Suara dentingan palu yang menghantam landasan besi menggema dari pagi hingga senja, memantul di dinding-dinding tebing kapur Lembah Mandala. Di bawah atap rumbia yang lebar, tiga buah tungku perapian raksasa menyala dengan lidah api yang menjilat-jilat langit-langit. Asap hitam yang mengepul ke angkasa bukanlah asap dari pembakaran desa atau mayat yang hangus, melainkan asap dari peleburan masa lalu yang kelam. Di sinilah, di tengah bara yang membara, sejarah Nusantara sedang ditempa ulang oleh tangan-tangan yang dahulu saling memenggal.Lempengan-lempengan perunggu tebal yang kemarin masih membalut tubuh Gajah Agung Cakra Bima kini dipanaskan hingga mencair. Cairan logam yang berpijar kemerahan itu dituangkan ke dalam cetakan tanah liat yang telah dibentuk oleh para pandai besi desa. Besi dan perunggu yang dahulu dirancangkan untuk menjadi ujung tombak, mata panah, dan baju zirah rantai, kini berubah wujud menjadi mata cangkul yang kokoh, sabit untuk memanen padi, paku-pak
Baca selengkapnya