"Lepaskan saya, Tuan Rey! Jangan bermain-main!" seru Marlina panik, meronta hebat dalam kurungan tangan kekar sang CEO di atas sofa ruang tamu. "Bermain-main?" gumam Rey rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu menggoda. "Wajahmu memerah, Marlina, dan jantungmu berdegup sangat kencang. Kau yakin aku sedang bermain-main?" "Tentu saja! Cepat lepaskan tangan Anda atau saya akan berteriak!" ancam Marlina, terus memutar tubuhnya mati-matian untuk melepaskan diri dari dekapan berat pria itu. "Teriak saja, tidak ada yang akan mendengarkan di tengah badai malam ini," balas Rey santai, semakin merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah tersisa. Posisi itu benar-benar intim, penuh bahaya, dan menguji batas kewarasan mereka berdua hingga ke titik nadir. Marlina yang sudah kehabisan akal, kesal, sekaligus panik setengah mati melihat seringai menyebalkan di wajah atasannya, akhirnya memilih jalan terakhir. Tanpa pikir panjang, saat wajah Rey berada tepat di
อ่านเพิ่มเติม