مشاركة

BAB 6

مؤلف: Ansaafh_
last update تاريخ النشر: 2026-06-09 17:04:20

Pagi harinya Ara telah bersiap-siap. Ia mengenakan blazer berpotongan tegas berwarna navy yang diserasikan dengan rok span berwarna senada yang jatuh beberapa senti di atas lutut.

Paduan busana itu tidak hanya menampilkan profesionalisme yang kokoh, sepatutnya seorang Kepala Arsitek dari grup properti ternama tetapi juga menambah pesonanya yang anggun dengan sentuhan modern dan percaya diri. Ia memilih perhiasan minimalis, hanya sepasang anting stud berlian kecil dan jam tangan stainless steel ramping.

Di lobi mewah Adhitama Group, ia disambut oleh asisten Elvano, mereka memasuki lift privat yang melesat tanpa suara ke lantai paling atas. Ara berusaha mengatur napas, memastikan setiap helai rambutnya tertata sempurna, dan perisai profesionalismenya tidak retak.

Saat pintu lift terbuka, ia dipersilahkan untuk memasuki ruang rapat yang didominasi kaca, sebuah kubus kristal yang menggantung di atas kota. Jakarta terhampar di bawah, pemandangan spektakuler yang menelan gedung-gedung lain menjadi mainan mini. Namun, ruangan itu terasa sunyi, seolah semua suara telah diserap oleh karpet tebal bernuansa abu-abu gelap dan wibawa yang mencekik. Keheningan itu bukan kedamaian, melainkan jeda sebelum badai.

Di ujung ruangan, menghadap panorama kota, berdiri siluetnya. Elvano Narendra Adhitama. Cahaya pagi keemasan membingkai tubuhnya yang tegap dan kekar, disamarkan oleh kemeja linen gelap yang elegan, hitam, nyaris tidak berkerut. Postur itu, tangan dimasukkan ke saku celana tailored, adalah postur kendali mutlak.

"Selamat pagi, Tuan Elvano," sapa Ara, suaranya yang sudah ia latih agar terdengar stabil dan mengandung resonansi kepercayaan diri. Ia berjalan tiga langkah ke depan.

"Saya Arabella Saskia Paramita, mewakili papa saya dari Paramita Group."

Mendengar suara itu, Elvano perlahan berbalik. Gerakannya tenang, diperlambat, hampir disengaja.

Waktu seolah berhenti. Udara terasa membeku, oksigen tersedot habis dari paru-paru Ara.

Mata Ara langsung bertemu dengan sepasang mata cokelat dingin itu. Sepasang mata yang ia tahu sangat jelas, dan yang ia yakini tidak akan pernah ia temui lagi. Dan dalam sepersekian detik yang mematikan, ingatan itu menghantamnya seperti gelombang kejut yang membakar, sebuah ledakan panas di tengah udara dingin kantor yang steril. Hotel kecil di Eropa. Pelarian singkat dari tuntutan keluarga. Kebisuan yang intim, sentuhan yang membakar dan desahan yang teredam.

Pria di hadapannya, konglomerat yang paling disegani di Asia Tenggara, pria yang memiliki kendali atas separuh pergerakan pasar saham, adalah pria yang pernah menghabiskan malam panas dengannya di Eropa, di mana identitas mereka tidak lebih dari gairah semalam.

Darah Ara tersedot habis, meninggalkan kulitnya pucat pasi, dingin seperti marmer di bawah kakinya. Otaknya berteriak, sebuah alarm panik yang mendesak.

Ia rasanya ingin lari dari skenario terburuk yang  bahkan tidak pernah berani ia bayangkan dalam mimpi terliarnya.

Namun, Elvano. Reaksinya berbeda. Pria itu memandangnya, memindai wajahnya yang kini telah runtuh, dari topeng profesional menjadi ekspresi kepanikan murni. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, tidak ada alarm. Hanya pengakuan.

Lalu, di sudut bibirnya, terbentuk seringai tipis, senyum miring yang menggoda dan penuh ejekan. Sebuah pengakuan senyap yang hanya mereka berdua yang pahami, sebuah ironi kejam bahwa pertemuan bisnis terpenting dalam karir Ara harus melibatkan pria yang terakhir kali ia lihat dalam keadaan polos di tempat tidur hotel.

Seringai itu menghilang secepat ia muncul. Wajahnya kembali pada topeng dingin seorang pebisnis, tanpa cela dan tanpa emosi. Ia sepenuhnya berpura-pura tidak mengenali Ara Paramita, wanita di depannya, sebagai 'Arabella' yang ia temui di Eropa.

"Silakan duduk, Nona Arabella," ia berujar, suaranya tenang, profesional, dan sedikit teredam, sebuah perintah yang halus. Jeda singkat setelah ia mengucapkan nama itu, Arabella, bukan Ara. Kini terasa menyiksa, memenjarakan Ara dalam kenangan yang memalukan.

Ia memberi isyarat ke kursi di meja oval panjang.

"Saya harap ketidakhadiran ayah Anda tidak berarti delegasi ini kurang informatif. Saya benci membuang waktu." Nada suaranya mendatar, menekankan pentingnya efisiensi dan mengakhiri jeda pribadi yang ia ciptakan.

Ara harus memaksa kakinya bergerak. Ia menggenggam erat ujung meja rapat, buku-buku jarinya memutih, berusaha keras menjaga napasnya agar tidak bergetar dan yang lebih penting, agar dadanya tidak naik turun secara dramatis karena serangan panik. Ia harus membangun kembali perisai itu. Sekarang juga.

"Sebagai kepala arsitek, saya yang bertanggung jawab penuh atas semua desain Paramita Group," ucap Ara, suaranya serak, seperti ada pasir di tenggorokannya, tetapi ia berhasil menjaga agar nadanya tetap profesional, mengabaikan nama panggilan yang baru saja Elvano lontarkan.

Elvano mengambil tempat duduk, posisi di kepalanya, dengan punggung yang sekali lagi menghadap kota. Ia mencondongkan tubuh sedikit.

"Menarik. Saya harap tanggung jawab anda sebanding dengan ambisi perusahaan anda, nona Ara." Matanya kini tajam, fokus pada bisnis, tetapi Ara bisa merasakan lapisan-lapisan di baliknya.

Ara memaksakan dirinya fokus, memisahkan ingatan akan sentuhan panas pria itu dengan tuntutan proyek jutaan dolar yang ia emban. Ia mulai menjelaskan konsep, garis besar desain, keunggulan struktural, dan filosofi mereka.

Setiap kata adalah perjuangan. Dalam benaknya, ia terus menerus melihat kilasan ruangan redup, napas berat, sentuhan sedikit kasar namun memabukkan.

Saat Elvano menjelaskan visinya tentang proyek villa yang ia kembangkan, sesuatu yang masif, mewah dan sangat ambisius, Ara berjuang mengalihkan pikirannya. Ia melihat gerakan bibir Elvano, tetapi yang ia dengar adalah desahan samar-samar pria itu, bukan di telinganya, tetapi di sekujur tubuhnya, yang ia alami seminggu yang lalu.

Elvano sesekali memberikan pertanyaan yang tepat dan tajam, menguji batas pengetahuan dan persiapan Ara. Pertanyaan-pertanyaan itu profesional, namun mata cokelatnya saat sesekali bertemu mata Ara, memancarkan sesuatu yang lain, sebuah permainan.

Ia memejamkan mata sesaat, lalu membukanya. Seringai tipis yang sama, senyum miring penuh arti yang berkedip di bibirnya, kembali muncul dan menghilang dalam sekejap. Ia melirik jam tangan mewahnya, sebuah isyarat yang jelas bahwa waktu mereka telah habis, dan ia adalah yang mengendalikan alurnya.

"Waktu rapat kita habis," putusnya final.

"Asisten saya akan mengatur detail kontrak. Anda bisa membawa dokumen awal dengan rincian yang kita bahas hari ini. Dan kami akan melakukan down payment 50% seperti yang telah kami tawarkan sebelumnya, sebagai tanda keseriusan dan komitmen." Sebuah kemenangan. Sebuah kemenangan yang terasa pahit dan mematikan.

Ara mengangguk, bibirnya terasa kering dan kaku. Ia meraih tasnya dan bangkit dari kursi, ingin segera melarikan diri dari tekanan di ruangan itu, dari tatapan Elvano yang kini terasa menelanjangi.

"Terima kasih atas waktunya, Tuan Elvano. Saya akan segera menyiapkan proposal konsep final kami, sesuai dengan arahan Anda."

Ara berbalik, berjalan cepat menuju pintu. Pikirannya kosong, fokusnya hanya satu, keluar. Namun, baru dua langkah, suara rendah Elvano menghentikannya. Suaranya tidak keras, tetapi memiliki otoritas yang mematikan.

"Tunggu, nona Ara."

Ara membeku, enggan menoleh. Jantungnya berdebar kencang di tulang rusuknya, menuntut pembebasan. Ia mendengar langkah kaki Elvano mendekat, perlahan namun pasti. Setiap langkah terasa seperti dentuman drum di gendang telinganya.

Ara merasakan aura panas dan aroma cologne mahal yang familiar yang kini terasa seperti aroma bahaya. Elvano kini berdiri sangat dekat, tepat di belakangnya. Kedekatan yang terlarang di ruang rapat ini.

Napas hangat pria itu menerpa tengkuknya, membuat Ara bergidik ngeri dan bulu kuduknya berdiri. Perasaan aneh, campuran ketakutan dan gairah yang tak terhindarkan, bergelenyar di perutnya, mengancam untuk merobohkan perisainya.

Elvano membungkuk sedikit, mematahkan batasan ruang profesional. Suaranya kini hanya berbisik, serak dan intim, langsung di telinga Ara, sebuah rahasia yang tidak boleh didengar oleh karpet tebal sekalipun.

"Kita bertemu lagi. Sebuah takdir yang indah, bukan? Persiapkan dirimu, Ara. Dua hari ke depan, kita akan berdiskusi lagi membahas proyek ini secara detail."

Kalimat itu, cara Elvano menyebut namanya dengan intonasi yang begitu pribadi, dan kedekatan mereka yang memabukkan, membuat pikiran Ara melayang liar, kembali ke malam itu di Eropa, di mana ia bisa merasakan desahan samar-samar pria itu, bukan hanya di telinganya, tetapi di sekujur tubuhnya, sebagai pasangannya.

Ara menarik diri dengan gerakan tiba-tiba, hampir tersentak.

"Baik, Tuan Elvano," katanya, berusaha keras agar suaranya tidak pecah.

"Saya akan pastikan proposalnya sudah siap."

Ia tidak berani menatapnya. Ia harus cepat-cepat beranjak dari sana sebelum jantungnya benar-benar terjun bebas, mengungkap kepanikan di matanya, dan sebelum gairah yang terpendam itu mengancam untuk muncul ke permukaan. Ia melangkah keluar dari ruangan itu secepat mungkin, tanpa menoleh lagi, meninggalkan bayangan dari kegilaan yang baru saja terjadi.

Ara melangkah keluar dari ruang rapat Adhitama Group, namun pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan kaca itu, terpaku pada seringai singkat Elvano. Jantungnya berdebar kencang, dan tengkuknya masih terasa panas oleh bisikan pria itu.

Bisikan Elvano, senyum smirk penuh arti, janji pertemuan rahasia dua hari lagi. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata, sebuah ancaman yang dikemas dalam kesepakatan bisnis.

Ia berjalan cepat menuju lift privat, menekan tombol turun dengan jari gemetar, mengabaikan asisten Elvano yang berjalan menyapanya dengan beberapa dokumen. Kepala Ara terasa pening, ia harus segera menjauh dari gedung yang kini terasa seperti jebakan, seperti sangkar burung emas.

Saat Ara tiba di lobi utama yang luas dan berlantai marmer, langkahnya terhenti. Ia berpapasan dengan Julian, asisten pribadinya yang juga merupakan utusan Papanya sudah menunggu dengan ekspresi penuh harap.

"Nona Ara!" sapa Julian, segera menghampiri, wajahnya cemas.

"Bagaimana pertemuannya? Tuan Hendra sangat cemas menunggu kabar. Beliau sudah menelepon saya tiga kali."

Ara memaksa dirinya tersenyum profesional, meskipun ia yakin senyum itu tampak kaku dan dingin. Ia mengabaikan guncangan internalnya.

"Julian, tolong siapkan dokumen kontrak yang tadi dikirim. Saya berhasil," ucap Ara, suaranya sedikit lebih keras dari yang ia inginkan.

"Proyek pembuatan desain villa baru milik Tuan Elvano adalah tugas tanggung jawab penuh dari Paramita Group, dengan down payment 50% di muka." Julian mengangguk lega, matanya berbinar penuh kelegaan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • The Wedding Agreement    BAB 15

    POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”

  • The Wedding Agreement    BAB 14

    Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?

  • The Wedding Agreement    BAB 13

    Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia

  • The Wedding Agreement    BAB 12

    Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu

  • The Wedding Agreement    BAB 11

    Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente

  • The Wedding Agreement    BAB 10

    Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status