Samudera masih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Seraphine, menghirup dalam-dalam wangi istrinya sambil mencoba menormalkan kembali sistem pernapasannya. Berat tubuh pria itu sepenuhnya menumpu pada kasur di sisi tubuh Seraphine, tangannya melingkar posesif di pinggang ramping wanita itu. Satu menit berlalu. Dua menit. Kesadaran Seraphine yang tadinya terlempar entah ke galaksi mana, kini perlahan-lahan kembali turun ke bumi. Matanya yang sedari tadi terpejam erat, perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tubuhnya masih terasa ringan dan melayang, namun otaknya mulai bekerja merangkai kembali memori tentang apa yang baru saja terjadi selama satu jam terakhir. Dan seketika itu juga, seolah disiram seember air es, kewarasan Seraphine kembali sepenuhnya. Oh, Tuhan. Rekaman adegan di mana ia mengemis, merengek, berteriak frustrasi, hingga kehilangan kendali sepenuhnya berputar bak kaset rusak di kepalanya. “Hancurin aku, Sam…” “Iya, Sam… hamilin aku
Read more