Arjuna menghentikan kudanya di jalan yang berkelok dan dikelilingi hutan lebat. Daun-daun kering beterbangan tertiup angin dan jatuh menutupi tanah yang dilewati. Di depan mereka, lima sosok berdiri tegak, rambut panjangnya dipilin rapi mengikuti gaya pendekar dari seberang samudra. Kehadiran mereka menimbulkan hawa yang menekan, seolah udara di sekitar menjadi lebih berat. “Jadi kabar yang tersiar benar,” kata pendekar jangkung dengan kumis yang menjuntai panjang. Kuku jari tangannya memanjang dan mengeras bagai cakar besi. Wajahnya masih layak disebut manusia—ketimbang congcorang, sorot matanya menyimpan kesombongan, sungguh menyebalkan. “Resi Kamandalu sudah menyerahkan jabatan ketua rimba persilatan kepada muridnya.” Pendekar di sebelahnya yang berjenggot panjang bak rambut jagung menimpali dengan geram, “Resi Kamandalu terlalu merendahkan kita. Sudah menjadi tradisi di dunia persilatan, jika memilih pemimpin baru, harus diadakan kompetisi yang adil. Siapa yang paling unggul, d
Baca selengkapnya