Pertanyaan yang meluncur dari bibir Ariyan meremukkan seluruh ketenangan yang mati-matian Zivanya pertahankan sejak tadi. Wajah Zivanya memucat sempurna dalam hitungan detik. Jantungnya berdentang begitu keras, memukul dinding dadanya dengan begitu liar. Zivanya refleks memundurkan tubuh, mencoba menjauhkan diri dari Ariyan yang mengintimidasi dengan pertanyaannya. Namun, punggungnya membentur lemari, mengunci pergerakannya tetap disitu."Kenapa kamu tiba-tiba nanya itu?" suara Zivanya keluar dengan amat lirih, bergetar samar di ujung kalimatnya. Ia meremas tali kantong, berusaha keras menyembunyikan getaran hebat di kedua tangannya.Ariyan tidak serta merta menjawab. Pria itu menumpu sebelah tangannya di lemari, tepat di sebelah Zivanya, mengurung wanita itu dalam jarak yang luar biasa intim. Sepasang matanya menatap lekat-lekat kedua netra Zivanya yang kini bergerak gelisah, menyiratkan kepanikan yang sulit untuk disembunyikan."Karena aku sudah menghitungnya, Ziva," bisik Ariy
Read more