로그인Luna menatap perutnya yang mulai membesar. Sejak tau dia hamil, ia dapat melihat perutnya membesar dan merasakan gejala kehamilan yang semakin jelas. Nyidam? Tentu. Luna sangat ingin mendengar suara Cavero. Namun jelas, hal tersebut tidak mungkin dia lakukan karena sekarang, posisinya dia sedang kabur dengan memalsukan kematiannya. Luna harus segera mengenyahkan perasaannya. Sejak hamil, perasaannnya untuk Cavero semakin jelas. Entah itu bawaan anak atau perasaan Luna sendiri. Luna tak dapat menilainya. Akhirnya setiap malam, Luna harus mengigit bibirnya menahan tangis agar putranya Cashelion tidak mengetahuinya. Semakin dia merindukan Cavero, semakin ingatan kebejatan dan kejahatan Cavero semakin muncul seolah mengingatkannya bahwa perasaan itu dilarang, perasaan itu tabu. Anggap saja ini adalah hukuman untuknya dan Cavero karena saling memiliki perasaan yang tak semestinya.Luna menghapus air matanya. Dan berjalan menuju kamar mandi. Tepat di depan kaca wastafel, Luna melihat pena
Beberapa hari setelah peristiwa malam yang berdarah itu, suasana kota perlahan mulai berubah. Kehancuran tim penyerbu Black Cobra di kediaman Cavero hanya menjadi permulaan. Cavero kini berdiri di balkon lantai teratas gedung pusat Oliver Group, menatap lanskap kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memegang segelas whiskey tua, mengamati garis cakrawala dengan tatapan penuh perhitungan."Gimana perkembangan serangan finansial kita?" Tanya Cavero tanpa menoleh.Wilhelm tersenyum tipis, "Saya sudah memutus jalur pendanaan mereka dari kasino-kasino di Makau dan Singapura. Pagi tadi, saham perusahaan cangkang mereka di bursa jatuh sejatuh-jatuhnya. Investor mereka mulai panik dan menarik modal secara masif. Bisa dibilang, secara ekonomi, sang kobra sudah kehilangan bisanya.""Bagus. Bagaimana dengan pemimpin Black Cobra? Dia masih sembunyi di pusat logistik di pelabuhan lama?" tanya Cavero."Benar, Tuan. Informan saya bilang mereka membawa sekitar tiga puluh warga sipil dari perumah
Beberapa hari setelah peristiwa malam yang berdarah itu, suasana kota perlahan mulai berubah. Kehancuran tim penyerbu Black Cobra di kediaman Cavero hanya menjadi permulaan. Cavero kini berdiri di balkon lantai teratas gedung pusat Oliver Group, menatap lanskap kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memegang segelas whiskey tua, mengamati garis cakrawala dengan tatapan penuh perhitungan."Gimana perkembangan serangan finansial kita?" Tanya Cavero tanpa menoleh.Wilhelm tersenyum tipis, "Saya sudah memutus jalur pendanaan mereka dari kasino-kasino di Makau dan Singapura. Pagi tadi, saham perusahaan cangkang mereka di bursa jatuh sejatuh-jatuhnya. Investor mereka mulai panik dan menarik modal secara masif. Bisa dibilang, secara ekonomi, sang kobra sudah kehilangan bisanya.""Bagus. Bagaimana dengan pemimpin Black Cobra? Dia masih sembunyi di pusat logistik di pelabuhan lama?" tanya Cavero."Benar, Tuan. Informan saya bilang mereka membawa sekitar tiga puluh warga sipil dari perumah
Mobil mendadak mengerem tajam di pinggiran area industri yang terbengkalai. Asap hitam mengepul hebat dari salah satu gudang besar milik Blood Moon. Seth yang duduk di depan segera keluar lebih dulu, tangannya sudah memegang senjata otomatis yang ia tarik dari balik pintu mobil. Tak lama kemudian, dari arah tumpukan kontainer, Asael muncul dengan pakaian taktis lengkap. "Aku sudah mengepung titik koordinat utama! Dan para pasukan elit mereka juga sudah dikirim keluar untuk menangani Zeyan." lapor Asael ke Cavero. "Posisi sniper kita sudah di tempatnya masing-masing?" tanya Wilhelm pada Asael. "Semuanya siap," Cavero melangkah keluar dari mobil. Angin malam yang dingin menyapa wajahnya, membawa aroma menyengat dari bahan kimia yang terbakar dan debu mesiu. Ia menatap kobaran api di depannya dengan pandangan yang hampir terlihat penuh apresiasi. Baginya, kehancuran ini memiliki simetri tersendiri. Ia berjalan menuju bagasi mobil yang terbuka otomatis, mengeluarkan sebuah tas jinjing
Suara tetesan air yang jatuh secara ritmis dari pipa bocor di langit-langit menjadi satu-satunya melodi di dalam ruangan kedap suara itu. Aris tersentak saat sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, membuatnya hampir tersungkur bersama kursi kayu tempatnya terikat. Napasnya terengah, berbau darah dan keputusasaan. Di hadapannya, Seth berdiri dengan tenang sambil menyeka tangannya yang berlumuran darah dengan sapu tangan putih. Mata Seth dingin, seolah sedang menatap seonggok daging tak berharga, bukan seorang manusia.Aris hanya bisa mengerang. Dia mencoba menggerakkan lidahnya untuk mencari kapsul sianida yang seharusnya ada di gigi gerahamnya, tetapi dia hanya menemukan kekosongan yang perih. Dia mendongak dan melihat Wilhelm duduk di pojok ruangan dengan tablet di tangannya, menatapnya dengan raut wajah bosan."Kamu cari ini?" ucap Wilhelm tanpa menoleh, mengangkat sebuah wadah plastik kecil berisi dua gigi geraham yang sudah hancur. "Sudah ku cabut tiga jam yang lalu saat kamu p
Tiga minggu telah berlalu sejak hari ia pingsan di dapur. Kondisi Luna tidak juga membaik. Nafsu makannya hilang total untuk nasi dan lauk berminyak, tapi dia terus merasa lapar di tengah malam secara tidak masuk akal. Berat badannya sedikit menurun di area wajah, membuat tulang pipinya terlihat menonjol tajam, mempertegas kecantikan yang penuh dengan kesedihan.Luna berdiri di depan cermin lemari plastik miliknya. Nafasnya mulai menderu tidak beraturan saat tangannya gemetar menyingkap kaos tipis yang ia kenakan.Matanya terbelalak melihat apa yang tampak di sana.Perutnya tidak lagi rata. Ada sebuah lengkungan kecil namun nyata di sana, tepat di bawah pusarnya. Luna meraba area itu dengan jemari yang terasa dingin. Ada sesuatu yang keras, sesuatu yang mulai menuntut ruang di dalam sana. "Nggak mungkin," bisik Luna dalam keheningan yang menyesakkan. "Ini beneran gak mungkin."Dia menghitung hari demi hari, mencoba mengingat-ngingat siklus bulanannya yang memang tidak pernah teratur.
"Tuan muda sepertinya memiliki kepribadian ganda." Cavero terkejut. "Ja ... jangan-jangan nyonya juga begitu tuan. Dia memiliki kepribadian ganda juga." Ekspresi Cavero kembali ke semula. "Enyah sana!" "Tuan, saya serius. Tadi saya berniat menemui tuan muda namun saya mendapati tuan mud
Seth, tangan kanan Cavero memberikan laporan apa yang dilakukan oleh Lunaria hari ini. Cavero mendengarkannya dalam diam seraya fokus mengerjakan pekerjaannya. "Sepertinya nyonya benar-benar sangat depresi tuan. Apa tidak sebaiknya kita memanggil Psikiater kembali? Nyonya sepertinya salah m
"Cashel," panggilku ketika kita sudah ada didalam mobil. Tadi sedikit ada drama Cashelion tidak mau masuk kedalam mobil. Dan sekarang, Anak itu diam tak meresponnya. "Cashelion." panggilku dengan menyentuh bahunya. Anak itu terkejut kemudian menatapku. Tak lama ia menunduk dan tak mau menun
Setelah satu minggu merenung aku akhirnya menyadari bahwa tidak mungkin aku bisa kembali ke duniaku. Aku yang disana, sudah pasti mati. Karena itu, aku punya tiga cara untuk menyelamatkan hidupku. Pertama, aku harus memperbaiki hubunganku dengan Cashelion. Dan tidak membuat masalah dengan psi







