MasukSesampainya di mansion, suasana terasa sunyi, sebuah keheningan yang dingin dan menusuk. Ara melepas blazer-nya dengan gerakan lelah, membuang napas berat. Ia mengharapkan sebuah ucapan selamat dari orang tuanya. Namun, nihil. Tidak ada sambutan, tidak ada suara. Hanya keheningan.
Ia melangkah perlahan ke ruang makan, lalu ke ruang keluarga yang luas. Seluruh bagian rumah itu kosong, seperti sebuah museum mewah yang ditinggalkan. Ara lantas menuju dapur, tempat ia akhirnya menemukan sedikit kehangatan. Di sana, ia mendapati Bi Inah sedang menyiapkan sesuatu di atas meja marmer. "Bi Inah!" sapa Ara, nada lega terselip di suaranya. "Non Ara sudah pulang," balas Bi Inah, wajahnya yang keriput memancarkan kehangatan yang tulus. "Bagaimana pertemuannya, Non?" "Berhasil, Bi," jawab Ara singkat, sambil menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Papa dan Mama... sudah berangkat bi?" "Sudah, Non. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih berangkat ke luar kota lima belas menit setelah Non meninggalkan rumah tadi pagi," jelas Bi Inah, suaranya lembut. "Non ingin makan sesuatu? Biar bibi siapkan" "Terima kasih, Bi. Nanti saja. Ara belum lapar," tolak Ara lembut ketika Bi Inah menawarkan makanan. Ara bergegas naik, melangkah cepat menuju kamarnya. Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur. Begitu ia meraih ponselnya, layar itu menunjukkan sebuah notifikasi krusial dari bank, transfer besar dari Adhitama Group sudah masuk. Proyek ini benar-benar nyata. Seolah-olah, milyaran rupiah itu adalah pengakuan yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya. Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Nama seseorang tertera di layar. Naya, sahabatnya, satu-satunya orang yang benar-benar tahu sebagian dari lukanya dan yang selalu menjadi pelabuhan emosionalnya. "Halo, Nay?" "ARA! Gue kangen banget sama lo. Gue ke rumah lo sekarang, ya? Sepuluh menit lagi gue nyampe." suara teriakan naya disertai tawa terdengar mengejutkan bagi Ara. "Ya ampun, Nay. Lo ngagetin gue. Yaudah gue tunggu ya." balas Ara sambil mengelus dada mengontrol jantungnya yang hampir lepas karena teriakan sahabatnya. Selang sepuluh menit kemudian, Naya tiba. Ia disambut oleh Bi Inah di pintu depan, yang langsung tersenyum hangat. "Non Naya, langsung ke atas saja, ya. Non Ara ada di kamar." Naya masuk ke kamar Ara tanpa mengetuk, mendapati Ara sedang memainkan ponselnya. Ara mengangkat pandangannya, melihat Naya, dan segera meletakkan ponselnya. Naya langsung berlari menghampiri, memeluk Ara erat-erat, sebuah pelukan persahabatan yang jauh lebih hangat dan nyata daripada seluruh perabotan mewah di mansion itu. "Ya ampun, Ra! Gue kangen banget, sumpah! Maaf banget kalau gue baru datang sekarang. Urusan kerjaan gue baru kelar," bisik Naya masih memeluk Ara. "Lo apa kabar, dear?" Sebelum Ara sempat menjawab, Bi Inah mengetuk pintu. "Masuk, Bi," sahut Ara. Bi Inah membawa nampan besar berisi, sandwich keju, dan beberapa snack ringan serta minuman. "Ini untuk Non Ara dan Non Naya. Silakan dinikmati," ucap Bi Inah, lalu berlalu. Keduanya duduk di sofa panjang dekat jendela, menikmati hidangan sambil bercerita. Naya menggigit sandwich-nya, lalu menatap Ara dengan mata menyelidik. Aura cerianya kini digantikan oleh keseriusan. "Ra," panggil Naya pelan, nadanya berubah dalam. "Waktu lo tiba-tiba pergi ke Eropa, gue tau alasannya." Ara terdiam, jantungnya berdebar. Ia tahu Naya terlalu cerdas. "Itu gara-gara bokap dan nyokap lo maksa perjodohan lo dengan Dion, kan?" lanjut Naya, matanya menajam. Ekspresi Ara seketika membeku. Ia menatap Naya, tak percaya sahabatnya bisa mengetahui hal itu tanpa ia beri tahu. "Mereka... mereka nggak kasih tahu lo?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik. Naya menggeleng pelan. "Orang tua lo nggak ngasih tau, tapi gue tau sewaktu di cafe. Gue ga sengaja ketemu Dion sama temen-temennya. Awalnya gue nggak fokus mereka bahas apaan, terus gue denger Dion nyebut nama lo dan perjodohan. Dari situ gue tau alasan lo kabur karena apa" Ia meletakkan sandwich-nya. "Kenapa lo masih bohong ke gue ra?" Ara menghela napas panjang, kekuatannya untuk membantah habis. "Iya, Nay. Gue kabur karena perjodohan itu. Orang tua gue bahkan sudah mengatur tanggalnya," akunya. "Gue dukung keputusan lo ra, lagian gue juga ga akan setuju kalau lo sampai nikah sama si brengsek itu." Naya memegang tangan Ara erat-erat, matanya penuh empati dan emosi. "Terus, lo baik-baik aja kan di Eropa sana? Maksud gue, nggak ada yang gangguin lo lagi kan?"lanjut naya dengan wajah yang serius. Ara mengambil napas, teringat pada Elvano. Bisikan panas dan mata tajam yang menembus pertahanannya. Ia teringat pada sentuhan yang membuatnya gemetar. Namun, itu adalah rahasia yang ia bawa sendiri. Ia harus melindungi Naya dari kerumitan hidupnya yang baru ini. "Enggak, Nay," jawab Ara, kali ini ia menatap mata sahabatnya dengan tatapan yang dipaksakan setenang mungkin. "Gue baik-baik saja di Eropa." lanjut Ara dengan nada yang meyakinkan. Naya menatapnya lebih lama, mencoba membaca kebohongan di matanya. Setelah beberapa saat, ia menghela napas, tampaknya meyakinkan dirinya sendiri. "Oke deh. Kalau lo bilang nggak, gue percaya. Tapi janji, ya. Kalau ada apa-apa, lo harus cerita. Semuanya." "Janji," kata Ara. Mereka menghabiskan sisa waktu sore hingga malam hari, bercerita tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Kehadiran Naya berhasil mengusir bayangan Dion dan Elvano, setidaknya untuk malam itu. Setelah hari benar-benar gelap, Naya pamit pulang. "Hati-hati di jalan, Nay," ucap Ara seraya memeluk Naya erat di ambang pintu. "Thanks udah mau nemenin gue." "Sama-sama, Ra. Lo juga, jaga diri baik-baik ya," balas Naya, senyumnya menghangatkan. "Besok atau lusa gue ke sini lagi kok. Dah!" Setelah Naya pulang, mansion kembali diselimuti kesunyian yang mencekam. Ara melangkah gontai menuju kamarnya, hatinya terasa kosong kembali setelah kehangatan yang dibawa Naya lenyap. Ia mencoba membaca buku, tetapi pikirannya terus melayang. Proyek besar Adhitama Group, kepergian orang tuanya, dan perkataan Naya tentang perjodohan dengan Dion, semuanya berputar-putar di benaknya. Terutama, bayangan Elvano, pria asing dari Eropa itu kembali menghantuinya. Ara memejamkan mata, berharap tidur bisa mengusir semua pikiran kalutnya. Namun, malam itu, mimpinya justru membawanya kembali pada pria yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya di Eropa. Dalam mimpi, Ara merasakan sentuhan Elvano, jari-jari pria itu lihai menyentuh punggungnya yang terbuka, lalu naik ke bahu. Ara yang mabuk, tidak menolak, justru tubuhnya yang merespon secara liar. Sensasi panas menjalari kulitnya saat Elvano mencium lehernya, napasnya yang hangat berembus di telinganya. Elvano menahan diri sejenak, menatap Ara dengan mata tajam yang kini tampak gelap oleh hasrat. "Kau duluan yang menyerangku," bisik Elvan, suaranya serak dan menahan diri. "Maka jangan salahkan aku jika membalasnya. Aku juga pria normal." Sentuhan Elvan semakin dalam, semakin menuntut. Ara mendesah, merasakan sensasi liar yang membanjiri kesadarannya yang tersisa. Dalam sisa-sisa mabuknya, ia menarik Elvano mendekat, bibirnya menemukan bibir pria itu mencium dengan dalam dan penuh gairah. Tubuh mereka tenggelam dalam pusaran gairah yang tak terkendali, melupakan segalanya kecuali satu sama lain. Tiba-tiba, Ara terbangun dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang, keringat membasahi dahinya. Ia duduk tegak di tempat tidur, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu intens, hingga ia bisa merasakan sisa-sisa sentuhan Elvano di kulitnya, gema ciuman panas mereka. Sensasi panas menjalari tubuhnya, dan bayangan mata tajam pria itu masih melekat kuat di benaknya walaupun samar-samar. "Elvano..." bisiknya pelan, nama itu keluar dari bibirnya tanpa sadar. Ia meraih ponselnya, mencoba mengalihkan pikiran, tetapi layar gelap itu hanya memantulkan wajahnya yang kebingungan. Malam masih panjang, dan Ara tahu, pertemuannya dengan Elvano di Eropa, meskipun singkat telah meninggalkan jejak yang dalam. Sebuah rahasia yang kini menghantuinya di setiap mimpi.POV ARAAku terbangun dengan perasaan asing. Bukan pusing, bukan sakit kepala, melainkan rasa hangat yang tidak biasa, seolah malam tadi berakhir tanpa beban yang biasanya selalu ikut terbawa hingga pagi. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lembut di lantai kayu dan ujung ranjangku.Aku mengerjap pelan.Kamar ini… kamarku.Aku sedikit mengernyit ketika menyadari satu hal, aku sudah mengenakan baju tidur. Sepatuku tidak ada. Gaun pesta yang kupakai semalam juga sudah tergantung rapi di kursi.Ingatan malam tadi datang perlahan, terpotong-potong.Aku duduk perlahan, menarik selimut hingga sebatas pinggang. Ingatanku berhenti di satu titik, aku duduk di kursi disebelah Elvano, lampu jalan berderet di luar jendela, lalu dia berbicara hanya beberapa patah kata dan… hening.Aku tertidur.Napas pelan keluar dari bibirku.“Bi Inah…” gumamku lirih.Seolah mendengar namanya dipanggil, pintu kamarku diketuk pelan.“Non Ara sudah bangun?” suara lembut Bi Inah terdengar.“Iya, Bi. Masuk.”
Aula Ballroom hotel tempat acara Anniversary pernikahan orang tua Naya semakin ramai. Denting sendok dan garpu berpadu dengan alunan musik klasik yang lembut. Lampu kristal bergantung megah, memantulkan kilau di atas gaun-gaun mahal dan setelan jas eksklusif para tamu undangan.Ara berdiri di sisi Naya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kehadiran Elvano beberapa meter dari sana seperti magnet yang mengacaukan seluruh fokusnya. Pria itu berbincang santai dengan Daddy Naya, sesekali tersenyum sopan, sesekali melirik ke arahnya. Lirikan singkat, tapi cukup untuk membuat jantung Ara berdetak tak karuan.Aula Ballroom semakin ramai. Ara berdiri di samping Naya sambil memegang gelas minuman, bahunya sedikit tegang.Naya melirik Ara dari samping lalu nyengir.“Ra, lo keliatan kayak mau kabur.”Ara menghembuskan napas pelan.“Gue lebih nyaman ngadepin klien galak daripada acara ginian.”Nayara terkekeh.“Padahal ini pesta Elite. Makanan mahal, tamu penting, lampu kinclong. Kurang apalagi?
Kamar Suite Presidential di hotel berbintang lima diselimuti suasana temaram. Aroma Scotch yang kuat berbaur dengan Sillage parfum mahal, menciptakan aura kemewahan yang dingin. Di kamar itu, Dion dan wanita yang berstatus sebagai kekasih gelapnya selama hampir enam bulan sedang berbagi peluh. Keintiman fisik yang baru saja terjadi terasa kosong.Bagi Dion, ini hanyalah rutinitas, sebuah pelepasan tanpa koneksi. Ia berdiri di tepi ranjang, mengambil boxer dan memakainya, gerakannya tenang dan berjarak. Clara, sebaliknya, masih duduk bersandar di bantal, memegang selimut hingga menutupi dadanya. Meskipun ia adalah partner tetap Dion, kebersamaan mereka selalu diwarnai oleh ketegangan, seperti dua orang yang terikat oleh kesepakatan bisnis yang tidak adil.Dion mengambil dompet kulitnya dari nakas, mengeluarkan segepok uang. Jumlahnya fantastis, jauh lebih besar dari sekadar bayaran jasa. Itu adalah tunjangan bulanan yang memastikan kesetiaan dan, yang paling penting, kebisuan Clara. Ia
Naya tiba di mansion Ara dengan mobil sport-nya. Ara sudah bersiap mengenakan celana jins dan kaus sederhana."Non Naya, mau Bi Inah siapkan cemilan dulu?" tawar Bi Inah ramah."Terima kasih banyak, Bi Inah. Tapi kita harus pergi sekarang. Ayo, Ra!" seru Naya sambil menarik Ara keluar.Mereka pun berangkat menuju butik langganan keluarga Naya. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh pemilik butik, madam Jessie, seorang wanita paruh baya yang elegan. Ara telah mengenal Madam Jessie karena beberapa kali menemani Naya berbelanja. Madam Jessie dengan antusias merekomendasikan beberapa dress terbaik."Coba yang ini, Ara. Ini akan terlihat indah kalau lo pakai," kata Naya, menyodorkan gaun pertama.Ara heran."Kok gue? Lo sendiri nggak nyoba?""Gue udah pilih, Ra. My focus is you!" tukas Naya, mendorong Ara pelan ke ruang ganti.Ara pasrah. Ia mencoba dress pertama, kedua, dan kemudian yang ketiga.Ketika Ara keluar mengenakan dress ketiga, Naya dan madam Jessie kompak berseru kagu
Ara tiba kembali di mansionnya. Keheningan segera menyambutnya. Mobil orang tuanya tidak ada di garasi, mereka jelas masih berada di luar kota. Kelegaan kecil menyelimuti dirinya, memberinya jeda dari drama keluarga, namun hal itu segera digantikan oleh bayangan Elvano yang kembali menghantuinya.Lelah setelah menghadapi permainan mental dan tantangan Elvano di lokasi pembangunan, Ara segera membersihkan diri. Ia mengganti pakaian kerjanya dengan kaus oversize katun dan hotpants yang nyaman. Rambut panjangnya ia cepol asal-asalan ke atas, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang manis.Ia menjatuhkan diri ke sofa di ruang keluarga, menyalakan televisi tanpa benar-benar memperhatikan siaran di layar. Pikirannya melayang.Pertemuan pribadi minggu depan.Bagaimana ia akan menghadapi Elvano? Pria itu kini telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ara telah mengakui dominasinya dengan memasukkan The Sanctuary of The Unseen ke dalam desain.Kini, Elvano akan menyerang di bente
Ara berjalan cepat menyusuri koridor marmer kantor Adhitama Group, langkah kakinya berdetak kencang seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak peduli jika terlihat tidak profesional. Yang ia rasakan hanyalah campuran rasa malu, marah, dan adrenalin yang membanjiri dirinya.Ketika mencapai pintu lift, ia menekan tombol berulang kali dengan ujung jarinya yang gemetar, seolah itu akan mempercepat kedatangan lift.Bajingan itu.Elvano tidak hanya menghinanya secara profesional, dia telah menelanjangi privasinya. Kata-katanya, bisikannya, cara dia menghubungkan proyek bernilai puluhan juta dolar dengan 'gairah' satu malam di Erop. Semuanya dirancang untuk meruntuhkan pertahanan Ara. Itu adalah serangan psikologis yang kejam.Ketika pintu lift terbuka, Ara masuk dan langsung bersandar ke dinding cermin dingin. Ia memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam. Aroma Cologne mahal Elvano masih melekat samar di blazernya, membuatnya mual.Tunjukkan bagaimana Anda akan memasukkan







