Arjuna menarik tali kendali, kuda tunggangannya melambat hingga berjalan santai. Di belakangnya, kereta bersama tiga ekor kuda yang mengiringinya terlihat cukup jauh, terhambat oleh jalan yang berkelok dan permukaannya yang tidak rata. Matahari sudah naik sepenggalahan, namun tidak membawa banyak cahaya karena di sepanjang jalan itu dahan-dahan pohon rapat saling bersilangan, membentuk atap alami yang menutupi langit. Sinar matahari hanya mampu menciptakan titik-titik cahaya di atas tanah berkerikil. Di samping Arjuna, Kong berkuda dengan waspada, matanya meneliti setiap rumpun dan dahan pohon yang menjorok ke jalan. Ia mengingatkan dengan bahasa isyarat bahwa di daerah remang-remang begini, musuh bisa bersembunyi tanpa terlihat. Panah bisa melesat dari atas sebelum mereka sempat bereaksi. “Benar," ujar Arjuna. "Jalan menuju Kampung Pawon terkenal rawan. Wirasena bercerita tadi bahwa kawasan hutan ini menjadi tempat persembunyian kawanan rampok yang sering menyerang dan menghila
Baca selengkapnya