"Sepertinya Kakek tidak pulang malam ini." Larasati mendesah kecewa. Matanya menatap buram ke pintu pagar. Malam sudah larut. Lampu minyak kelapa di sekeliling pendopo mulai padam. Suasana sunyi sebentar. Kemudian terdengar suara langkah kaki kuda disertai dentang ringan peralatan. Resi Kamandalu muncul di pintu pagar dengan berjalan kaki. Di punggungnya tergantung bungkusan besar yang terbuat dari anyaman daun pandan, sedangkan di sampingnya berjalan dua ekor kuda yang membawa muatan melimpah. Isinya berbagai bahan pokok: beras, garam, gula, rempah-rempah, hingga pakaian dan peralatan dapur sederhana. Bajang segera mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Ia membantu menurunkan buntalan dari pelana kuda sambil menyindir, "Kakek habis menjarah toko kelontong ya? Bawa pulang sebanyak ini. Nah, ini kuda buat apa diajak pulang? Binatang ini banyak di padang rumput, tinggal pilih." Kuda itu tampak istimewa, berbulu hitam mengkilap, perawakan gagah, tinggi, dan berotot terlatih. Bu
Baca selengkapnya