‘Apa aku terlalu kasar menyebut Arabella penyakitan? Apa aku harus minta maaf pada Ariyan?’ Pikiran demi pikiran di kepalanya membuat Zivanya susah tidur malam itu. Ia sama sekali tidak bermaksud menghina Arabella karena ia juga punya anak kecil. Seemosinya Zivanya, baru kali ini kelepasan bicara. Ariyanlah yang memicunya untuk berkata kasar. Zivanya benar-benar takut Kaisar melihat Ariyan. Bagi Zivanya, kebahagiaan anaknya adalah hal yang sangat ia jaga. Sampai di kantor pagi ini Zivanya masih sedikit kepikiran. Ia masih menimbang-nimbang untuk meminta maaf pada Ariyan soal Arabella. Saat mencoba fokus membalas email, pintu ruang kerjanya diketuk dengan tergesa-gesa. Belum sempat ia menyahut, pintu sudah dibuka dari luar. Rike melangkah masuk membawa map tebal. "Ibu Ziva! Duh, syukurlah Ibu ada di ruangan," sapa Rike sembari melangkah cepat mendekati meja kerja Zivanya. Zivanya menghentikan ketikannya, lalu bertanya, "Ada apa, Ke?” "Bu, Bapak mana ya? Ibu tahu Pak Ariyan
Read more