"Mama, jika hari ini aku berhasil mendaratkan satu saja pukulan di wajah cantikmu, Papa harus mengizinkanku membawa mobil sport baru itu ke sekolah besok!" seru Camelia, suaranya yang melengking jernih memecah keheningan ruang latihan taktis bawah tanah kediaman Mahesa. Marlina, yang berdiri dengan posisi kuda-kuda sempurna di tengah matras hitam, hanya mengulas senyuman tipis yang teramat meremehkan. "Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang bahkan belum bisa menyentuh ujung helai rambutku, Camelia Andreas." "Lihat saja nanti, Ma!" Camelia yang kini telah genap berusia tujuh belas tahun melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Gadis itu tumbuh menjadi sosok yang luar biasa cantik, dengan mata elang yang diwarisi dari ayahnya, namun memiliki ketangkasan fisik yang sangat mematikan hasil didikan keras sang kakek, David Andreas, selama bertahun-tahun. Ia pandai bertarung, ahli menggunakan pisau taktis, dan seorang penembak jitu yang disegani di lingkup internal pengawal.
Read more