Compartir

BAB 4

Autor: Ansaafh_
last update Fecha de publicación: 2026-05-29 20:21:38

Pesawat jet pribadi milik Elvano dengan mulus membelah langit malam, menembus lapisan awan tebal di atas hamparan Jakarta yang berkelip. Di dalam kabin yang dirancang khusus, dihiasi kayu mahogany gelap dan kulit Italia berwarna krem, keheningan terasa begitu pekat, hanya sesekali terinterupsi oleh desisan pelan sistem ventilasi kabin.

Elvano duduk tegak di salah satu kursi tunggal, sandaran punggungnya hampir tegak lurus, membiarkan keheningan yang mahal itu menjadi kanvas tempat ia merangkai setiap langkah rencananya.

Lampu-lampu kota di bawah, dari ketinggian ribuan kaki, tampak seperti permadani bintang yang terhampar luas, pemandangan yang seharusnya menenangkan jiwa yang letih, tetapi bagi Elvano, justru memicu gelombang ketegangan yang mendidih dalam dirinya.

Uang yang seharusnya menjadi 'uang tutup mulut' atau bayaran untuk 'layanan semalam' yang paling menghina.

"Membayarku," gumamnya pelan, suaranya terdengar serak dan asing, bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa perlu mengulang kata itu, menguji rasa ironi dan kehinaan yang ditimbulkannya.

"Sebuah penghinaan."

Seorang wanita asing berani memperlakukannya. Elvano, putra tunggal dari dinasti Adhitama Group yang mengendalikan hampir sepertiga sektor properti dan energi di Asia Tenggara, seolah-olah ia adalah pria bayaran. Darahnya terasa panas, bukan karena gairah, tetapi karena arogansi yang terlukai.

Tepat saat pesawat mengurangi kecepatan dan mulai melakukan manuver pendaratan final, membelok di atas Teluk Jakarta, ponsel satelitnya yang terenkripsi berdering. Nama Mike, asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang paling tepercaya, muncul di layar. Elvano mengangkatnya tanpa menunda satu detik pun.

"Ya," jawab Elvano singkat, dingin, dan tanpa basa-basi, mencerminkan aura yang ia pancarkan sejak naik ke pesawat.

Suara Mike terdengar lebih terengah-engah dari biasanya, menandakan bahwa asistennya itu pasti sedang bergerak cepat, kemungkinan besar di dalam Mansion Adhitama yang luas, mengatur segala sesuatunya di tengah malam.

"Tuan," lapor Mike, suaranya menahan nada kegembiraan yang profesional.

"Saya sudah berada di Mansion. Kamar Anda sudah disiapkan. Dan yang paling penting, Tuan... saya sudah berhasil mendapatkan nama lengkap wanita itu. Kami mengecek silang semua daftar penumpang maskapai komersial kelas utama yang tiba dari bandara Eropa, khususnya yang tidak/terdaftar dalam daftar VIP kami, pagi ini."

Jantung Elvano berdenyut cepat, perpaduan yang aneh antara antisipasi yang membakar dan kemarahan yang mendidih. Dia tahu, begitu nama itu terucap, seluruh permainan akan berubah dari pencarian menjadi perburuan.

"Siapa namanya?" tanyanya, nada suaranya berubah tajam, seperti ujung pisau yang baru diasah.

Mike berdeham sejenak, jeda yang singkat itu cukup untuk menggaris bawahi rasa hormat dan mungkin sedikit gentar terhadap aura dingin tuannya, bahkan dari seberang telepon.

"Nama lengkapnya adalah... Arabella Saskia Paramita. Dia terbang menggunakan visa turis, Tuan, tetapi alamat domisilinya di Jakarta."

Arabella Saskia Paramita.

Nama itu terasa pas, sebuah perpaduan klasik antara kekuatan dan keindahan, seolah menyatu sempurna dengan aroma samar lily of the valley yang ia ingat tercium dari rambut wanita itu. Elvano mengulangi nama itu dalam hati, membiarkan setiap suku kata menancap dalam ingatannya.

"Jakarta," ulang Elvano, sebuah kata yang menjadi penanda bahwa mangsanya kini berada di wilayahnya, dalam kendalinya.

"Lanjutkan!"

"Ini bagian yang menarik, Tuan," lanjut Mike, yang terdengar menikmati detail-detail investigasi ini.

"Dia berasal dari keluarga yang cukup dikenal, terdaftar dalam relasi bisnis keluarga Adhitama yang lama, meskipun bukan relasi yang aktif. Profilnya sendiri sangat... bersih. Tidak ada jejak publik yang signifikan, tidak ada skandal, atau keterlibatan media. Namun, kami menemukan satu hal yang pasti. Dia adalah Kepala Arsitek di sebuah perusahaan desain interior bergengsi di pusat kota, yakni Paramita Group."

Elvano tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan seringai predator yang baru saja menemukan di mana mangsanya bersembunyi. Ironi nasib memang luar biasa. Wanita yang berani menghinanya dengan bayaran, ternyata secara tidak langsung, terhubung erat dengan dunia bisnis dan pengaruhnya.

Takdir telah menyajikan Arabella di atas nampan emas.

"Skenario ini semakin menarik," katanya, suaranya kembali datar, namun ada nada berbahaya yang terselip di sana.

"Dia adalah seorang Arsitek. Sangat bagus."

"Baik. Kirimkan semua detailnya, termasuk riwayat pekerjaan dan alamat ke email terenkripsi saya dalam lima menit. Pastikan tidak ada satu pun jejak digital di jaringan publik atau log internal yang mengaitkan pencarian ini dengan nama saya, Mike. Urusan ini adalah urusan pribadi dan harus tertutup rapat."

"Siap, Tuan. Saya mengerti sepenuhnya. Semua data akan dibersihkan dari server internal setelah dikirim."

"Langkah selanjutnya," Elvano melanjutkan, tidak memberikan waktu bagi Mike untuk bernapas.

"Hubungi CEO perusahaan desain interior tersebut, Paramita Group. Atur Jadwal pertemuan. Segera." Ia menyandarkan kepala, mengatur skenario yang akan ia mainkan.

"Beri alasan yang masuk akal bahwa saya, Elvano Narendra Adhitama, ingin mendiskusikan desain dan penambahan elemen lokal yang lebih mendalam pada proyek villa yang baru. Dan... saya ingin bertemu dengannya secepatnya. Pastikan dia, Arabella, yang datang sebagai perwakilan utama mereka."

"Memastikan dia datang, Tuan?" tanya Mike, terdengar sedikit terkejut dengan permintaan yang spesifik dan tergesa-gesa itu.

"Tentu," tegas Elvano. "Katakan, klien sekelas Adhitama Group hanya mau berdiskusi dengan orang yang bertanggung jawab penuh atas visi desainnya. Tekankan bahwa ini adalah kesempatan besar bagi Paramita Group, saya akan membayar desainnya 50% diawal. Lakukan sekarang."

"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan. Saya akan pastikan wanita itu menghadiri pertemuan di kantor secepatnya."

Sambungan terputus. Elvano bersandar di kursi pesawat, matanya menatap pantulannya di jendela kabin yang gelap, di mana kini lampu-lampu bandara sudah terlihat jelas.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di udara, membelah batas benua dalam keheningan kabin jet pribadinya yang terisolasi, Elvano akhirnya merasakan sentuhan pertama tanah Indonesia. Ia melangkah keluar dari pesawat membuat kelembaban langsung menyergap, sangat kontras dengan udara kering dan dingin yang ia tinggalkan di Eropa.

sebuah mobil sedan hitam mewah, Mercedes-Benz S-Class, sudah menunggu tepat di tepi landasan, di samping hangar pribadi Adhitama Group. Di balik kemudi, pengemudi pribadinya, Pak Herman, memberi hormat singkat yang penuh rasa hormat.

Elvano hanya mengangguk tipis, meluncurkan dirinya ke jok belakang yang dilapisi kulit premium. Saat pintu tertutup, semua suara bising bandara seketika meredup. Ia menutup mata sejenak, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan zona waktu baru, meskipun pikirannya terlalu aktif untuk benar-benar beristirahat.

Mobil memasuki gerbang tinggi Mansion Adhitama, Elvano merasakan nuansa Indonesia yang akrab, yang selalu kontras dengan kemewahan dingin di Eropa. Ada aroma melati dan kenanga yang kuat yang bercampur dengan kelembaban udara malam yang hangat dari taman yang terawat sempurna.

Di ruang tengah Mansion, sebuah ruangan besar dengan langit-langit tinggi dan lukisan klasik, Papanya, Alex, duduk dengan anggun di sofa kulit Italia, membaca koran bisnis. Sementara itu, Mamanya, Sandra, sedang menyesap tehnya di meja sudut, dikelilingi oleh pot-pot anggrek Phalaenopsis favoritnya. Sebuah sambutan yang formal, tetapi penuh kehangatan khas keluarga old money.

"El!" Seru Sandra, wajahnya langsung berseri-seri ketika melihat putranya. Ia bangkit dengan gerakan anggun, membiarkan majalah yang ia baca jatuh pelan ke sofa.

"Kenapa mendadak sekali? Mama pikir kamu baru akan kembali bulan depan setelah urusan selesai."

Elvano mendekat, mencium pipi Mamanya dengan kasih sayang, lalu menjabat tangan Papanya yang kuat.

"Ma, Pa," katanya, memaksakan senyum yang wajar, sebuah topeng sempurna yang ia pelajari sejak remaja.

"Ada perubahan mendadak di rencana proyek pembangunan villa kita yang baru dan beberapa hal teknis yang harus El tangani langsung di Jakarta. Perusahaan desain interior yang kita tunjuk sepertinya kurang optimal dalam mengimplementasikan visi."

Alex melipat korannya dengan sekali gerakan yang efisien, matanya yang tajam dan berwibawa mengamati putranya.

"Perubahan rencana pembangunan villa baru? Hmm," ucap Alex, suaranya bernada menyelidik.

"Kenapa tidak serahkan saja pada anak buahmu, El? Kamu terlalu keras bekerja. Kamu baru saja kembali dari perjalanan."

"Tidak bisa, Pa," jawab Elvano, mempertahankan kontak mata tanpa berkedip. Ini adalah bagian yang paling krusial, meyakinkan Papanya.

"Ini tentang sentuhan personal dan legacy keluarga," jawab Elvano meyakinkan, sambil menyamarkan alasan sesungguhnya di balik kata-katanya.

"El ingin memastikan semua detailnya sempurna. Proyek ini harus menjadi yang terbaik."

"Baiklah," kata Alex, akhirnya mengangguk, tampaknya menerima penjelasan yang terdengar ambisius.

"Papa menghargai kerja kerasmu. Tapi jangan lupakan kesehatanmu."

Elvano hanya berinteraksi sebentar, mengarahkan percakapan kembali ke alasan bisnisnya, lalu permisi untuk beristirahat.

Di dalam kamar mewahnya, yang terasa sedikit asing setelah beberapa bulan ia tinggal di Eropa, Elvano melepas jasnya, melonggarkan dasi sutra, dan melemparkannya ke sofa. Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke kebun belakang yang gelap, memandangi bayangan pepohonan rindang yang bergoyang tertiup angin malam.

Ponselnya berbunyi, nada notifikasi yang eksklusif untuk email terenkripsi.

Dari: Mike

Subjek: Data Arabella Saskia Paramita

Elvano membukanya. Di sana, tertera informasi pribadi yang disusun rapi, termasuk riwayat pendidikan dari universitas ternama di London, portofolio pekerjaan yang mengesankan, dan yang paling dinantikannya, foto kecil beresolusi tinggi.

Wajah itu.

Wajah yang ia ingat samar-samar di bawah cahaya remang-remang klub malam, dan kemudian, dengan lebih jelas, di bawah lampu suite hotelnya. Dalam ingatannya, wajah itu sedikit pucat, dengan sedikit ketakutan dan keberanian yang bercampur gairah.

Namun, di dalam foto profesional ini, wanita itu terlihat jauh berbeda.

Mata yang lebar, garis wajah yang tegas, dan pandangan yang seolah menyembunyikan kecerdasan dan banyak hal yang tidak terucap. Dalam foto profil perusahaan itu, dia terlihat sepenuhnya kompeten, profesional, dan berkelas, mengenakan blazer kontras dengan kulitanya yang putih, memancarkan aura seorang wanita yang memegang kendali penuh atas hidupnya.

Dia terlihat jauh berbeda dari wanita yang menjerit tertahan di pelukannya, yang meninggalkan cek di samping ranjangnya.

Elvano mengambil liontin itu lagi, membandingkannya dengan foto itu. Liontin perak berinisial 'A'. Tidak ada keraguan lagi. Inilah dia.

Ara.

Dia mematikan layar ponsel, melemparkannya ke sofa, dan melangkah ke kamar mandi marmer. Air dingin dari shower tidak mampu mendinginkan panas yang menyebar dari dadanya. Dia memejamkan mata, membiarkan kemarahan, kehinaan, dan antisipasi merangkai benang takdir yang baru.

"Besok pagi, aku akan melihat bagaimana ekspresimu, Ara, ketika kau menyadari bahwa klien barumu yang besar, penyelamat potensial bagi perusahaamu... adalah pria yang kau perlakukan seolah ia adalah barang sewaan semalam. Pria yang kau tinggalkan dengan bayaran sialan itu."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • The Wedding Agreement    BAB 15

    POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”

  • The Wedding Agreement    BAB 14

    Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?

  • The Wedding Agreement    BAB 13

    Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia

  • The Wedding Agreement    BAB 12

    Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu

  • The Wedding Agreement    BAB 11

    Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente

  • The Wedding Agreement    BAB 10

    Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status