تسجيل الدخول
Arabella Saskia Paramita, wanita yang berusia 23 tahun itu terbangun dari tidur lelapnya. Kesadaran datang perlahan, diikuti dengan rasa pusing yang berdenyut-denyut menghantam kepalanya.
Ia mengerang pelan, perlahan mencoba menghilangkan kabut tebal yang menyelimuti pikirannya. Ia merasakan tekstur yang sangat halus di bawah kulitnya, seprai satin dingin. Lantas, ia membuka mata. Seketika, seluruh tubuhnya menegang. Ini bukan kamarnya. Suite hotel mewah, elegan, dengan jendela besar yang memamerkan pemandangan dramatis. Sinar matahari pagi dari balik cakrawala memancar, menerangi Laut Aegea yang biru berkilauan. Pemandangan Santorini yang indah dan damai itu terasa kontras, bahkan ironis, dengan kekacauan batin yang menghantam Ara. Lebih buruk lagi, di sampingnya. Nyaris menyentuh lengannya, ada seorang pria. Pria itu terlelap, napasnya teratur dan tenang. Wajahnya yang tegas tampak damai dalam tidurnya, rambutnya acak-acakan. Ara tidak bisa tidak mengakui bahwa dia tampan, memancarkan aura maskulin yang kuat, bahkan saat tidak sadarkan diri. Ara menarik napas tajam, menggigit bibir bawahnya untuk menahan jeritan yang tertahan. Ia segera memeriksa tubuhnya. Ia polos. Dan ia menyadari bahwa pria di sampingnya juga dalam keadaan polos. Kepalanya menggeleng panik, mencoba mengais-ngais ingatan dari malam yang gelap itu. Kosong. Ia tidak ingat apa-apa. Yang terakhir ia ingat hanyalah pergi ke klub malam untuk membebaskan diri dari semua tekanan perjodohan dan harapan keluarga yang menyesakkan. Ia ingat musik yang memekakkan telinga, gelas demi gelas alkohol, dan keinginan liar untuk melarikan diri. Apa yang terjadi? Sebuah kilasan muncul. Ia ingat ditarik paksa oleh seorang pria asing yang berniat melecehkannya di dekat pintu keluar klub. Lalu, ada intervensi. Seorang pria lain datang, membantu. Pahlawan tak dikenal itu. Wajahnya kabur, hanya sebatas siluet tinggi dan suara yang tegas. Setelah itu, yang ada hanyalah sensasi panas, mual, dan kegelapan total. Ara menelan ludah yang terasa pahit. Rasa malu dan panik bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu apa yang terjadi semalam, tetapi fakta bahwa mereka berdua terbangun di ranjang yang sama, dalam keadaan polos, sudah memberikan kesimpulan yang menampar. Ini adalah kesalahan. Kesalahan besar dan monumental yang harus segera ia hapus dari rekam jejaknya. Ia harus pergi. Sekarang juga. Sebelum pria itu bangun dan menuntut penjelasan, atau lebih buruk lagi menganggap Ara telah setuju dengan situasi ini. Ara beringsut perlahan dari tempat tidur, bergerak sehalus mungkin. Setiap gerakan kecil terasa seperti serangkaian perjuangan. Saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, ia merasakan sakit dan perih yang menusuk di pangkal pahanya, sebuah bukti fisik yang menyakitkan dari malam yang hilang. Ara menggertakkan gigi, memaksa dirinya mengabaikan rasa sakit itu. Dalam ketergesaannya yang didorong kepanikan, ia sama sekali tidak menyadari bahwa kalung liontin perak berinisial 'A' yang selalu ia kenakan sebagai jimat keberuntungan dan inisial namanya telah terlepas dari lehernya dan tergeletak diantara lipatan seprai satin. Prioritasnya adalah menghapus semua jejak. Ia meraih tas tangannya yang tergeletak di lantai, mengeluarkan buku ceknya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menuliskan nominal yang besar, sebuah angka yang mencerminkan putus asa dan harga dirinya yang terinjak-injak. Uang adalah cara tercepat untuk mengakhiri masalah bagi orang-orang seperti dia. Ia merobek cek itu, lalu menulis sebuah catatan kecil dengan tergesa-gesa. "Maafkan saya. Untuk semalam, anggap saja kita tidak pernah bertemu." Ara meletakkan cek dan catatan itu di meja nakas, tepat di samping ponsel dan jam tangan mewah pria itu. Ia menatap wajah damai pria itu sekali lagi, sebuah penyesalan cepat menusuknya. Sebelum memungut pakaiannya yang berserakan, lalu melangkah terseok-seok menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berkemas. Lima belas menit kemudian, Ara keluar dari kamar hotel. Ia berhasil menyelinap tanpa membangunkan pria itu. Ia bergegas menuju lobi dan memesan taksi. Tujuannya adalah hotel tempat ia menginap. Setibanya di sana, ia meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar. Ia mengambil barang-barang pribadinya, memastikan semua bukti masa tinggalnya di Yunani sudah terangkat. Ara kembali ke taksi dengan koper. Ia menarik napas dalam, wajahnya tegang dan matanya penuh determinasi. "Ke bandara, Pak. Sekarang!." Ia harus kembali. Kembali ke sangkar emasnya, kembali ke drama perjodohan, kembali ke kenyataan yang setidaknya ia kenal. Melarikan diri adalah satu-satunya keahliannya saat ini. Ia bertekad untuk mengubur rahasia malam itu di bawah lautan Aegea yang luas. Ara duduk di kursi kelas bisnis yang sepi, menatap jendela pesawat yang menampilkan hamparan samudra luas di bawahnya. Pesawat itu melaju kencang, membawa tubuhnya kembali ke Jakarta. Ia mencengkeram erat sandaran tangan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum reda sejak ia berlari keluar dari kamar hotel tersebut. Di lehernya, ia merasakan kekosongan yang aneh. Baru ia sadari, liontin inisial 'A' yang selalu ia pakai pemberian dari mendiang neneknya sudah tidak ada. Hilang. Sama seperti dirinya telah kehilangan kendali dan martabatnya malam itu. Ara memejamkan mata. Ingatan tentang pria itu menyeruak. Bau parfumnya, sentuhannya yang buas, dan gumaman terakhirnya di mobil. "Aku membayar untuk melupakan. Itu satu-satunya cara," bisik Ara, suaranya sangat lirih, tertelan oleh deru mesin pesawat. Ia menguatkan hati bahwa pria itu hanyalah orang asing yang ia temukan dalam keputusasaan. "Sekarang, aku harus kembali dan menghadapi realitasku." Ara membuka mata, memaksa pikirannya beralih ke masa depan. Masa depan yang buram, di mana ia harus menerima perjodohan yang telah orang tuanya siapkan dan menjadi istri dari putra rekan bisnis papanya. Ia telah lari sejauh mungkin, hanya untuk kembali ke titik awal. "Aku kabur dari satu sangkar, hanya untuk menjebloskan diriku ke dalam sangkar yang lebih besar," gumam Ara, menatap kosong ke awan di luar jendela. "Dan kini, aku membawa serta bayangan dosa dari pulau yang indah itu." Ponselnya bergetar. Pesan dari Naya, sahabatnya, masuk. Naya: Lo udah di pesawat? Mama Ratih marah saat tau lo kabur. Gw bilang ke mama Ratih kalau lo ada urusan kerjaan disana. Kalau udah sampai bandara, langsung pulang kerumah! Semoga lo punya alasan bagus kenapa lo lari ke Yunani. Ara menghela napas panjang, dan tidak berminat untuk membalas pesan tersebut. Bahkan sahabatnya pun kini menjadi perpanjangan tangan orang tuanya. Ia tahu Naya hanya khawatir, tetapi peringatan itu hanya memperjelas betapa kecilnya ruang geraknya. Ara kembali mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepala ke jendela dan memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya agar perjodohan itu tidak terjadi dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi selanjutnya. Ara menutup mata sejenak dan berusaha untuk tidur. Tak lama lagi, roda pesawat akan menyentuh landasan di Jakarta. Ia harus siap menghadapi kedua orang tuanya.POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”
Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?
Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia
Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu
Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente
Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan







