تسجيل الدخولFreya semakin tidak tenang setelah mengetahui bahwa Lucy ingin menghancurkan hidupnya. Menurutnya, tak ada yang lebih menakutkan dibanding tekad seorang perempuan patah hati.Sebagaimana Freya yang ingin melihat Juan menyesal seumur karena telah mengkhianatinya, Lucy pasti juga tak main-main dengan ancamannya itu. Lucy sangat mungkin menempuh segala cara untuk membuat Freya menderita.Namun, berbeda dengan Reno yang setidaknya meminta Freya lebih hati-hati mulai hari ini, Aryan tampak tidak tertarik menjadikannya masalah serius.“Memangnya cuma dia yang bisa ngelakuin apa pun? Aku juga bisa, Freya. Aku bisa ngelakuin apa pun untuk melindungi kamu,” ujar Aryan seraya tersenyum genit.Freya mencebik, lalu menggigit rotinya lagi. “Nggak usah repot-repot. Aku bisa melindungi diriku sendiri,” gumamnya sambil mengunyah.“Iya, aku tahu kamu bisa melindungi dirimu sendiri, tapi nggak apa-apa, kan, kalau selingkuhanmu ini ikut campur?” sahut Aryan yang kemudian mengedipkan sebelah mata padanya
Mulanya terasa bagaikan adegan romantis. Aryan turut berlutut, seakan akhirnya menyerah pada sikap keras kepala Lucy.Aryan meraih bahu tunangannya dan mereka pun saling adu pandang untuk beberapa saat.Tidak ada senyuman maupun tatapan hangat yang terpancar dari mata yang kini memandangnya lekat. Meski begitu, Lucy terbuai perlahan ketika ibu jari Aryan mulai mengelus lembut bahunya. “Berdiri, Lucy Amara.”Aryan berbicara pelan, tapi tegas. Nadanya pun masih saja dingin, terlebih dengan cara dia menyebut nama si perempuan.Walau demikian, mengabaikan ekspresi Aryan yang terkesan membingungkan itu, Lucy merasa dirinya bisa sedikit berharap. Pikir Lucy, setidaknya Aryan sudah mau ikut bersimpuh demi membujuknya. Bukankah itu pertanda baik?Harapan Lucy membesar kala Aryan kembali mendekatkan wajahnya. Pria itu memangkas jarak sebanyak mungkin hingga hangat napasnya menyapa titik sensitif di telinga Lucy.Namun, apa yang selanjutnya dibisikkan Aryan, seketika meruntuhkan harap. Air mat
Jika hanya kehilangan calon suami, Lucy barangkali tidak akan bertindak sejauh ini. Sayangnya, apa yang bakal terjadi padanya mungkin tidak cuma itu.Posisinya sebagai direktur komersial juga sangat mungkin terancam. Lucy bisa saja berakhir dipaksa merelakan jabatan strategis yang sempat terasa mustahil menjadi miliknya itu.Faktanya, mau sehebat apa pun dirinya, Lucy tidak pernah benar-benar dilirik kakeknya. Sebagai satu-satunya cucu perempuan, entah sudah berapa kali Lucy diingatkan agar tidak terlalu ambisius. Kemampuannya lebih baik digunakan untuk mendukung saudara laki-lakinya saja.Katanya, perusahaan besar harus dipimpin laki-laki. Oleh karena itu, Lucy cukup bekerja dengan baik saja, tak usah ikut-ikutan berkompetisi memperebutkan kursi tertinggi juga.Namun, kedekatannya dengan Aryan ternyata berbuah peluang tak terduga. Tahun lalu, begitu melihat langsung betapa akrabnya Lucy dan Aryan saat jamuan makan malam pada perayaan hari jadi perusahaan, si kakek jadi tertarik menjo
“Aku ganggu, ya? Maaf.”Mendengar suara lirih Freya, wajah kesal Aryan langsung hilang. Perubahannya benar-benar secepat kilat, bikin Reno yang menyaksikannya melongo tak percaya.“Nggak, kok. Sama sekali nggak ganggu,” ucap Aryan dengan binar cerahnya.Reno sekilas menatap Aryan dan Freya bergantian. Demi Tuhan! Cuma bosnya yang tampak berseri-seri, sementara Freya biasa saja.Freya memang kelihatan agak canggung. Namun, Reno menganggap Freya bersikap sewajarnya orang yang bisa menjadi tak enak hati karena tiba-tiba menyela kesibukan orang lain saja, tak seperti Aryan yang kentara sekali senangnya.Reno menghela pendek. Menurutnya, Aryan yang terkenal skeptis terhadap hubungan emosional ini suda
Menu sarapan Aryan pagi ini adalah secangkir kopi yang disajikan bersama setumpuk dokumen di ruang kerjanya. Aryan juga disuguhi laporan lisan terkait sejumlah insiden yang rupanya menimpa beberapa lini bisnis Harsa Group semalam.Aryan masih mengenakan piyama, mandi pun belum, tetapi Reno sudah menyodorkan begitu banyak perkara yang kata si sekretaris butuh perhatiannya.Untung saja Reno telah memberi Aryan hadiah yang terbukti berhasil membuatnya tidur nyenyak. Jika tidak, Aryan pasti bakal rungsing parah sekarang.“Semuanya sudah ditangani sesuai prosedur. Hanya satu yang masih dalam proses. Itu pun karena yang bersangkutan baru mengunggah video komplainnya subuh tadi walau kejadiannya sekitar jam delapan malam.”Mata yang semula fokus mencermati berkas no
Bagaimanapun, Reno sudah membuka jalan. Sayang sekali jika tidak Aryan manfaatkan. Jadi, selagi ada kesempatan, tak ada salahnya coba melancarkan secuil muslihat.“Kayaknya tetap perlu ada sentuhan fisik, tapi …”Aryan menghela napas pendek. Jeda singkat pun dibuat agar situasinya menjadi lebih dramatis.“Nggak mungkin, kan?” ujar Aryan sembari beranjak dari tempat duduknya.“Mau ke mana?” Freya refleks bertanya saat Aryan hendak melangkah pergi. Aryan tersenyum samar. Reaksi Freya benar-benar persis seperti yang ia harapkan.“Udah hampir tengah malam. Waktunya minum obat,” jawab Aryan apa adanya.Aryan tidak ingin buru-buru, sengaja menunggu apa lagi yang mungkin akan dikatakan Freya padanya.Kesabarannya pun berbuah manis. Aryan sungguh baru jalan dua langkah ketika suara lirih Freya menjelma lampu merah untuknya.“Nggak usah minum obat, Yan,” kata Freya seraya menatap punggung pria yang lantas menoleh ke arahnya itu.Aryan pura-pura tak mengerti maksud ucapan Freya. “Kenapa nggak
Chika tersenyum melihat rombongan pelanggan yang baru saja datang. Ada lebih dari 10 orang yang kehadirannya seketika menyedot perhatian karena berisik minta ampun.Dua orang tampak berbicara dengan seorang pramusaji, bertanya soal ketersediaan meja. Lainnya asyik mengobrol sendiri, sebagian sambil
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelep
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan







