MasukKarin keluar dari kamar, karena Arlan sedari tadi ada di luar. Karin tidak melihat ada Arlan di ruang televisi, ruang makan atau ruang gym, di dapur juga tidak ada. Apartemen ini mewah, banyak ruangan dan ada juga dua kamar. “Apa di kamar sebelah?” Karin membuka kamar sebelahnya dan mendengar suara gemericik dari toilet, Arlan pasti sedang mandi. Karin mendekati pintu toilet dan menempelkan telinganya ke pintu.“Ouh yess Karin, akhhhh!” Arlan sedang melakukan apa sampai menyebut namanya? “Ahhhhh dokter lebih dalam sayang, enak banget. Hemmm ahhhh ahhhh.” Bukannya itu suara ia sedang bercinta. Karin membuka pintu toilet dengan tidak sabar dan terkejut melihat Arlan sedang bermain dengan sabun. Ya, solo karir tanpa meminta bantuannya. Tapi, bukan itu yang membuat Karin penasaran tapi video yang Arlan tonton. “Sayang kamu belum tidur?”Cepat-cepat Arlan menyembunyikan ponselnya. Arlan takut Karin tahu kalau ia mereka setiap saat mereka bercinta. Karin pasti akan marah. “Itu ap
“Karin!” teriak Arlan di rumah Dimas, Arlan tidak malu sama sekali, entah kenapa dia yang biasanya dingin malah bersikap tidak tahu aturan di rumah orang. “Karin sakit dr. Arlan, ia butuh istirahat. Perutnya sakit, aku bersumpah tidak akan melakukan apapun padanya, aku sangat mencintainya. Mana mungkin aku membuat dia membenciku,” ucap Dimas mengejar Arlan yang mencari dari satu kamar ke kamar lain. Arlan sudah gila, ia cemburu dan tidak terima Karin memilih menginap di rumah Dimas daripada pulang dengannya. “Aku tidak percaya, aku akan membawa Karin karena ia lebih aman bersama denganku,” jawab Arlan dengan tegas. Dimas melarang Arlan untuk masuk kamar karena Karin tidak ingin ketemu dengan Pamannya. “Kenapa denganmu dr. Arlan? Kau seperti menyukai Karin. Apa benar?” Dulu pernah seperti ini, tapi akhirnya Dimas tahu kalau Arlan hanya Pamannya, mungkin saat itu Arlan tidak ingin Dimas dekat dengan keponakannya dan sekarang tindakan Arlan tidak seperti seorang Paman. Melainkan s
“Kamu di mana? Kenapa tidak menungguku pulang?” tanya Arlan dengan suaranya yang menggelegar. Karin sampai harus keluar dari kamarnya supaya bisa leluasa telponan dengan Arlan, Karin berjalan ke taman rumah Dimas yang ada di dekat kolam renang, rumah Dimas besar dan mewah sekali. Halamannya juga sangat luas. “dr. Dimas sudah urus semuanya dok, lagian di rumah juga gak ada orang.” Arlan terdiam, tidak terdengar lagi dia marah-marah. Karin tidak pernah menganggapnya ada. Apa yang Arlan katakan selalu angin lalu untuk Karin. “Jadi kamu menginap lagi?” Ternyata Dimas tidak bicara dengan Arlan, Padahal katanya Dimas sudah minta izin dengan Arlan. Pantas Arlan tidak tahu dan marah-marah sekarang. “Aku gak mungkin gituan di rumahnya dok, aku juga lagi periode. Jangan marah!” Karin bicara dengan pelan. Seharusnya memang Arlan tidak perlu marah. Ini tubuhnya, terserah Karin mau ke mana. Kenapa jadi Karin merasa bersalah karena telah membohongi Arlan. “Sedang periode tidak menghalangi un
“Honey, gak marah semalam aku gak temenin kamu?” tanya Dimas. Jadwal operasi Dimas sangat padat, ia juga harus visit pasien, belum lagi bedah kasus dengan koas, sehingga bisa menjenguk Karin siang ini. Dimas saja mandi di rumah sakit karena tidak pulang dari semalam. “Gak marah, aku tau kamu sibuk dok, aku gak mau ganggu kamu. Aku juga calon dokter,” jawab Karin dengan lembut. Dimas meremas kedua tangan Karin dan menciumnya. Satu-satunya yang Dimas syukuri saat ini adalah ia bisa memiliki Karin dan itu sudah cukup membuatnya sangat bahagia. Dimas bahkan dipuji oleh sesama rekan dokter karena berhasil mendapatkan hati Koas paling cantik di rumah sakit ini. “Aku takut kamu bosan karena aku gak punya waktu, sebisa mungkin aku akan sempatkan waktuku untuk kamu Honey,” ucap Dimas sambil mengecup ujung hidung Karin. Karin senang melihat cara Dimas memperlakukannya, Dimas juga tidak marah dan sangat mencintainya. “Nanti aku akan ambil cuti dan aku sesuaikan dengan jadwal liburmu, supay
“Coba kalau kita gak sedarah, dok. Pasti aku bucin banget sama kamu,” gumam Karin sambil menatap foto Arlan di galeri ponselnya. Sosok pria sempurna dan pekerja keras seperti Arlan, ia juga gagah perkasa baik saat bekerja apalagi di ranjang. Punya wajah yang tampan dan dompet juga tebak. Mana mungkin Karin berpaling. Tapi, kenyataannya memang mereka tidak mungkin tapi perbuatan mereka sudah terjadi. Rasa itu ada tapi Karin menolak untuk percaya. Mereka cukup diranjang dan setelah mendapatkan pasangan masing-masing. Mereka pasti akan saling melupakan. Perawan ini tidak masalah hilang di tangan Arlan, Karin juga suka. Namun, bukan untuk selamanya mereka bersama. Karin yakin ini hanyalah gejolak masa mudanya yang nakal. “Pagi, Karin!” Karin menoleh, Winda yang datang. Kenapa wanita ini tiba-tiba mengunjunginya? Siapa yang memberitahu Winda kalau ia sedang sakit. Apa Arlan? “Hai, pagi. Darimana pagi bener udah di rumah sakit?” tanya Karin dengan senyumnya yang manis. “Ketemu dr.
“Rin, gak bisa. Aku baru aja dekat dia, dia kayak jijik gitu lihat aku Rin,” ucap Silvi setelah dr. Diego pulang. Karin merajuk. Kenapa pula Silvi jahat sekali dengannya. Mengajak orang kenalan tapi pakai fotonya. Jangan-jangan mengusir tikus di rumah juga pakai fotonya. “Aku bingung,” jawab Karin sambil memeluk bantalan karet di perutnya, meskipun nyerinya sudah reda tapi masih tidak nyaman karena darahnya begitu banyak, berapa kali Karin harus ganti pembalut, untung Silvi yang membantunya. “Bingung kenapa? Masalah dr. Diego?” Karin mengangguk, kalau Dimas tahu Karin punya seseorang yang menyukainya. Bagaimana? Kalau Arlan tahu sahabatnya ternyata suka dengan wajah Karin. Apa jadinya? “Rin, kamu udah balas pesan dari Mami kamu?” tanya Silvi. Karin menggeleng, tidak penting! Orang tuanya hanya sekedar formalitas saja bertanya, bukan untuk memperhatikan perkembangannya. “Mami tadi telepon aku juga, dia minta tolong jagain kamu, besok siang udah sampai di Jakarta lagi, Mami lagi
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







