Cahaya matahari sore menembus celah tirai ruang kerjaku, mencetak garis-garis bayangan panjang di atas lantai kayu.Aku baru saja duduk menghadap meja, bersiap membuka kembali draf naskahku, ketika ponsel di sebelah mouse bergetar hebat.Nama Raina menyala di layar.Aku menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telingaku. Suara deru kendaraan bermotor langsung menyergap gendang telingaku, menandakan dia sedang berada di luar ruangan. Di trotoar jalan.Namun, bukan kebisingan latar belakang itu yang menarik perhatianku. Melainkan suara tarikan napasnya."Sesi konselingku baru saja selesai, Al."Suara Raina terdengar sangat berbeda. Tidak ada nada tajam seorang eksekutor. Tidak ada urgensi yang memburu.Suaranya sarat akan kelelahan yang ekstrem, namun di saat yang sama... terdengar sangat ringan. Seperti seseorang yang baru saja memuntahkan racun yang mengendap bertahun-tahun di dalam lambungnya.Sebuah katarsis."Kamu terdengar lelah, Rain," balasku pelan."Aku merasa se
Last Updated : 2026-06-18 Read more