مشاركة

BAB 7

مؤلف: Ansaafh_
last update تاريخ النشر: 2026-06-09 17:04:53

Elvano kembali duduk di kursinya, mengambil posisi ternyaman. Proyek villa mewah itu. Ia berpikir tentang Ara, kontras antara Ara di Eropa, bebas dan liar dengan Ara kepala arsitek yang ia temui tadi dalam keadaan pucat pasi.

Elvano menyukai fakta bahwa ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan perisai wanita sekuat Ara hanya dengan satu pandangan. Ia berpikir keras mengenai strategi untuk pertemuan dua hari ke depan. Pertemuan itu harus memadukan profesionalisme dengan sentuhan pribadi yang mengejutkan.

Ia akan menggunakan kenangan mereka sebagai alat, bukan untuk negosiasi bisnis, tetapi untuk kendali pribadinya atas Ara. Elvano tersenyum tipis, merasakan adrenalin dari perburuan ini. Elvano adalah seorang maestro dalam mengendalikan pasar saham, dan sekarang ia akan mengendalikan hati seorang wanita.

Tiba-tiba, pintu besar ruangannya terbuka tanpa ketukan formal. Elvano seketika menegang. Di ambang pintu, seorang wanita dengan gaun minim dan riasan mencolok berdiri, memancarkan aura yang terlalu cerah untuk ruangan yang didominasi wibawa ini. Kania. Mantan kekasihnya. Seorang model high-fashion yang selalu muncul dan menghilang sesuka hati.

"Elvano! Ya Tuhan, kau benar-benar pulang tanpa memberitahuku!" serunya dengan nada manja dan gembira.

Kania melangkah cepat melintasi karpet tebal itu, mengabaikan jarak profesional yang biasanya dijaga. Sebelum Elvano sempat bereaksi, Kania sudah berada di sisinya, memeluk erat lengan Elvano dengan mesra, bahkan dengan lancang mengelus dada Elvano dengan gerakan sensual. Aroma parfumnya yang terlalu kuat mengganggu konsentrasi Elvano.

"Aku sangat merindukanmu, sayang," bisik Kania, menyandarkan kepalanya ke bahu Elvano. "Kenapa kau pulang tiba-tiba sekali? Aku harus membatalkan pemotretanku pagi ini hanya untuk terbang ke sini."

Wajah Elvano seketika mengeras. Rasa kesal yang tajam menusuknya. Sensasi hangat dari aroma Ara yang tertinggal di udara kantornya langsung digantikan oleh aroma Kania yang memuakkan dan rasa terganggu yang nyata. Dibandingkan dengan keanggunan Ara yang terkontrol, Kania terasa seperti gangguan yang norak.

Rasa kesal bukan karena gangguan, melainkan karena kebodohan Kania yang masih berpikir bahwa kenyamanan dan pengorbanannya penting bagi Elvano.

"Kau tidak perlu membatalkan apa pun, Kania," ujar Elvano datar, suaranya sedingin es yang baru pecah.

Elvano menarik lengannya dengan gerakan halus namun tegas, mengabaikan tatapan sendu Kania. Memutuskan kontak fisik itu. Kania tidak menyerah. Ia mengikuti Elvano, melingkarkan tangan lentiknya di pinggang Elvano dari belakang dan menyandarkan pipinya di punggung Elvano yang kekar.

"Jangan begitu, darling. Kau tahu, betapa aku sangat merindukanmu beberapa bulan belakangan." goda Kania, suaranya mendesah di telinga Elvano.

"Aku yakin kita berdua butuh 'pertemuan' pribadi yang lebih intim. Meja ini terlihat... cukup besar. Ayo, lupakan sejenak pekerjaan membosankanmu itu," bisiknya, sambil mencoba membalikkan tubuh Elvano agar menghadapnya.

Elvano menegang. Rasa muak menjalar di benaknya. Ia benci drama. Ia benci pemaksaan. Dan ia benci ketika orang lain melanggar batas-batas yang ia tetapkan. Kania merusak momentum pikirannya tentang Ara, momentum yang jauh lebih menarik dan penting.

Dengan kekuatan dingin yang mengejutkan, Elvano melepaskan diri dari pelukan Kania, berbalik menghadapnya dengan mata yang tak menunjukkan emosi apa pun selain kekecewaan. Kania tersentak dan mundur beberapa langkah.

"Mike!" panggil Elvano, suaranya dingin dan tajam, memotong kegembiraan Kania dengan otoritas yang mematikan.

Mike, asistennya, bergegas masuk dari ruang tunggu, wajahnya pucat karena terkejut.

"Ya, Tuan! Maaf, Nona Kania memaksa..."

"Saya tidak bertanya bagaimana," potong Elvano, matanya yang tajam tertuju pada Mike, sebuah teguran yang tidak memerlukan kata-kata lebih lanjut.

"Saya bertanya mengapa ia di sini."

Elvano menoleh ke arah Kania. Matanya tidak memancarkan kehangatan atau pengakuan, hanya kekecewaan dingin.

"Kania, saya sedang bekerja. Jadwal saya sangat padat. Silakan keluar." Kania terkejut, namun dengan cepat ia memasang wajah cemberut dengan mata berkaca-kaca yang biasanya dapat meluluhkan hati Elvano.

"Sayang, jangan begitu. Aku sudah bersusah payah ke sini. Aku merindukanmu! Lima menit saja? Aku bisa menemanimu bekerja, lihat, aku bahkan meninggalkan pekerjaanku hanya untukmu El!" Kania berusaha meraih lengan Elvano lagi.

"Mike," ujar Elvano, suaranya kini tenang, datar, dan jauh lebih berbahaya.

"Saya tidak akan mengulanginya. Antar Kania keluar. Sekarang!"

Mike ragu sejenak, melihat betapa keras kepala Kania.

"Aku tidak mau, Mike! Lepaskan, jangan menyentuhku! Aku tidak akan pergi El, aku ingin bersamamu disini!" teriak Kania, berusaha memeluk lengan Elvano.

Wajah Elvano menjadi tanpa ekspresi.

"Seret dia," perintahnya singkat.

Mike, dengan tangan gemetar, mendekati Kania. Mike meraih lengan Kania dengan sopan namun kuat. Kania mulai protes keras, berteriak, dan meronta-ronta saat Mike dengan paksa namun hati-hati menariknya menuju pintu.

"Lepaskan aku, sialan! El, kau tega mengusirku! Aku akan datang lagi, aku tidak akan menyerah! lihat saja!" Raungan Kania merusak ketenangan ruang kaca itu.

Pintu akhirnya tertutup, mengunci teriakan Kania di luar. Keheningan yang sunyi dan dingin kembali menyelimuti ruangan, namun wibawa mencekik yang biasanya dinikmati Elvano telah ternoda.

Elvano tidak bergerak selama beberapa saat. Kepalanya terasa pening. Ia memejamkan mata, kemudian menghela napas yang berat.

Sesi analisisnya yang menarik tentang Ara, strategi permainannya, semua terpotong. Ia membiarkan dokumen desain Ara jatuh ke meja.

Dengan gerakan frustrasi yang tidak mencirikan dirinya yang selalu terkontrol, Elvano mengangkat kedua tangannya dan mengacak rambutnya.

Pagi yang seharusnya menjadi puncak euforia karena kembalinya Ara dan kontrak besar, kini terasa pahit karena kekacauan yang ditinggalkan Kania. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir aroma parfum yang masih samar-samar tercium.

"Mike!" panggil Elvano lagi, suaranya kembali dikendalikan namun masih mengandung kejengkelan yang mendalam.

Mike masuk kembali, berdiri tegap di ambang pintu.

"Saya sangat minta maaf, Tuan. Itu tidak akan terjadi lagi."

"Atur jadwal pembersihan mendalam. Ruangan ini perlu dibersihkan," perintah Elvano, tanpa menjelaskan alasannya, hanya karena aroma Kania harus disingkirkan.

"Dan pastikan seluruh jaringan keamanan mendapat pengingat yang sangat jelas. Saya tidak bisa dihubungi, dan tidak ada yang boleh melewati asisten pribadi saya tanpa janji."

Mike mengangguk cepat.

"Siap laksanakan, Tuan."

Setelah Mike pergi, Elvano bersandar di kursinya. Ia memijat pelipisnya. Kania adalah masa lalu yang penuh drama dan kekanak-kanakan. Ara, sebaliknya, adalah tantangan yang kompleks dan mendalam.

Kemarahan Elvano perlahan mereda, digantikan oleh resolusi yang lebih kuat. Ia tidak akan membiarkan gangguan kecil merusak fokusnya. Dua hari. Ia masih memiliki waktu untuk memulihkan moodnya dan menyempurnakan rencana untuk pertemuan pribadi berikutnya.

Ini adalah perburuan yang terlalu berharga untuk dihancurkan oleh drama masa lalu. Elvano kembali meraih dokumen diatas mejanya, memaksakan pikirannya kembali kepada Ara, satu-satunya wanita yang kini menarik perhatiannya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • The Wedding Agreement    BAB 15

    POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”

  • The Wedding Agreement    BAB 14

    Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?

  • The Wedding Agreement    BAB 13

    Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia

  • The Wedding Agreement    BAB 12

    Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu

  • The Wedding Agreement    BAB 11

    Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente

  • The Wedding Agreement    BAB 10

    Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status