Compartir

BAB 3

Autor: Ansaafh_
last update Fecha de publicación: 2026-05-29 20:20:36

FLASHBACK ON

Ara memejamkan mata di tengah dentuman musik Trance yang memekakkan telinga di club tepi tebing Santorini. Sudah tiga minggu ia berada di sini, melarikan diri dari Jakarta dan dari cincin yang disiapkan oleh orang tuanya untuk menjodohkannya. Ia minum terlalu banyak malam ini. Ia butuh mati rasa.

Tiba-tiba, sebuah tangan asing yang kasar mencengkeram lengannya.

"Come with me, sweetheart. You're way too drunk to be on your own."

"Ayo ikut aku, Sayang. Kau sudah terlalu mabuk untuk sendirian," bisik suara berat seorang pria asing yang berbau alkohol dan parfum murahan, menyeretnya menjauh dari keramaian.

"Let go of me! Don't touch me!"

"Lepaskan! Jangan menyentuhku!"

Ara meronta. Kepalanya terasa sangat berat, tetapi kesadaran terakhirnya menjerit.

"Don't act all pure! You're here alone."

"Jangan sok suci! Kau sendirian di sini," pria itu membentaknya, mulai menarik Ara dengan paksa menuju pintu keluar.

Ara mencengkeram meja, menolak bergerak, terengah-engah melawan kekuatan pria itu. Matanya dipenuhi ketakutan dan air mata yang samar-samar. Langkahnya terseok, dan cengkeraman tangan di lengannya terasa semakin menyakitkan. Pria itu menariknya dengan paksa menjauh dari keramaian klub, menuju gang sempit yang gelap di samping bangunan.

"Get off me, you bastard! Help!"

"Lepaskan aku sialan! Tolong!" Ara berontak, berteriak sekencang-kencangnya namun suaranya tercekat antara rasa mual dan panik.

Ia berusaha menjejakkan kaki dan menarik lengannya, namun tenaga pria itu jauh lebih besar. Ketakutan yang dingin merayapi tulang punggungnya saat ia menyadari niat jahat di mata pria itu, meskipun pandangannya buram.

Pria itu menyeringai.

"Quiet down, sweetie. We're going to have a little fun."

"Diamlah, Sayang. Kita bersenang-senang sebentar."

Tiba-tiba, Ara mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menghentakkan kakinya ke kaki pria itu dan mencoba memutar tubuhnya. Cengkeraman itu sempat melonggar sesaat, dan Ara berteriak, jeritan samar yang tertelan bising musik dari klub.

Saat Ara hampir tersungkur, dan pria itu kembali meraihnya dengan lebih kasar, sebuah suara berat yang tenang memecah keheningan gang.

"Get off her!"

"Lepaskan dia!."

Pria tak dikenal itu menoleh dengan kesal. Berdiri di ujung gang, sedikit terselubung bayangan, adalah sosok pria asing. Dia tinggi, dengan siluet tegap. Cahaya remang-remang dari lampu jalan memantul di wajahnya yang tegas.

"Stay out of this. Move it!"

"Bukan urusanmu,, minggir kau!." balas pria yang menyeret Ara.

Pria asing itu tidak bergerak.

"I said, let her go!."

"Aku bilang, lepaskan dia!."

Ada nada yang sangat final dan mengancam dalam suara itu, yang entah bagaimana menembus kabut mabuk Ara dan bahkan membuat pria penyeretnya gentar.

Dalam sekejap, situasi berubah drastis. Pria asing itu melangkah maju, tangannya mengepal. Sebelum si penyeret Ara sempat bereaksi, pria asing itu bergerak cepat. Satu dorongan keras yang terarah, dan pria tak dikenal itu tersandung, cengkeramannya pada Ara terlepas sepenuhnya. Ara terhuyung ke depan, dan saat itulah ia merasakan lengan kuat dan hangat menopang punggungnya.

Pria yang tadi menyeretnya, setelah menyadari bahwa dia kalah tenaga dan kemungkinan besar akan mendapat masalah, memilih untuk melarikan diri dengan cepat, menghilang ke dalam kegelapan. Ara masih bergetar, bersandar pada dada pria asing yang menolongnya. Perlahan, pria itu membantunya berdiri tegak.

"Are you okay?"

"Kau baik-baik saja?" Suaranya lebih lembut sekarang, dipenuhi nada sedikit khawatir.

Ara hanya bisa mengangguk lemah, kepalanya pusing. Ia mendongak, mencoba memfokuskan pandangan pada wajah penolongnya tetapi yang ia lihat hanyalah buram.

"Who are you?"

"Siapa... kau?" bisik Ara.

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya, namun cukup menenangkan. Ia tidak menjawab, sebaliknya, ia melihat ke arah klub.

"You're totally wasted. Where do you live? I'll take you home."

"Kau mabuk berat. Di mana kau tinggal? Aku akan mengantarmu pulang," tawarnya.

Ara tidak menjawab hanya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk berbicara. Pria tersebut hanya menghela nafas dan menuntun Ara menuju mobil miliknya. Sepanjang perjalanan, Ara hanya bersandar lemas dengan mata terpejam. Namun, di tengah jalan, Ara tiba-tiba menggeliat. Ia membuka matanya yang sayu dan mendesah.

"Panas..." racaunya, mulai menarik-narik kerah bajunya sendiri.

"Gerah sekali di sini..."

Ara tidak mendengarkan apa yang pria itu katakan, ia mendekatkan wajahnya kearah pria tersebut. Sebelum sempat pria itu bereaksi, bibir Ara sudah menempel, menciumnya dengan liar dan menuntut.

Ciuman itu panas, agresif, dan sama sekali tidak seperti Ara yang biasanya. Dan setelah itu ia tidak ingat apapun.

FLASHBACK OFF

Mobil jemputan itu melaju tenang, membawa Arabella Saskia Paramita menembus malam Jakarta yang padat, meninggalkan kecemasan dan teror yang baru saja ia rasakan. Ia terus meraba lehernya yang kosong, tempat liontin perak berinisial 'A' seharusnya berada, sekarang terasa seperti lubang yang menganga.

Ketika mobil berhenti di gerbang rumahnya yang mewah di kawasan Pondok Indah, Ara sudah mempersiapkan senyum letih sebagai perisai. Namun, ketika ia melangkah masuk, ia disambut oleh keheningan yang lebih berat daripada yang ia harapkan.

Di ruang tengah, Papa Hendra dan Mama Ratih sudah menunggunya, duduk di sofa velvet dengan postur kaku yang mencerminkan otoritas tak terucapkan.

Tidak ada pelukan hangat yang menenangkan. Hanya sepasang mata tajam yang mengawasi setiap gerakannya.

"Selamat datang kembali, Ara," sapa Hendra Paramita, suaranya datar, tanpa emosi.

"Perjalanan bisnis yang mendadak."

"Maaf, Pa. Ara tidak sempat memberi tahu," jawab Ara, berusaha menjaga suaranya tetap normal.

"Ada sedikit masalah teknis di proyek yang harus ditangani di Eropa."

Ratih hanya menatapnya dengan pandangan yang menelisik, seolah melihat menembus kebohongannya.

"Masalah teknis, katamu?" tanya Ratih, nadanya dingin dan menuduh.

"Atau masalah yang lebih personal, Ara?"

Ara menelan ludah. Ia tahu, dalam keluarga Paramita, mereka tidak perlu bertanya untuk mengetahui. Jaringan bisnis dan koneksi sosial Papa dan Mama jauh lebih luas dan cepat daripada upaya pelarian Ara.

Mereka tahu.

Mereka hanya tidak tahu detailnya, tentang pria itu, klub malam atau cek yang ia tinggalkan. Tetapi mereka tahu ia tidak pergi untuk urusan desain, alasan sebenarnya adalah putri mereka melarikan diri.

Hendra menghela napas, gestur itu lebih mengintimidasi daripada amarah yang meledak-ledak.

"Kami tidak akan membahasnya malam ini," putus Papa, matanya tegas.

"Kamu terlihat lelah. Dan... ada beberapa hal yang tidak bisa kamu sembunyikan, Ara. Tidak dari kami."

"Sekarang," sambung Ratih, suaranya penuh perintah.

"Naik ke atas. Bersihkan dirimu. Makan malam sudah disiapkan di kamarmu. Dan segera tidur. Kamu butuh istirahat."

Ara merasa lega, sekaligus terhina. Mereka memperlakukannya seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan. Mereka tidak bertanya, karena mereka menganggap pertanyaan itu tidak penting, yang penting adalah kontrol dan solusi.

"Baik, Ma," jawab Ara pelan.

"Besok pagi," lanjut Hendra, matanya mengunci mata Ara.

"Setelah sarapan, kita akan bicara, Ara. Kita akan bicara tentang mengapa kamu pergi tanpa memberitahu kami, dan bagaimana kamu akan memperbaiki kesalahan yang kamu buat di luar sana."

Itu bukan janji, melainkan ancaman terselubung. Ara tahu, percakapan besok pagi akan jauh lebih sulit dan menakutkan daripada konfrontasi dengan pria asing di Eropa. Ia tidak bisa melarikan diri dari Papanya sendiri.

Ara hanya mengangguk kaku, lalu segera naik ke kamarnya. Kamar tidurnya terasa seperti sangkar emas. Ia melepas pakaiannya dengan gerakan lelah. Saat ia berdiri di depan cermin, ia melihat bekas-bekas kelelahan dan ketakutan.

Jari-jarinya otomatis meraba lehernya lagi. Rasa kosong itu menusuk. Kalung itu hilang. Di tangan pria asing yang sama sekali tidak dikenalinya. Ara menyadari, ia telah meninggalkan jejak, dan sekarang, mungkin pria itu tahu persis di mana Ara berada.

Ia masuk ke kamar mandi, membiarkan air hangat membasuh kulitnya, berharap air itu juga bisa membasuh rasa sakit dan kesalahan yang ia bawa dari Eropa.

Saat Ara akhirnya berbaring di tempat tidur, ia menutup matanya, berusaha memaksakan diri tidur. Namun, yang terlintas di benaknya hanyalah suara pria itu, wajahnya yang dingin, dan desahan di malam panas itu.

Dan Ara tahu, besok pagi, ia harus berhadapan dengan keluarganya. Setelah itu, ia harus menghadapi pria yang ia hina dengan selembar cek, pria yang kini memiliki liontin berharganya, pria yang mungkin tidak akan pernah membiarkan ini berakhir.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • The Wedding Agreement    BAB 15

    POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”

  • The Wedding Agreement    BAB 14

    Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?

  • The Wedding Agreement    BAB 13

    Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia

  • The Wedding Agreement    BAB 12

    Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu

  • The Wedding Agreement    BAB 11

    Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente

  • The Wedding Agreement    BAB 10

    Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status