Share

chapter 3

Penulis: Senjaku
last update Tanggal publikasi: 2025-11-24 09:55:26

"Mbak bisa ikut kami dulu ke kantor, dan membuktikan kalau disini mbak Zahra memang tidak bersalah" bujuk polisi yang satunya.

Ku pikir ada benarnya. Kenapa aku harus takut, kalau aku memang tidak bersalah. Takut terjadi keributan, aku pun akhirnya dengan berat hati ikut mereka.

"Gimana dengan ayah mbak? Lagi pula ini sudah malam. Kenapa tidak besok pagi saja mbak ke kantor polisinya" Tanya Raka, saat aku hendak melangkahkan kakiku.

Raka benar, ini kan sudah malam. Mana ada polisi meminta keterangan seseorang dimalam hari seperti ini. Tapi masa sih ini bukan polisi asli. Aneh banget. Ku urungkan niatku untuk pergi mengikuti mereka.

"Emm..Begini pak, apakah bapak punya kartu tanda anggota kepolisian?"  Tanyaku, berdiri sejajar dengan mereka.

"Apa? Apa - apaan ini? Mbak kira kita polisi gadungan atau gimana?" Tanya kedua polisi itu dengan mata membulat sempurna. Mereka seperti hendak menelanku.

"Baiklah, kalau tidak mau ikut dengan cara baik - baik kami terpaksa membawa mbak Zahra secara paksa"  Tanganku diapit keduanya dengan paksa. Sudahlah, sepertinya aku memang harus mengikuti mereka. Dengan wajah berpura - pura tenang dihadapan Raka, aku menuruti kemauan mereka. Tidak ingin adik semata wayang ku itu panik.

Sampai suara bariton seseorang, muncul mengagetkan kami semua dari belakang.

"Tunggu!! Kenapa kalian membawa perempuan ini?" Dokter Aditya muncul tiba - tiba.

"Anda siapa?" Tanya salah satu polisi.

"Saya Aditya, salah satu dokter spesialis jantung terbaik dirumah sakit ini"  Jawabnya. Jiwa sombongnya ternyata sudah mendarah daging.

"Begini pak dokter, mbak ini dilaporkan mencuri sejumlah perhiasan dirumah saudaranya. Kami hanya ditugaskan membawanya untuk dimintai keterangan" polisi itu menjelaskan.

"Begini, saya tunangannya. Dan saya tidak mengizinkan kalian membawa calon istri saya saat ini. Karena calon mertua saya sedang kritis" ucap dokter Aditya membuatku tak berhenti menatapnya. Kenapa dokter ini, apakah dia tadi salah makan. Ucapannya sungguh ngelantur. Calon istri? Kita aja baru kenal. Itupun selalu ribut setiap ketemu.

"Tapi dokter"

"Tidak ada tapi tapian. Besok saya akan suruh pengacara untuk menangani masalah ini. Silahkan anda tinggalkan tempat ini. Karena masih ada hal yang harus kami urus" dokter Aditya mengusir halus mereka. Untungnya dua polisi itu menurut dan akhirnya pergi.

***

"Terimakasih untuk bantuannya dok" ucapku pada dokter Aditya dengan tulus.

"Apa benar yang mereka katakan?soal.." ia menggantung ucapannya.

"Tidak dokter, demi Allah saya difitnah" ucapku gemetar.

Aku takut dokter Aditya menganggap fitnah itu benar dan dia akan merubah kesepakatan kerja kami. Padahal gajinya sudah ku gunakan untuk biaya rumah sakit bpk.

"Iya dokter, kakak saya tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Walaupun kami hidup sederhana, tapi ayah selalu mengajari kami untuk tidak pernah mengambil milik orang lain" Raka membelaku. Pipiku pun basah mendengarnya.

Teringat saat ayah masih sehat. Memang benar apa yang Raka katakan. Aku teringat saat kami masih kecil. Sari temanku kehilangan mainan boneka Teddy bear hadiah ulang tahun dari mamanya. Sialnya, sari menuduh aku yang mengambil bonekanya. Dia mengadu pada ayah dan ibuku. Seharian ayah mengurungku, dari matahari belum terbit sampai matahari terbenam. Hingga malamnya, ibunya dari datang kerumah. Menjelaskan kalau ternyata bonekanya sari dilaundry sama ibunya, gak bilang sama dari. Sungguh kejadian yang tidak mungkin ku lupakan.

"Oke, kita lupakan dulu hal ini. Ada yang lebih penting yang harus saya sampaikan. Ayah kalian dalam keadaan kritis. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi sepertinya hanya doa kalian yang bisa menolongnya saat ini"

BRUAAAKKKK!!

Semuanya kini menjadi gelap.

***

"Auhh.." kepalaku terasa sangat berat. Aku sudah berada diruangan pasien. Dengan jarum infuse menancap dipergelangan tanganku. Tampak dari balik tirai jendela, sepertinya ini sudah siang. Apa mungkin aku sudah dirawat semalaman.

Tidak ada orang sama sekali diruangan ini. Aku penasaran bagaimana nasib ayahku. Tadi karena terlalu sedih dan mungkin aku lelah menghadapi kejadian demi kejadian , tubuhku tidak kuat menahannya.

Krieeettt

Pintu terbuka. Seorang perawat masuk, mengantarkan obat dan juga makan siang untuk ku.

"Permisi suster, apa yang terjadi sama saya?" Tanyaku. Suster berwajah manis berumur kisaran 25 tahun itu menjawab dengan lembut.

"Mbak Zahra semalaman pingsan. Syukurlah kalau sudah bangun. Saya akan segera menghubungi dokter Adity"

"Eh anu sus, adik saya dimana ya? Kenapa dia tidak menemani saya disini. Terus gimana keadaan ayah saya?" Tanyaku nyerocos. Karena memang mereka lah prioritasku saat ini.

"Emmm begini mbak Zahra. Dokter Aditya cuma berpesan kalau mbak Zahra sebaiknya istirahat aja dulu disini. Dokter Adit dan adiknya mbak Zahra sedang mengurus pemakamannya pak Sobirin" jawab perawat itu dengan suara pelan bagaikan angin. Namun sanggup membuat seluruh tubuhku kelu.

Mataku mendadak panas, embun menebal disana. Bibirku bergetar pilu. Rasanya bagai disambar petir. Benarkah yang ku dengar ini.

"Apa? Ayah saya.."

"Iya, ayahnya mbak Zahra meninggal tadi jam 5 pagi. Mbak yang sabar ya" tangan suster itu mengelus pundakku, prihatin.

"Tidak, ayah tidak mungkin ninggalin aku sama Raka.. suster. Ayah gak mungkin Setega itu. Ayaaaaah, jangan tinggalin Zahra ayah. Zahra mau ikut ayah.." ku tarik jarum infuse dari pergelangan tanganku. Darah segar mengucur, namun tak ku pedulikan. Aku harus  pergi dari tempat ini. Mungkin masih bisa melihat wajah ayah untuk terakhir kalinya.

"Mbak Zahra..mbak.." Suara perawat itu memanggilku, namun tak ku hiraukan. Aku berlarian bak orang gila.

"Taxi mbak??" Seorang sopir Taxi menghantikan laju mobilnya. Tanpa berpikir panjang, aku melesak masuk ke dalam.

"Tujuan mana neng?"

"Ke jalan Cempaka putih pak.." ucapku.

Tanpa kata - kata lagi, sopir itu melaju membelah jalanan yang penuh hiruk pikuk.

Ada bendera kuning didepan rumahku. Rasanya nyeri sekali. Mungkin benar yang dikatakan oleh perawat dirumah sakit tadi. Bahwa ayahku sudah meninggal.

"Pak, tunggu bentar disini ya? Aku harus mengambil uang dulu"

"Baik neng" sopir Taxi itupun mengangguk.

Kakiku gemetar memasuki halaman rumah. Masih ramai orang didalam dan diluar rumah. Mereka menatapku dengan iba.

"Mbak.." ucap Raka, suaranya parau. Bahkan untuk berdiri saja Raka dipegangi oleh dokter Aditya. Iya dokter itu, kenapa dia ada disini. Sebaik itukah dia? Atau sengaja mencari tempat tinggalku supaya aku tidak bisa lari dari janji kerja diantara kami. Pekerjaan yang aneh itu.

"Raka.." aku berlari memeluknya. Bagaimana bisa didunia seluas ini aku hanya mempunyai Raka. Disaat kami butuh dukungan dan peran orang tua lebih dari biasanya. Kenapa malah jadi yatim piatu. Tuhan, sakit sekali rasanya ujianmu kali ini.

"Ayahmu sebentar lagi akan dikebumikan. Tengoklah sebentar. Aku akan membayar taximu didepan" ucap dokter Aditya yang melihat ada sopir Taxi menungguku diluar.

"Tidak ayah..tidaaaak..kenapa ayah tinggalin Zahra? Raka masih butuh banyak biaya buat kuliah. Ayah bilang Raka harus jadi orang yang hebat. Zahra juga masih sangat butuh ayah untuk jadi tempat cerita Zahra. Kenapa ayah malah pergi ninggalin kita yah.." Tangis yang sejak tadi ku tahan, tumpah tak beraturan. Sakitnya menusuk kedalam ulu hati melihat cinta pertamaku terbujur kaku. Ternyata benar, perpisahan yang paling sakit adalah perpisahan beda alam. Karena kita tak akan pernah lagi bisa memeluknya.

Seandainya aku tahu, kemarin adalah saat - saat terakhirnya. Mungkin aku tidak akan meninggalkannya keluar, hanya dengan Raka dirumah.

"Sudah nak Zahra. Instighfar..Ikhlasin ayahnya ya, kasihan kalau ditangisin terus. Nanti semakin berat langkahnya menuju dunianya yang baru. Kita bantu doa saja" istri pak ustadz Arifin membantu menenangkan aku yang terus meraung. Suara lemah lembutnya membacakan aku alfatihah dan beberapa surat pendek lalu menghembuskannya ditelapak tangan dan mengusap - usapkannya ditubuhku. Ia membimbingku terus beristighfar, sehingga aku bisa lebih tenang menemani ayah pergi untuk yang terakhir kali.

***

"Laailla haillallah, laailla haillallah, laailla haillallah.." lantunan kalimat tahlil mengiringi kepergian ayah sampai ke tempat tinggalnya yang baru.

Raka ikut memikul keranda bersama tiga pria lainnya. Sementara aku memeluk foto terbaik ayah semasa hidupnya selama perjalanan.

Setelah satu jam, semua prosesi penguburan ayahku akhirnya selesai juga. Ayah dimakamkan tepat disamping ibu. Semasa hidupnya, ayah memang sering berpesan kalau nanti meninggal ingin dikubur disebelah ibu. Dan kami pun mengabulkan keinginan terakhir ayah.

bersambung..

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 63

    Dinginnya AC membuat Zahra tertidur pulas. Setelah seharian drama, yang dialaminya dijalan. Namun tiba - tiba kakinya kram, tidak bisa digerakkan. Membuatnya terpaksa membuka mata, "Awh, mas..tolong mas, aduh!" Cicitnya, kesakitan. "Kenapa, sayang?" Aditya berusaha membuka matanya, walaupun masih sangat lengket. Karena dirinya baru saja terbawa ke alam mimpi. "Ini mas, kaki aku kram. Tolongin.." rengek Zahra, masih terus menarik lengan baju suaminya. "Iya, yang! Sabar.." jawab Adit, terpaksa bangun lalu membalurkan minyak urut ke kaki istrinya. "Gimana, sudah enakan belum?" Tanya Aditya, masih terus mengurut kaki Zahra dengan sabar. "Udah, makasih ya mas" jawab Zahra, memeluk erat perut suaminya begitu manja. Membuat sesuatu yang sejak tadi tidur lelap, kini malah ikutan bangun membuat celana Aditya menjadi sempit. "Iya, sama - sama. Ya sudah, bobo lagi yuk" kata Aditya, kasihan istrinya kalau harus menuruti ular piton yang mulai mendesis dibalik celananya. "Gak mau bobo" jawab Z

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 62

    Drrrttt drrttt Tiba - tiba saja, ada nomer tidak dikenal masuk ke ponsel ayu Sarah. Dahinya mengernyit, siapa gerangan yang menghubunginya. Yang tau nomer telponnya hanyalah Aditya dan Zahra. "Assalamualaikum.." ucap ayu Sarah, ragu - ragu. Setelah menekan tombol hijau berbentuk telpon, dilayar pintarnya. Matanya masih fokus mengawasi Arsya yang aktif bergerak kesana kemari, karena mbokyem lagi di ruang loundry menyelesaikan cuciannya. "Wa'alaikumsalam, yu! Gimana kabarnya?" Tanpa sadar, senyum ayu Sarah mengembang. Mendengar suara pria yang begitu dikenalnya, ada diujung telpon. Sudah bisa ditebak ya, siapakah gerangan pria itu. Tepat sekali, dia adalah dokter Fahmi. Seseorang yang puluhan tahun, membantu ayu Sarah dalam proses penyembuhannya. Banyak sekali momen yang mereka lalui bersama. Dokter Fahmi adalah seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal, karena kecelakaan pesawat saat perjalanan umroh ke tanah suci Mekkah. Semenjak kematian sang istri, belum pernah sekali pun ia c

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 61

    "gak apa - apa mbok, cuma sebentar. Takut ada yang lupa, tidak tertulis kalau mbokyem yang belanja" Zahra mode ngeyel, membuat pusing pembantunya. Bingung nanti harus menjawab apa, kalau sampai Aditya bertanya dan marah karena pesannya dilanggar."Mbok..!" Panggil Zahra. pembantu itu pun datang menghampirinya. "Iya non? Ada yang bisa mbokyem bantu?" Tanya mbokyem. Zahra pun menjawab, "Nitip Arsya ya. Saya berangkat dulu. Assalamualaikum" dijawab dengan "wa'alaikumsalam" dan Zahra pun pergi dengan Taxi online yang dipesannya."Berhenti didepan, pak!" ucap Zahra, meminta sopir Taxi menurunkannya tepat didepan sebuah minimarket. Ia pun keluar dari Taxi itu, setelah menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.Seperti tak ada lelahnya, Zahra memutari tempat belanjaan itu dengan keranjang yang mulai penuh barang. "Masak sup daging sepertinya enak, kebetulan cuacanya lagi mendung. Semoga ibu dan mas Adit nanti suka" gumamnya sembari memilih daging merah, lalu dimasukkannya kedalam ke

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 60

    "papa boleh ketemu ibumu gak, dit?" tanya hermawan, merasa bersalah. Teringat masa lalu, kala itu pertengkaran antara dirinya dan ayu sarah terjadi. "pergi dari sini kau ayu, aku tidak sudi melihat mukamu lagi" teriak hermawan. dengan mata sembab, bahkan suaranya yang serak ayu sarah berucap "aku sudah berusaha jujur padamu mas, tapi kamu lebih memilih percaya pada orang lain. suatu saat, allah akan menunjukkan siapa yang berbuat jahat sebenarnya. dan ketika itu terjadi, kamu mungkin sudah tidak punya kesempatan untuk menyesal atau bahkan hanya untuk 2mendapat maaf dariku pun tidak!" "Boleh aja, tapi Adit harus tanya ibu dulu.lagian, katanya tadi papa mau kel Louar negeri. Gimana sih?'" jawab Aditya, membangunkan Hermawan dari lamunan. "Masih tengah malam perginya. Kalau ayu Sarah mau ketemu, masih ada waktu beberapa jam lagi. Papa tunggu kabarnya ya" ujar Hermawan, sebelum mereka menyudahi sambungan telponnya. Ceklekkk!! Seorang perempuan muda, membuka pintu kamar VVIP yang dite

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 59

    Kriiing..kriiing.. Ponsel Aditya terus - terusan menjerit, saat dirinya sedang di parkiran bersama ibunya. "Ibu masuk dulu ya! Adit mau angkat telpon sebentar" pinta Aditya pada ibunya. Ayu Sarah pun mengiyakan. "Ya, halo! Gimana sil?" Sapa Aditya , saat melihat nama Silvia yang muncul dilayar pintar miliknya. "Dit, gimana kabar papa kamu? Apa sudah baikan?" Suara Silvia serak, seperti orang sakit. "Sorry banget sil, hari ini gue juga belum ke rumah sakit. Jadi belum lihat perkembangan papa sama. Nanti ya, selesai praktek, gue jenguk papa. Gue update ke Lo ,oke?" Aditya mengerti, hubungan papanya dan Silvia pasti sedang mengalami masa sulit. Terbukti suara Silvia sampai serak, bisa jadi karena habis nangis. "Oke, dit! Makasih banyak ya" ucap gadis itu, lalu mematikan sambungan telponnya. "Siapa nak?" Tanya ayu Sarah, setelah Aditya masuk ke dalam mobil. "Oh, teman Adit Bu. Nanyain kabar papa, karena kebetulan papa lagi dirawat di rumah sakit" Aditya menjelaskan. Menatap lekat sa

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 58

    "kenapa kesini lagi? Mau marah - marah lagi?" Ketus Ine, saat mendapat kunjungan dari sang kakak. "Tentu saja tidak. Aku kesini, cuma mau minta maaf. Mungkin kemarin, aku terlalu emosi. Sudahlah kita lupakan saja masa lalu. Aku akan mencoba berubah. Akan ku awali dengan mencari pekerjaan. Dari dulu, aku selalu mengandalkan uang darimu. Maafin kakak ya.." Ine tersentuh mendengar ucapan Ndaru. Tapi, dia pun sangat tau karakter kakaknya. Kalau Ndaru memasang muka orang baik - baik, itu artinya dia sedang menginginkan sesuatu darinya. "Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Ine, coba mencari kebenaran dari yang ia pikirkan. "Emmm, aku mau minta biaya hidup selama mencari pekerjaan ne. Sekalian ini, perusahaan ini kamu tau kan? Aku bisa kan diterima, pakai jalur dalam?" Ndaru menyodorkan amplop coklat ala pelamar kerja, pada Ine. "Kak, bukannya gak mau kasih. Aku mana ada uang. Semua ATM dan kredit card aku, dibekuin sama Hermawan. Aku sekarang ini sudah jadi gembel kak. Apalagi bantuin kakak ca

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 8

    "Tante mau kan membujuk Aditya supaya segera menikahi aku. Kan kasihan Tan, dia kesepian dan terus meratapi istrinya yang sudah meninggal itu. Tante sih, dari dulu sudah ku bilang, jangan biarkan Aditya nikah sama cewek penyakitan itu. Sekarang kaya gini deh jadinya" Silvia mendesis bak ular hendak

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 7

    Tokk..tokk.."Zahra, apa boleh aku berpamitan dengan Arsya sebentar?" Dokter Adit berdiri didepan pintu kamar.Aku bingung harus bersikap. Harusnya kejadian semalam bisa ku hindari. Dokter Adit bahkan sudah berteriak untuk aku jangan masuk ke kamar mandi. Dia pasti sedang terkena obat atau sejenisn

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 6

    Setelah mereka dewasa, Wina tetap merasa kedua orang tuanya lebih mencintai Arya. Saat wisuda, kedua orang tuanya tidak bisa hadir karena alasan kerja. Ia bahkan harus minta tolong sopirnya untuk berpura - pura menjadi orang tuanya, dan membawakannya bucket bunga. Wina hidup berkecukupan namun hati

  • menyusui sang pewaris tahta   chapter 5

    Rasa panas menjalar dibagikan dadaku. Apakah ini efek Obat yang ku minum tadi. Sudah dua kali aku meminumnya, kurang satu kali. Rasanya dua gundukan didadsku mulai mengencang, seperti ada rasa lain. Coba ku periksa dan ku pijit pelan, ada setetes yang keluar dari sana."Oeeek..oeeekk.." Arsya menan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status