INICIAR SESIÓNMentari pagi Jakarta menembus lapisan jendela kaca ruang makan keluarga Paramita. Sinarnya jatuh lurus di atas hidangan sarapan yang disajikan dengan kemewahan yang sunyi.
Eggs Benedict yang sempurna, irisan salmon impor, dan jus segar yang memercikkan warna. Namun, di balik sajian yang memikat mata itu, suasana tetaplah membeku dan formal. Ara, putri tunggal keluarga Paramita, mengenakan kaus oversized dan celana santai, kontras dengan keseriusan ruangan. Ia tahu, ketenangan di antara hiruk pikuk Jakarta di luar sana hanyalah jeda singkat sebelum badai yang telah ia prediksi. Setelah para pelayan membersihkan meja marmer dari sisa-sisa santapan yang hampir tak tersentuh, Hendra, sang kepala keluarga, meletakkan cangkir kopinya. Gerakan kecil itu seolah menjadi penanda dimulainya negosiasi yang tak terhindarkan. Ia menatap putrinya, ditemani pandangan tajam dari Ratih, istrinya. Keduanya menuntut jawaban. "Sekarang," kata Hendra, suaranya tenang namun mengandung otoritas. "Kita perlu membicarakan kepergianmu yang tiba-tiba ke luar kota. Kamu melarikan diri, Ara, karena kamu telah mengetahui perihal pertemuan dengan keluarga Satria telah kami jadwalkan." Ara menghela napas panjang, sebuah usaha untuk menenangkan gejolak di dadanya. "Ara hanya membutuhkan waktu, Pa. Untuk merenung dan berpikir jernih." "Tidak ada yang perlu direnungkan," potong Ratih, nadanya tegas dan dingin, seperti embun pagi yang membeku. "Masa depanmu telah kami putuskan. Kamu akan menikah dengan Dion, putra dari Tuan Satria. Pengumuman pertunangan akan kami sampaikan dua minggu mendatang. Keputusan ini final." Mendengar nama Dion, Ara merasakan lonjakan rasa sakit yang familiar. Sakit yang sama seperti saat ia mengingat kembali trauma yang ia alami. Pengalaman pelecehan emosional dan perselingkuhan kejam yang dilakukan mantan kekasihnya di masa sekolah. Trauma yang ara alami mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Saat itu, orang tuanya yang disibukkan oleh kepentingan bisnis di luar negeri hanya bisa mempercayakan perawatannya pada Bi Inah, kepala pembantu di rumah. Ara harus berjuang untuk menolak perjodohan ini, namun ia juga harus menyembunyikan luka lama yang terlalu sensitif untuk diungkapkan pada mereka. "Pa, Ma, Ara tidak mungkin menikah dengan Dion," protes Ara, berusaha keras menjaga suaranya agar terdengar setenang mungkin dan profesional. "Mengapa tidak mungkin?" tanya Hendra, nada bicaranya mulai meninggi, menyiratkan ketidaksabaran. "Kami mengetahui kalian pernah menjalin hubungan saat di sekolah menengah. Kalian saling mengenal! Ini merupakan koneksi yang sempurna untuk menjalin kemitraan bisnis!" Mereka tahu tentang hubungan masa lalu Ara, tetapi mereka hanya memandangnya sebagai aset bisnis yang menguntungkan. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa di balik kisah asmara remaja itu terdapat trauma yang hampir menghancurkan putrinya sendiri. "Justru karena itu, Pa," bela Ara. "Kami telah lama berpisah. Kami berdua sudah menjadi pribadi yang berbeda. Hubungan kami di masa lalu berakhir tidak baik. Menikahinya sekarang sama saja dengan menikah dengan orang asing yang pernah menyakiti Ara." "Menyakiti?" Ratih tertawa meremehkan, suaranya tajam. "Itu hanya drama remaja, Ara. Setiap hubungan pasti mengalami pasang surut. Jangan bersikap kekanak-kanakan. Kami tidak peduli itu hanyalah masa lalu mu dan sekarang Dion sudah berubah menjadi lebih baik. Ini adalah kesepakatan bisnis bagi Paramita Group. Kamu akan menikah dengannya." Hendra membelai janggut tipisnya, tatapannya menyiratkan perintah mutlak. "Kamu akan menikah dengan Dion. Kamu hanya perlu fokus dan persiapkan dirimu menjadi nyonya satria. Kami akan melupakan masalah pelarianmu jika kamu menunjukkan kepatuhan." Ara terpaksa menunduk, menyadari bahwa permohonannya adalah sia-sia. Tiba-tiba, Julian, asisten pribadi Hendra, masuk ke ruang makan, langkahnya cepat. Ia memegang Ipad ditangannya dengan notifikasi yang menyala. "Mohon maaf mengganggu, Tuan," lapor Julian dengan nada mendesak. "Ada pesan email yang sangat penting masuk dari kantor pusat Adhitama Group." Hendra segera mengambil tablet itu, wajahnya menunjukkan keterkejutan. "Adhitama Group? Ada apa mendadak seperti ini?" Julian menjelaskan. "Pesan itu berasal dari asisten pribadi Tuan Elvano Narendra Adhitama. Tuan Elvano secara pribadi mengundang tim desain Paramita Group untuk membahas proyek villa baru yang sedang mereka kembangkan. Tuan Elvano tertarik dengan portofolio Paramita Group dan ingin mendiskusikan detail proyek lebih lanjut. Mengenai pembayaran, asisten Tuan Elvano menginformasikan bahwa setengah dari total biaya jasa desain akan dikirimkan di awal." Nama "Elvano Narendra Adhitama" membuat Ara bergumam, mengulangi nama itu dengan nada terkejut dan perasaan aneh yang tertahan. Ara hanya mengenali nama itu sebagai "klien paling berpengaruh di Asia Tenggara." Hendra menghela napas berat, wajahnya kini menunjukkan kelelahan bercampur antusiasme atas tawaran yang fantastis itu. "Sial! Justru beberapa hari ke depan saya ada proyek penting yang harus ditandatangani di luar kota, dan itu tidak mungkin dibatalkan!" gerutu Hendra. Ia berpikir cepat, matanya tertuju pada Ara. Sebuah rencana segera terbentuk di benaknya. Hendra menyerahkan kembali tablet itu kepada Julian. "Julian, balas pesan mereka sekarang juga," perintahnya tegas. "Katakan bahwa Paramita Group menerima tawaran itu dan mengadakan pertemuan besok pagi di kantor Adhitama. Namun, saya tidak bisa hadir karena ada keperluan mendesak di luar kota dalam beberapa hari ke depan. Maka putri saya, Ara, Arsitek Kepala kami yang akan mewakili saya." Ia menatap Ara, matanya memancarkan perintah mutlak. "Ara, kamu harus mewakili Papa. Kamu adalah Arsitek Kepala, kamu yang paling papa percaya dan mampu menyelesaikan proyek besar ini. Ini prioritas utama. Jaga reputasi Paramita Group." Ara bangkit. Ia merasa tertekan oleh tanggung jawab ini, tetapi setidaknya, ancaman pernikahan dengan Dion tertunda sejenak oleh tugas mendadak ini. Ia harus mewakili ayahnya untuk bertemu konglomerat terkenal yang namanya ia kenali sebagai seorang pebisnis muda terkenal se Asia Tenggara. Ara sekarang harus menghadapi sebuah tantangan profesional yang terasa jauh lebih aman daripada menghadapi trauma masa lalunya. Malam hari di kediaman Paramita terasa dingin dan sunyi, kontras dengan gejolak emosi di benak Ara. Ancaman Dion telah tergeser oleh bayangan kerjasama proyek besar Adhitama Group. Jeda ini adalah kesempatan yang harus ia manfaatkan. Di kamarnya, Ara tidak tidur. Ia mengubah studionya menjadi ruang perang. Lusinan cetak biru proyek villa milik Adhitama Group terhampar di atas meja kerja. Lampu meja menyorot tajam sketsa-sketsa yang ia buat dengan terburu-buru, mencoba menangkap visi yang sangat ambisius. Arsitektur yang harus berbicara dengan alam namun tetap futuristik. Ara, sebagai Arsitek Kepala, tidak hanya harus mempertahankan reputasi perusahaannya, ia harus menggunakan proyek ini sebagai tameng. Proyek ini harus begitu besar dan penting, sehingga orang tuanya tidak akan berani mengganggu fokusnya dengan rencana pernikahan.POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”
Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?
Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia
Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu
Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente
Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan







