Kabut pagi di Lembah Mandala perlahan terangkat, menyingkapkan embun yang berkilau di ujung-ujung daun bambu petung. Di dalam Balai Agung Tanpa Atap, suasana terasa jauh lebih berat daripada hawa lembap yang menyelimuti lembah. Ratusan tikar pandan telah digelar melingkar, tanpa pangkal, tanpa ujung, dan tanpa tempat duduk yang ditinggikan. Di atas tikar-tikar itu, duduklah para penguasa wilayah yang tersisa di Nusantara. Pagi ini, mereka bukanlah raja-raja yang mengenakan mahkota emas atau adipati yang berjubah sutra. Sesuai titah Sang Nitiswari, mereka telah menanggalkan segala atribut kekuasaan di tepi telaga. Mereka kini hanya mengenakan kain hemp kasar dan lurik tenun desa, duduk bersila dengan kaki yang telanjang menyentuh tanah. Ketelanjangan simbolis ini membuat banyak dari mereka merasa gelisah. Adipati Kertabumi, yang biasanya terbiasa memegang cawan perak berisi arak, kini canggung memegang cawan kayu berisi air mata air. Di sebelahnya duduk Pangeran Mandaraka,
Ler mais