"Aku sayang kamu, Nelly. Kamu harus sembuh ya. Ibu dan Ayah masih membutuhkanmu, jadi bertahanlah," kataku.Aku melihatnya menggeleng. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya. "Aku nggak bisa .... Tolong sampaikan pada Ryan ... aku minta maaf," bisiknya sambil berjuang untuk bernapas.Makin lama kami berbicara, makin sulit baginya untuk mengucapkan kata-kata.Aku menangis makin keras."Terima kasih .... Aku sayang kamu, Kak. Sekarang kamu yang harus jaga Ayah dan Ibu ...," katanya sambil memejamkan mata.Aku merasakan genggamannya pada tanganku mulai melemah. Aku tertegun. Terlebih saat aku melihat garis datar pada monitor, bukti bahwa jantung Nelly telah berhenti berdetak."Nelly, jangan! Nelly!" teriakku.Aku menepuk-nepuk wajahnya, berharap dia membuka matanya dan tersenyum lagi. Namun, itu tidak terjadi. Semuanya sudah terlambat.Dia sudah tidak bernapas lagi. Dia telah pergi.Beberapa saat kemudian, aku mendengar para tenaga medis masuk ke ruang ICU. Aku mundur ke samping sambil
Baca selengkapnya