Malam di penthouse selalu memiliki kesunyian yang berbeda.Aku duduk di sofa panjang, menatap pantulan diriku di dinding kaca yang menghadap ke kerlip lampu Jakarta. Arjuna sedang di ruang kerjanya, mungkin masih berkutat dengan silabus atau email dari dekanat. Di tanganku, ponsel bergetar pelan.Nama Raina muncul di layar. Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda tipis itu ke telingaku."Alea," suara Raina terdengar di seberang sana. Ada nada yang aneh, seolah dia baru saja melihat hantu, tapi hantu itu tidak berniat menakutinya."Ya, Rain? Kamu oke?" tanyaku pelan, merapatkan bantal ke pelukanku."Aku baru saja keluar dari sesi gabungan di lembaga sertifikasi," dia menjeda kalimatnya. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tidak beraturan, bercampur dengan suara bising jalanan di latar belakang."Sesuatu terjadi?""Aku melihat daftar hadir di meja registrasi pagi tadi," Raina berbisik. "Ada satu nama yang dicetak dengan tinta hitam tebal di sana. Wibisana, Raka."Aku terdiam. Ja
Last Updated : 2026-06-22 Read more