Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra kelabu, membentuk garis-garis emas di atas permukaan seprai putih yang berantakan. Zara melenguh pelan, merasakan kelopak matanya yang berat perlahan terbuka saat rasa hangat menyelimuti seluruh permukaan kulit punggungnya. Sepasang lengan kekar Arham masih melingkar kokoh di sekeliling pinggang rampingnya, mengunci tubuh wanita itu tanpa celah sedikit pun dalam dekapan dada bidang sang pria yang telanjang. Zara mencoba menggeser tubuhnya secara perlahan, berniat untuk segera turun dari ranjang demi menyiapkan air mandi hangat dan ramuan herbal untuk Ibu Lusi."Mau ke mana sepagi ini, Gina?" gumam Arham dengan suara bariton yang teramat serak khas orang baru terbangun dari tidur, mempererat kuncian lengannya pada perut Zara."Lepaskan dulu, Arham. Aku harus mandi dan turun ke dapur, pelayan pasti sudah mulai membersihkan area paviliun timur," bisik Zara sembari memegang pergelangan tangan besar Arham yang menempel erat
Baca selengkapnya