Mag-log inBejo tidak langsung mambawa Mila pulang. Dia membawa Mila ke suatu tempat yang mungkin saja bisa membuat wanita itu melepaskan semua kegundahan, kesakitan dan juga menumpahkan kekesalan yang sudah memuncak di dalam dada. Sore ini pun gagal ke butik karena selain dia yang membawa Mila pergi. Wanita itu juga sepertinya sedang bad mood sekali sampai tidak bertanya hendak ia bawa kemana padahal sejak tadi Mila memperhatikan jalan dan melihat ke arah jendela. Hanya saja pandangan wanita itu terlihat kosong. Hampa!Bejo yakin di dalam tadi terjadi hal yang tidak diinginkan tetapi memang tidak tertangkap oleh matanya karena tidak ada pergerakan Mila yang membuatnya curiga. "Kita turun, Nyonya!" ajaknya setelah mobil tiba di tempat yang menurutnya ini cocok untuk Mila walaupun Bejo sendiri tidak tau selera wanita itu tetapi selama bekerja, dia tidak pernah melihat Mila healing. Sekalinya kabur malah ke kebun teh dan itu malam-malam pula. Pulang dengan selamat juga sudah alhamdulillah. "N
"Telinga kamu tuh dipasang nggak sih Mila? Saya tadi bilang jam berapa mulainya? Kenapa jam segini baru sampai? Kamu tuh tau nggak kalau mereka semua sudah nungguin. Mana yang ditanyain kue kamu lagi. Kalau mintanya bukan kue ini, nggak mungkin saya minta kamu bawain! Bikin malu aja!" "Maaf Mah, tadi Mila telat karena Mila juga butuh mempersiapkan semuanya." "Lelet! Memang kamu tuh lelet! Ada aja yang nggak benarnya kerjaaan kamu tuh! Sekarang kamu bantu Bibi siapin dan kamu antar ke depan! Nggak jelas kamu tuh memang!" Mamah begitu ketus sekali. Kebetulan di saat ngoceh seperti itu, Bejo sedang mengambil beberapa boks bonus yang masih ada di dalam mobil. Jadi tidak mendengar ocehan Mamahnya Saka. "Iya, Mah. Akan Mila siapkan." Mila sudah pasrah saja. Mungkin juga karena memang merasa bersalah dan Mamah benar. Beliau sudah mewanti-wanti satu jam sebelumnya bahkan sampai kirim pesan berulang kali karena kuenya menjadi menu utama. Maka dari itu tidak heran kalau beliau mar
"Loh kok nggak langsung berangkat, Jo?" "Janjiannya sama dosbing jam sembilanan, Nyonya." Bejo memilih menunggu waktu di toko Mila. Tadi wanita itu tidak tau kalau dia masih di sana. Maka dari itu sempat terkejut kala tau mobilnya masih ada diparkiran. "Masuk dulu kalau begitu," perintah Mila dan dia pun segera melangkah masuk ke dalam toko tetapi tertahan saat melihat dari dalam ada Caca yang turun dari mobil dan masuk ke toko roti. Segera langkahnya panjang menuju ruangan Mila tetapi tidak masuk. Bejo sengaja berdiri di dekat pintu bersembunyi di balik pilar sehingga dia bisa melihat pergerakan Caca dari sana. "Mbak, saya kenal dengan mobil yang di depan itu. Itu tadi customer sini juga? Sekarang orangnya mana ya, Mbak?" tunjuk Caca yang kepo akan mobil Mila hingga bertanya pada pelayan yang tengah menatap roti. Bejo diam memperhatikan dan berharap pelayan tersebut tidak memberikan jawaban yang bisa membuat Caca menjadi betah di sini. "Oh itu milik bos saya, Kak
"Memang agak lama, Mas." Kedua alis Saka menukik mendengar jawaban Mila. Pria itu tidak percaya karena setaunya yang terakhir jumpa juga sedang berhalangan dan kalau dihitung seharusnya sudah sembuh. Namun mengapa malah masih ada. "Kamu nggak percaya sama aku, Mas?" "Cepat bersihkan!" perintah Saka yang kemudian beranjak dari atas tubuh Mila. Laki-laki itu melangkah menuju balkon kamar sedangkan Mila segera masuk ke dalam kamar mandi setelah mengotori ranjangnya juga. "Duh jadi ganti sprei dan selimut deh," gumamnya dan kasihan Bibi kalau harus membersihkan bekasnya begini. Memang pagi ini agak repot. Itu semua karena masalah yang sama dan rasanya sulit bagi Mila untuk bisa keluar dari masalah itu. Apalagi Saka yang semakin menggila dengan pemikiran dan keinginan-keinginan pria itu yang tidak bisa diterima oleh banyak orang. "Mas kamu mau mandi?" tanya Mila dengan keraguan kala Saka melangkah ke arahnya. Mila diam dengan handuk yang masih dia pegang dan Saka t
"Malam Tuan. Tuan dimana? Kenapa tidak pulang?" "Kenapa kamu yang bawel? Istriku saja tidak sebawel kamu! Bagaimana selama aku tidak pulang? Ada perkembangan dengan istriku? Katanya dia sangat menikmati sekali bercumbu denganmu.""Betul, Tuan." Bejo menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jawabannya demikian tetapi dia masih harus memikirkan efek dari setiap apa yang ia sampaikan. "Nyonya mengatakan begitu, Tuan?""Ya.""Ya memang Nyonya sudah sangat menikmati sekarang, Tuan. Hanya saja memang saya tidak bisa menjamin saat Nyonya menerima saya mau juga menerima Tuan atau tidak. Mungkin beda responnya, saya juga kurang paham Tuan."Bejo menjawab dengan sangat berhati-hati sekali. Padahal dia sendiri selesai dimanjakan oleh istri majikannya tersebut. "Baguslah! Setidaknya dia merasakan kenikmatan itu."Kedua alis Bejo menukik mendengar tanggapan dari Saka dan kembali bertanya. "Maaf Tuan, apa Tuan tidak ingin pulang dan melihat atau merasakan sendiri bagaimana has
Tangan Mila sengaja membantu Bejo membuka pengait yang ada di depan tepat bawah bagian yang merekah, bukan punggung bagian belakang yang mungkin sulit dijangkau oleh wanita itu. Lepas! Kedua buah yang indah, penuh, mulus, sangat berkilau di mata Bejo dan itu jelas sangat menggiurkan sekali. Jangan salahkan dia yang memakannya dengan lahap karena hal ini bukan untuk diabaikan. Remasan di sebelah sisi mengiringi hisapan yang kuat hingga membuat Mila semakin membusungkan dada. Sementara dia semakin gemas karena sudah lama tak berjumpa."Eugh... apa ini salah? Dia yang menyajikan dan dia yang mengijinkan, dia juga yang sudah membuatku hampir gila. Ah, Bejo! Gigit sedikit biar sakit di hatiku kalah dengan rasa ini."Bejo pun patuh. Sebenarnya tidak mau tetapi dia malah semakin gemas saja dengan Mila yang sangat agresif dan mulai ingin main-main lebih nakal lagi. Gigitan kecil pun dia berikan bahkan saat wanita itu mendesis merasakan sakit, Bejo hanya melepasnya sedikit dan semakin genc
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







