"Baiklah, Pak Ryan. Kami akan nunggu kabar baik dari Bapak," kata Anita saat berpamitan.Aku tidak bisa menahan rasa kesal ketika melihat Ryan bahkan tidak melirik ke arahku. Dia langsung berjalan keluar dari kantor, sementara aku mengikutinya dengan tatapan jengkel."Tenang saja. Tatapanmu tadi seperti ingin membunuhnya," kata Ryan sambil tertawa, lalu dia menghampiriku.Aku menatapnya dengan kesal. "Itu karena kamu memang playboy. Sama sekali nggak profesional. Aku tahu tujuan wanita itu bukan urusan bisnis. Aku bisa lihat dari cara dia mandang kamu. Kamu sudah lama kenal dia?" tanyaku dengan serius.Sekarang jelas sekali kalau aku sedang cemburu."Hm, istriku cemburu rupanya. Tenang saja, aku akan mastikan wanita itu nggak pernah menginjakkan kaki di kantor ini lagi. Untuk proposalnya, aku akan langsung membuangnya," jawabnya sebelum memelukku."Tunggu sebentar, bukankah itu akan memengaruhi bisnismu? Maksudku, mungkin saja ...." Aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatku ketik
Baca selengkapnya