"S-saya hanya tidak mau menjadi bahan gosip para karyawan, Tuan Rey," sahut Marlina Navasya terbata-bata, mencoba melepaskan cengkeraman halus namun kuat jemari pria itu dari dagunya. Rey Aldebaran tidak bergeming sedikit pun. Tatapan matanya yang pekat justru semakin menajam, mengunci sepasang bola mata bulat milik sekretarisnya tanpa ampun. "Jangan berbohong padaku, Marlina," desis Rey rendah, suara baritonnya begitu dingin dan intimidatif. "Kau tahu betul aku tidak akan pernah percaya dengan alasan sedangkal itu." Marlina menghembuskan napas panjang. Merasa tak punya jalan keluar lagi, wanita bertubuh mungil itu akhirnya memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap langsung ke dalam manik mata sang CEO yang terlalu dominan. "Saya... saya hanya takut, " cicit Marlina pelan, nada suaranya berubah lirih dan dipenuhi kerapuhan yang teramat nyata. "Takut pada apa?" tuntut Rey kaku. "Saya takut dijadikan bahan olok-olok oleh orang-orang," aku Marlina jujur, matanya mulai berkaca
Baca selengkapnya