnya memang Arlan tidak perlu marah. Ini tubuhnya, terserah Karin mau ke mana. Kenapa jadi Karin merasa bersalah karena telah membohongi Arlan. “Sedang periode tidak menghalangi un
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







