LOGINBagi Devan, Vani hanyalah parasit yang menempel di rumah mewahnya karena sebuah wasiat. Menikahi Vani adalah hukuman baginya, maka ia pun menghukum Vani dengan menjadikannya pelayan tanpa gaji, tinggal di kamar pembantu, dan menganggapnya tidak ada. Di sekolah, Vani hanyalah si miskin dengan seragam lusuh yang setiap hari dirundung. Tak ada yang tahu jika di balik bajunya yang menguning, ia adalah istri sah dari seorang pria kaya raya. Namun, rahasia itu perlahan goyah saat guru olahraganya, yang ternyata sahabat suaminya sendiri, mulai masuk ke dalam kehidupan Vani yang kelam. Akankah Devan tetap dingin saat melihat pria lain berusaha menyelamatkan budak yang ia benci?"
View More"Nggak diminum lagi...." gumam Vani lirih. Matanya menatap nanar pada cangkir berisi kopi jahe yang sudah mendingin di atas meja makan. Padahal, ia sudah bangun sebelum subuh untuk meracik jahe segar agar tubuh suaminya hangat sebelum berangkat kerja. Namun, Devan bahkan tidak menyentuhnya sama sekali, seolah kopi itu hanyalah pajangan yang mengganggu pemandangan.
Vani menghela napas panjang, lalu bergegas menuju kamarnya yang sempit di bagian paling belakang rumah. Ia segera membersihkan diri dan berganti seragam sekolah yang warnanya sudah mulai menguning dimakan usia. Hari ini, bekalnya hanya nasi goreng sederhana tanpa telur, yang ia masak dengan sisa bahan seadanya di dapur. Pernikahan ini... Vani tahu ini hanyalah sebuah beban bagi Devan. Devan terpaksa menikahinya hanya karena wasiat terakhir orang tua pria itu yang memintanya menikahi anak pembantu yang sudah mengabdi puluhan tahun di sana. Bagi Devan, Vani adalah parasit. Itulah sebabnya Vani ditempatkan di kamar pembantu paling belakang, tak lebih dari seorang asisten rumah tangga tanpa gaji. "Bekal sudah ada, uang kas sekolah juga ada. Tapi kalau uang ini dipakai bayar kas, aku nggak bisa beli minum di kantin," gumam Vani sambil menimang beberapa lembar uang kusam di tangannya. "Ya sudah, bawa minum sendiri saja di botol." Vani mengisi botol minum kesayangannya dengan air putih keran yang sudah direbus. Ia tak pernah berani meminta uang sepeser pun pada Devan. Ia tahu diri. Kehadirannya di rumah mewah itu saja sudah membuat Devan muak. Di Sekolah Suasana kelas riuh, tapi Vani memilih duduk di pojok, membuka buku pelajarannya. Ia siswi pintar, selalu masuk peringkat tiga besar, namun ia adalah target empuk rundungan karena penampilannya yang terlihat sangat miskin. "Lihat si miskin itu, seragamnya sudah kuning begitu masih saja dipakai. Apa nggak malu?" celetuk seorang siswi. "Iya, benar. Tapi kemarin gue lihat dia masuk ke komplek perumahan mewah di jalan sebelah, lho," timpal yang lain. "Palingan juga anak pembantu atau tukang cuci piring di sana. Mana mungkin dia tinggal di sana sebagai pemilik," tawa mereka pecah. Di sudut lain, beberapa teman sekelasnya berbisik prihatin. "Padahal dia pintar banget, ya. Dulu katanya dia nggak semiskin ini. Katanya sejak orang tuanya meninggal, hidupnya berubah total. Dia bahkan kerja di warteg ujung jalan itu setiap pulang sekolah buat bertahan hidup." Tiba-tiba, pintu kelas terbuka kasar. Nia, mantan sahabat Vani yang kini menjadi musuh bebuyutannya, masuk dengan gaya angkuh. "Hey, Van! Lihat, sekarang gue sudah resmi jadian sama Kenan. Cowok idaman yang dulu lo taksir, kan?" ucap Nia sengak. Vani hanya mendongak sekilas, lalu kembali menyuap nasi gorengnya. "Oh... selamat, ya." Nia yang merasa diabaikan langsung naik pitam. "Heh! Gue ngomong itu dilihat, bukan malah sibuk sama nasi sampah lo ini!" BRAKK! Nia menyambar tempat makan Vani dan melemparnya ke lantai hingga nasinya berhamburan ke mana-mana. Vani terdiam, menatap makanan yang susah payah ia buat kini kotor terinjak lantai. "Puas kamu sudah buang makanan aku?" tanya Vani dengan nada datar, meski hatinya perih. "Puas banget! Makan tuh nasi di lantai, cocok buat orang kayak lo!" tantang Nia. Vani menatap Nia tajam. "Kamu saja yang makan. Saya bukan anjing." Nia baru saja hendak menampar Vani, namun tangannya ditahan oleh Vega, satu-satunya teman yang berani membela Vani. "Beresin sekarang, setan! Lo yang buang, lo yang harus tanggung jawab!" teriak Vega. "Suruh si miskin itu yang beresin!" tolak Nia. "Bersihin sekarang atau gue laporin ke kepala sekolah kalau lo sudah keterlaluan membully Vani!" ancam Dion, ketua kelas yang sudah lama jengah melihat tingkah Nia. Nia tak berkutik. Dengan wajah memerah karena malu, ia menyuruh Siti, pengikut setianya, untuk membersihkan lantai. "Siti, bersihin! Gue mau ke kelas Kak Kenan!" Pelajaran Olahraga Di lapangan, Pak Eko mengerutkan kening melihat Vani yang masih memakai seragam putih abu-abu, sementara teman-temannya sudah memakai baju olahraga. "Vani, kenapa kamu gak ganti baju?" tanya Pak Eko. "Maaf, Pak. Vani belum punya uang untuk beli baju olahraga. Mungkin bulan depan," jawab Vani jujur. "Ambil saja dulu di administrasi, biar Bapak yang urus," tawar Pak Eko prihatin. "Nggak usah, Pak. Terima kasih. Takutnya nanti Vani nggak bisa bayar. Vani ikut olahraga begini saja, nggak apa-apa." Meskipun memakai seragam sekolah, Vani menunjukkan kemampuannya. Ia melompat dan melakukan smash voli yang luar biasa hingga Pak Eko terpukau. "Vani, kamu saya masukkan ke tim inti voli sekolah, ya? Latihan setiap Selasa dan Kamis," ujar Pak Eko semangat. Vani menggeleng pelan. "Maaf, Pak Eko. Vani nggak bisa. Tiap pulang sekolah Vani harus bantu Mbak Sari jualan di warteg ujung jalan." Pak Eko tertegun. "Kamu kerja di sana? Sampai jam berapa?" "Sampai jam lima sore, Pak. Lumayan buat tambah-tambah uang saku," Vani tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa lelahnya. "Lalu kamu tinggal di mana sekarang?" "Di rumah majikan almarhumah Bunda, Pak," jawab Vani berbohong, tak mungkin ia mengaku sudah menikah dengan pemilik rumah itu. Malam Harinya Vani pulang lebih malam hari ini karena pembeli di warteg sangat ramai. Dengan kaki yang pegal karena harus berjalan kaki cukup jauh, ia tiba di rumah pukul setengah sembilan malam. Di ruang tamu, Devan sudah berdiri dengan wajah merah padam. "Baru pulang jam segini? Dari mana saja kamu? Jual diri?!" bentak Devan tanpa perasaan. "Maaf, Tuan... Vani habis bantu-bantu di warteg Mbak Sari," cicit Vani ketakutan. Tanpa peringatan, Devan menyeret lengan Vani dengan kasar. Ia membawa Vani ke arah kamar mandi belakang dan mendorongnya masuk. "Besok-besok jangan berani ke sana lagi! Masuk! Bersih-bersih! Setelah ini masak yang banyak, teman-teman saya mau datang!" Vani hanya bisa menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. Dengan tenaga yang tersisa, ia mandi dan segera berkutat di dapur menyiapkan berbagai hidangan untuk tamu suaminya. Pukul sepuluh malam, rumah itu menjadi sangat bising. Teman-teman Devan datang membawa pacar masing-masing. Mereka makan dengan lahap hasil masakan Vani. "Enak banget masakan ini, Sayang. Siapa yang masak? Bukannya si Mbok sudah meninggal?" tanya Lana, pacar Devan, sambil manja bergelayut di lengan Devan. "Ada anaknya dari kampung yang gantiin. Dia cuma numpang di sini," jawab Devan dingin. Vani yang merasa perutnya mulas ingin ke kamar mandi, terpaksa keluar dari area dapur. Namun, langkahnya terhenti saat matanya bertemu dengan sosok pria yang sangat ia kenal. "Vani? Kamu tinggal di sini?" tanya pria itu kaget. Vani mematung. "Pak... Pak Eko?" Pak Eko, guru olahraganya, berdiri dengan wajah bingung. "Dev, Vani, anak didik gue di sekolah. Dia anak si Mbok?" Devan hanya mengangguk malas. "Iya. Kenapa?" Pak Eko duduk di sebelah Devan dengan raut wajah serius. "Dev, lo tahu nggak? Vani itu murid pintar, tapi dia bahkan nggak punya baju olahraga. Seragam yang dia pakai saja sudah lusuh banget. Bukannya dia dapat warisan dari nyokap lo?" "Gue nggak tahu dan nggak peduli," sahut Devan ketus. "Loe nyuruh dia masak sebanyak ini, lo gaji dia nggak?" tanya Pak Eko lagi, suaranya mulai meninggi. "Nggak. Ngapain digaji? Dia sudah numpang hidup gratis di sini." Pak Eko menggeleng tak percaya. "Pantas dia kerja di warteg sampai sore. Dev, dia itu manusia, bukan budak! Kalau lo nggak mau urus dia, mending Vani gue bawa pulang ke rumah gue. Dia bisa jagain anak gue, si Emran, dan gue gaji dia dengan layak!" Wajah Devan mendadak mengeras. "Nggak bisa!" PRANGGG!!! Tiba-tiba suara benda pecah terdengar sangat keras dari arah dapur. Semua orang terdiam. Devan langsung berdiri dan berlari ke arah sumber suara.Meskipun aroma mie goreng telur setengah matang buatan Daddy Damian begitu menggoda iman, rasa pundung di hati anak bujang itu rupanya masih tersisa sedikit. Vano memalingkan wajahnya ke arah lain dengan bibir yang masih mengerucut maju."Gak gak mau." Ucap Vano bersikeras menolak suapan sang ayah, mencoba mempertahankan harga dirinya yang sempat terluka.Melihat kembarannya masih mogok makan, Vani langsung mengambil tindakan tegas. Dia menatap lurus ke arah sepasang mata Vano dengan raut wajah yang mendadak ikut cemberut."Vano kalau Vano gak mau makan Vani juga gak akan makan." Ucap Vani mengancam, tahu betul kalau Vano paling tidak bisa melihat dirinya kelaparan.Vano langsung panik setengah mati karena takut Vani kesayangannya ikut-ikutan mogok makan dan takut kelaparan lagi seperti masa lalu."Jangan gitu atuh...." Ucap Vano yang langsung bangun dari posisi tidurannya dan tanpa aba-aba dia langsung peluk Vani dengan erat, menumpahkan segala rasa sayang dan protektifnya kepada san
"Om kalau nyiapin makan selalu minta makannya kita nanti malah sedikit om yang lebih banyak." Ucap Emran.Devan seketika menepuk jidatnya sendiri, menatap pasrah ke arah langit-langit langit ruangan dengan helaan napas berat karena lagi-lagi diskakmat oleh seorang balita."Astaga bocah segitunya pisan." Ucap Devan geleng-geleng kepala, tidak menyangka jika ingatan bocah gembul itu begitu tajam.Sebelum perdebatan paman dan keponakan itu memanjang, Pak Damian muncul dari arah dapur dengan langkah lebar. Kedua tangannya dengan cekatan membawa dua piring besar berisi mie pedas yang aromanya langsung menggugah selera, lalu meletakkannya di atas meja bundar dengan tegas."Udah jangan ribut Vano ini punya kamu. Punya Vani yang ini Daddy suapin." Ucap Damian membagi porsi dengan adil.Melihat piring makanannya dipisahkan dari piring Vani, Vano yang duduk di kursi langsung memasang wajah memelas. Dia menatap sang ayah dengan pandangan penuh harap."Vano pengen makan di suapin juga barengan Va
Mendengar teriakan histeris Devan yang menggelegar dari balik pintu kamar mandi, Mamih Eko langsung meletakkan gelas tehnya dengan cepat. Dengan langkah terburu-buru, wanita paruh baya itu langsung membuka pintu kamar mandi tersebut, menatap menantu Devan dengan dahi berkerut dalam."Ada apa lagi kata mamih juga sama mamih kamu ini." Ucap Mamih Eko mengomeli Devan yang tampak berdiri kaku di samping wastafel dengan wajah yang sudah pucat pasi mengalahkan wajah orang sakit.Devan langsung menoleh, matanya berkaca-kaca menunjuk ke arah lubang pembuangan air dan pakaian bawah Vani dengan ekspresi wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa seolah sedang melihat bencana besar."Mamih.... Huuuuuaaaa......lihat darahnya banyak kenapa gak abis-abis kasihan." Ucap Devan merengek heboh hampir menangis, merasa ngeri sekaligus iba melihat cairan merah pekat yang terus mengalir keluar dari tubuh istri kecilnya tanpa bisa dia bendung.Mamih Eko seketika menepuk jidatnya keras-keras, merasa tidak habi
"Tenang Voni baik-baik saja kalau haid ya gini sakit itu normal ada yang bisa nahan rasa sakit itu ada yang gak yang pasti Voni baik-baik ajah gak kenapa-kenapa." Ucap dokter memberikan penjelasan medis yang sangat menyejukkan hati, menegaskan bahwa kondisi Vani sama sekali tidak membahayakan nyawanya.Namun, rasa penasaran dan kecemasan Devan rupanya belum sepenuhnya sirna. Pria itu menunjuk layar kalender di ponselnya dengan dahi berkerut, menuntut penjelasan lebih lanjut atas ketidaksesuaian tanggal yang ada di otaknya."Tapi kenapa harusnya haid tanggal 20 ini tanggal segini udah haid?" Tanya Devan penuh selidiki, merasa heran mengapa siklus bulanan istrinya bisa meleset cukup jauh dari jadwal biasanya."Hehehehe... Emang begini siklus haid emang kadang maju kadang mundur." Ucap dokter menjelaskan sifat alami hormon wanita yang memang sering kali tidak menentu akibat faktor kelelahan atau pikiran.Devan menghembuskan napas panjang, akhirnya bisa menerima penjelasan logis tersebut
"Lo gak lihat gimana pacar kesayangan lo itu ngebuli dia? Dia cuma diam, Dev! Padahal posisinya dia itu istri sah lo," ucap Eko dengan nada kesal yang tertahan. "Vani bisa saja lempar gelas itu ke muka Lana kalau dia mau, tapi dia gak sebodoh itu. Dia cuma gak mau cari masalah karena dia tahu sekar
"Jam dua malam, Tuan," bisik Vani lirih sambil melirik jam di dinding klinik."Sudah, cepat jangan banyak protes. Kamu itu istri saya, jadi saya sah-sah saja memegang tubuh kamu," potong Devan dengan nada yang tak ingin dibantah."Tapi, Tuan..." Vani masih berusaha menolak."Gak ada tapi-tapian, ce
"Nanti gue ceritain semuanya," ucap Devan pendek, mencoba mengakhiri rasa penasaran Eko.Mereka pun melangkah mengikuti suster dan dokter menuju ruang rawat Vani. Beruntung klinik ini cukup besar dan fasilitasnya lengkap, sehingga ada ruang inap yang memadai."Maaf, Tuan... tolong dijaga ya, jangan
"Sayang, ada apa?" tanya Devan dengan nada khawatir begitu menghampiri pacarnya."Ini, Sayang... pembantu kamu ceroboh banget! Dia mecahin gelas kesayangan aku, Sayang," adu Lana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.Plak! Tanpa aba-aba dan tanpa bertanya lebih dulu, tangan Devan melayang kera












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.