LOGINAstrid meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang kini sudah bersih tanpa sisa. Ia mengambil tisu, menyeka bibirnya perlahan, lalu bersandar pada sandaran kursi plastik sambil mengembuskan napas kenyang. "Kalau jadwal minggu ini sih, kita masih ada sekitar tiga puluhan unit lagi di Blok C yang harus diselesaikan jalur instalasinya," jawab Astrid menanggapi pertanyaan Beni tadi. Ia menoleh ke arah Dayat yang baru saja membasuh tangannya di mangkuk kobokan. "Jadi ya... kita masih bisa agak santai-santai sedikit kerjainnya. Enggak perlu buru-buru sampai lembur banget. Ya kan, Yat?" Dayat terkekeh sambil mengeringkan tangannya dengan tisu. "Iya, Mbak. Yang penting konstan tiap hari dapat target unitnya. Daripada dipaksa cepat tapi nanti ada kabel yang korslet atau salah jalur, malah bongkar lagi dari awal. Kerjaan dua kali itu namanya." Beni mangut-mangut kagum, lalu menyulut sebatang rokok setelah mendapat izin lewat isyarat mata dari Astrid dan Dita. "Tapi salut gua sama lu,
Suasana Rumah Makan Padang "Sinar Jaya" siang itu sangat ramai. Aroma gulai tikungan yang gurih dan harumnya ayam pop menyeruak di udara, berpadu dengan suara dentingan piring dan riuh rendah obrolan para pekerja proyek yang melepas penat. Dayat dan Astrid beruntung mendapatkan satu meja kosong di sudut dekat kipas angin dinding. Di atas meja kayu itu, dua piring nasi padang dengan lauk rendang, sayur nangka, dan guyuran kuah kental yang melimpah sudah tersaji, lengkap dengan dua gelas es teh manis yang berembun. "Wah, parah sih ini, Mbak. Sambal hijaunya menggoda banget," ujar Dayat, matanya berbinar menatap piringnya. Ia langsung menyingsingkan lengan bajunya dan mulai mengaduk nasi dengan tangan telanjang. Astrid terkekeh, memotong sedikit daging rendangnya menggunakan sendok. "Kan, dibilang juga apa. Di sekitaran proyek, cuma warung ini yang bumbunya paling berani. Gimana? Enggak rugi kan traktir aku di sini?" "Enggak rugi sama sekali, Mbak. Malah kalau begini ceritanya, t
Dayat menurunkan tangannya yang mulai terasa pegal setelah berkutat dengan kabel-kabel di langit-langit. Ia melangkah turun dari tangga aluminium, meletakkan tang potongnya ke dalam kotak perkakas dengan bunyi *klang* yang menggema di ruangan kosong itu. Langkah kakinya beralih menuju sudut ruangan, tempat Astrid duduk di atas peti palet. Tepat di samping peti itu, ada selembar kardus bekas pembungkus material yang terhampar pasrah di atas lantai plesteran berdebu. Tanpa ragu, Dayat langsung mendudukkan dirinya di sana, meluruskan kedua kakinya yang dibalut celana jins belel, lalu menyandarkan punggung lebarnya ke dinding beton yang masih kasar. Ia merogoh saku, mengambil sebatang rokok, dan memantik apinya. *Klik.* Seulas asap abu-abu mengepul, menari-nari di udara sebelum menghilang ditelan pengapnya ruangan. Dayat meraih handuk kecil yang melingkar di lehernya, lalu menyeka bulir-bulir keringat yang mengalir deras dari pelipis hingga ke dadanya yang bidang. "Panas banget ya, Mba
Dayat tidak langsung menjawab. Ia justru melempar senyum tipis, lalu menatap Astrid balik dengan tatapan yang sulit ditebak. "Mbak Astrid... kamu sendiri tahu kan, Bu Clara selama ini kayak gimana ke aku?" tanya Dayat memancing. Astrid menyimak dengan serius, lalu mengangguk perlahan. "Iya, Mas. Aku tahu beliau perhatian banget sama kamu." "Nah, terus menurutmu sendiri bagaimana?" tanya Dayat lagi, menguji sejauh mana insting wanita di depannya itu. Astrid terdiam, menatap lekat-lekat wajah Dayat selama beberapa detik seolah mencari kebohongan di sana. "Jujur sih, Mas... aku enggak bisa mastiin. Lagian aku juga enggak mau nge-judge kamu yang gimana-gimana, ya." "Yaa... dikira-kira menurutmu saja, Mbak. Bagaimana?" goda Dayat lagi sambil menaik-turunkan kedua alisnya, memancing reaksi Astrid. Astrid menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu menunjuk Dayat dengan pulpennya. "Hmmm... menurutku sih, kamu ada 'main' deh sama Bu Clara. Ya kan? Ya kan?? Mengaku saja deh, Mas!" ucap
Astrid tidak langsung puas dengan jawaban itu. Ia justru melipat kedua tangannya di dada, matanya menyipit menatap Dayat yang masih sibuk mengelap meteran dengan gerak-gerik canggung. Atmosfer di dalam ruangan kosong itu mendadak terasa begitu pekat dan menekan."Mas, jangan bohong deh. Aku ini sudah lama ikut Bu Clara," ucap Astrid, nadanya dingin dan penuh penekanan. "Aku tahu betul bagaimana cara beliau berbisnis. Bu Clara itu orangnya sangat pemilih dan penuh perhitungan."Astrid melangkah satu tapak lagi, bayangannya kini menutupi tubuh Dayat yang masih berjongkok."Logikanya ya, Mas... Kamu itu di kantor termasuk teknisi borongan yang masih baru. Baru banget. Tapi anehnya, Bu Clara berani langsung menyerahkan proyek sebesar dan sepenting ini ke tangan kamu begitu saja. Tanpa ragu. Padahal masih banyak teknisi senior lain yang antre," cecar Astrid lagi, menembak langsung ke titik paling mencurigakan. "Kalau bukan karena ada 'sesuatu' di antara kalian, rasanya mustahil, Mas."Skak
Suasana di dalam unit rumah contoh Blok B terasa cukup sejuk meskipun matahari luar mulai terik. Dayat berdiri di atas tangga aluminium, bertelanjang dada dengan handuk kecil melingkar di lehernya. Tangannya yang cekatan sedang mengupas ujung kabel tembaga menggunakan tang potong, lalu menyelipkannya ke dalam pipa conduit di langit-langit.Di sudut ruangan, Astrid duduk santai di atas sebuah peti kayu palet yang dijadikan meja darurat. Di pangkuannya terdapat sebuah papan jalan dengan tumpukan kertas laporan progres lapangan yang sedang ia periksa satu per satu menggunakan pulpen.Sreeett... Klik."Mas Dayat, jalur utama yang ke arah dapur ini arusnya dipisah sendiri atau digabung sama ruang tengah?" tanya Astrid tanpa mendongak, jemarinya sibuk mencentang kolom laporan.Dayat menarik napas panjang, lalu memasukkan sakelar ke dalam mangkok tanam di dinding. "Dipisah, Mbak. Buat dapur dayanya sengaja dikasih jalur sendiri, takutan nanti kalau penghuninya pakai kulkas besar sama microwa
Melihat reaksi Clara yang begitu menantang, Dayat sempat terdiam sejenak. Tangannya yang tadinya sudah siap mencengkeram pinggang Clara mendadak ragu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap sekeliling ruang tengah dengan bingung. "Bentar, Tan... kalau mau gaya baru, malah akunya y
Clara meletakkan cangkir tehnya sepenuhnya, lalu berdiri dari sofa. Gaun tidurnya yang super minim itu berayun lembut, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sengaja dipamerkan di depan Dayat. Ia melangkah mendekat, lalu meraba dada Dayat dengan ujung jarinya yang lentik."Yaudah, yuk langsung ke kamar
Selesai mandi dan berganti pakaian bersih, Dayat kembali ke ruang makan dengan rambut yang masih agak basah. Aroma capcay dan telur dadar buatan Ajeng langsung menyambut perutnya yang keroncongan. "Wah, segar banget rasanya. Yuk, Jeng, makan," ajak Dayat sambil menarik kursinya kembali. "Iya, Ma
Setelah mengantarkan Astrid sampai ke depan rumahnya, Dayat langsung memacu mobilnya membelah kemacetan sore untuk pulang. Rasa lelah setelah seharian berada di proyek perumahan mulai menjalar di tubuhnya.Saat melangkah masuk ke dalam rumah dan membuka pintu utama, indra penciuman Dayat langsung d







