“Pernah,” jawab Kylar singkat, jujur, dan entah kenapa, itu justru terdengar lebih dalam daripada penjelasan panjang apa pun.Jeda yang mengikuti terasa lebih lama dari seharusnya.Ryn tidak bergerak. Tidak menarik tangannya. Tidak berkata apa-apa lagi. Hanya menatap Kylar, mencoba membaca sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar dia lihat.Lalu perlahan, Kylar menunduk lagi. Jarak di antara mereka kembali menghilang. Napas mereka bertemu sekali lagi, tapi kali ini, bukan sekadar panas yang terasa.“Sekarang …” bisiknya pelan, nyaris menempel di bibir Ryn, “aku milih buat lanjut.”Tangannya bergeser dari tangan Ryn ke pinggangnya, menarik tubuh wanita itu lebih dekat.“Dan kamu, bukan cuma bagian dari alasan itu. Kamu alasan yang paling kuat,” lanjutnya, tanpa jeda.Napas Ryn tercekat. Air matanya jatuh tanpa izin. Bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang terlalu penuh untuk ditahan.“Hei …” Kylar langsung mengangkat tangannya, mengusap pipi Ryn yang basah. Nada suaranya b
더 보기